Direstui Pastor & Pendeta Dobe Ngole

JAKARTA (eNBe Indonesia) – Presiden Joko Widodo (Jokowi) selalu punya hubungan istimewa dengan wartawan, apalagi wartawan yang meliput di istana presiden. Presiden tak canggung beri dukungan jika insan-insan jurnalis itu mulai jatuh cinta satu sama lain.

Cinlok (cinta lokasi) berlaku juga bagi komunitas pemburu berita. Konon Jokowi maklum dan tertawa hingga air mata melele saat memergoki dua insan wartawan istana berkencan. “Ooooh, pantas,” kata beliau sambil mengangguk-anggukkan kepala.

Bagi Jokowi, wartawan itu adalah insan media yang sangat penting peranannya karena membantu secara cepat dan efektif mewartakan (publikasi) setiap program kerja dan kegiatan pemerintah, termasuk Presiden dan Wakil Presiden.

foto Hildegunda O Dhera

Pernikahan insan wartawan, terutama yang didukung dan disahkan presiden, bisa dipahami sebagian jurnalis sebagai sebuah dukungan dan doa oleh lebih dari 260 juta rakyat Indonesia (Jokowi phobia?).

Jokowi dan keluarga (Ibu Iriana & anak-anak, cucu-cucu), keluarga istana presiden tidak absen memberi ucapan selamat berbahagia bagi setiap insan wartawan yang menikah, meski hanya hadir dalam karangan bunga.

Kemarin Sabtu (15/6), Jokowi hadir dalam resepsi pernikahan Yohanes Reza Pradipta Gero & Katarina Tily Rheabela, keduanya bekerja di Kompas TV. Reza adalah putra sulung dari Pieter P Gero, salah satu elit (redaksi eksekutif) di Harian Umum Kompas, asal Nagekeo, NTT.

John Billy, master of ceremony (MC) kondang dari NTT di Jakarta, mengatakan kepada Redaksi bahwa konsep resepsi pernikahan Reza & Bela begitu spesial karena ada perpaduan antara acara profan dan ritual adat (budaya) Nagekeo.

“Tadi di Gereja pastor sudah memberi sakramen pernikahan, di acara resepsi ini nanti ada peresmian secara adat oleh pendeta (pastor adat-red), pak Os (Yosef) Juwa Dobe Ngole,” ujarnya sebelum acara resepsi.

Reza dan Bela melangsungkan pernikahan suci di Gereja St. Yoseph Matraman, Jakarta Timur, sementara acara resepsi pernikahan digelar di gedung Puri Ardhya Garini, Halim Perdanakusuma, Jaktim.

foto Hildegunda O Dhera

Yosef Juwa Dobe Ngole selaku tokoh adat (bheto lewa tali nao) membuka palang pintu (kai bata) bagi Bela (berlatar belakang suku Melayu), agar Bela bisa betah dan kerasan tinggal dan hidup bersama keluarga besar Gero (Nagekeo). Atribut dalam ritual ini adalah anak ayam baru menetas dan butir kelapa kecil (boko nio).

Ritual berikutnya, pemberian pedang tombak dari keluarga mempelai pria kepada keluarga mempelai wanita, serta pemberian tikar dan bantal dari keluarga mempelai wanita kepada keluarga pria (so topo seli bhuja ti’i te’e pati lani).

Perlengkapan ritual ini seperti pedang dan tombak, tempat sirih pinang, pisau kecil, mas kawin/pendamping (pria). Untuk wanita, kain adat (agi bay, hoba nage), tikar dan bantal.

Makna dari acara ini adalah mempelai wanita yang nantinya bertindak sebagai ibu rumah tangga berwenang dan berkuasa penuh atas rumah suaminya, untuk mengatur segala sesuatu yang berkaitan dengan rumah tangga maupun urusan di keluarga suaminya, sedangkan tikar bantal merupakan lambang bahwa kedua suami istri telah sah hidup bersama.

Setelah penyerahan barang-barang adat, salah satu wakil keluarga wanita memerciki air putih di dalam tempurung, sebagai lambang mendinginkan suasana agar semuanya berjalan lancar aman dan damai.

Ibu dari Bela atau yang mewakili kemudian menyematkan kain ke bahu atau kepala Bela (ritual ubu leza) sebagai lambang melepas pergi anak tersayang untuk mulai berumah tangga, disertai doa dan berkat.

foto Prima Mb Nuwa

Yosef Djuwa Dobe Ngole & Istri Nina Sibuea

Acara adat berikutnya, pemberian cendera mata kepada kedua mempelai oleh keluarga (sebha lebha), disusul nuka sao, pengantin diantar keluarga dan para kerabat serta sahabat menuju rumah tinggal pengantin pria. Setelah pengantin masuk rumah (nai zeta tolo), pelaku ritual (Yosef Juwa Dobe Ngole) menyirami air (wei ae) di balik pintu. Yang terakhir, Reza dan Bela lakukan ritual ghili pu’u dudhe (mengelilingi dapur dan tempat doa) sebanyak tujuh kali.

Seperti alicia keys dalam lagunya (If I Ain’t Got You), baik Reza maupun Bella hendak mengatakan kepada kita semua, segala sesuatu menjadi tidak berarti jika saya tidak memilikimu, untuk berbagi dan saling menyayangi, kata MC kondang John Billy.

Bela pun menulis di laman facebook, hidup bukan tentang menunggu kapan badai berlalu, tetapi tentang belajar menari di saat hujan. (life is not about waiting for the storm to pass, it’s about learning to dance in the rain).

HAPPY WEDDING REZA & BELA !!