Sudah bukan rahasia lagi bahwa politik uang berluasa dalam ajang pemilihan kepala daerah di Indonesia. Dalam kampanye di Jawa Tengah, ibu Megawati Soekarnoputri khawatir bahwa politik uang bisa juga terjadi dalam pemilihan kepala daerah di Jawa Tengah. Kekhawatiran ibu Mega bukan tidak beralasan, karena politik uang sudah terjadi dalam pemilihan kepala daerah di Bali dengan iming-iming tiga ratus ribu rupiah bagi setiap pemilih.

Sebagai warga Nagekeo kita juga mungkin sama khawatirnya seperti Ibu Mega, kalau politik uang juga ada dalam pemilihan kepala daerah di Nagekeo.

Rakyat yang hidupnya pas-pasan pasti akan tergiur dengan lembaran Rp50.000 atau Rp100.000. Waktu pulang kampung Oktober lalu, saya juga mendengar suara-suara: “Tau Mema Ta Datu Nde Nia” karena menurut mereka, belum tentu dalam masa 5 tahun kedepan ada bupati yang mau mengunjungi kampung mereka. Hehe ini perlu dicatat oleh para calon bupati dan wakil bupati sebagai peringatan. Jangan datang kepada rakyat karena anda membutuhkan suaranya, setelah menang lalu melupakan jasa orang kampung yang telah mengangkat anda duduk di kursi No 1 Nagekeo.

Kepada warga Nagekeo yang mau menerima uang dari calon atau dari partai politik, saya akan meniru perkataan Ibu Mega: Dimana kehormatan dan harga dirimu?

Ingatlah…bahwa jika anda menerima uang, berarti hak suara anda telah dibeli dengan uang. Jadi di kemudian hari anda juga jangan mempersalahkan bupati kepala daerahmu, kalau terjadi korupsi yang merugikan semua rakyat, karena bupati juga tentu saja tidak mau rugi hehe. Dia harus mencari kembali uang yang telah dia hamburkan kepada masyarakat dalam masa kampanye.

Harapan

Hentikan politik uang, berlombalah dengan jujur jika cabup dan wacabup benar-benar mau mengabdi kepada rakyat Nagekeo.

Saya mohon maaf kalau catatan saya menyinggung perasaan. “Sai ta ka kolo pasti rasa lo”

 

Oleh David Wuda Wea