by

Islam Garis Tengah (washatiyah) Perangi Islam Garis Keras (radikal)

-Toleransi-255 views

JAKARTA (eNBe Indonesia) – Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwas Abbas menegaskan, semua penceramah Muslim maupun non-Muslim harus mematuhi kode etik saat menyampaikan ceramah agama. Dia juga mengingatkan bahwa setiap dai atau pendakwah wajib menyampaikan ajaran yang benar dan tidak mengada-ada.

Abbas menegaskan, setiap penceramah harus memperhatikan rambu-rambu yang diatur dalam agama maupun negara. Ia juga menjelaskan tentang definisi Islam washatiyah yang dibuat MUI, paham Islam garis tengah.

Terdapat 10 karakter dasar dalam berdakwah menurut Islam washatiyah yakni tawasuth (mengambil jalan tengah), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran), i’tidal (lurus dan tegas), musawah (egaliter nondiskriminasi), syura (musyawarah), awlawiyah (mendahulukan yang prioritas), islah (reformasi), tahaddur (berkeadabaan), dan tathawur wal ibtikar (dinamis, kreatif, dan inovatif).

Abbas melanjutkan MUI memang terus menyosialisasikan Islam washatiyah sebagai upaya dalam mencegah penyebaran paham radikalisme di masyarakat. Menurut dia, Islam washatiyah adalah Islam garis tengah yang berisi ajaran Islam yang sebenar-benarnya dan dibawa langsung oleh Nabi Muhammad SAW.

MUI telah menyosialisasikan secara internasional konsep Islam washatiyah tersebut, salah satunya melalui Konferensi Tingkat Tinggi Ulama dan Cendekiawan Muslim Dunia yang digelar di Bogor pada tahun lalu.

Pertemuan itu bertujuan mempromosikan Islam moderat yang berkembang di Indonesia kepada dunia sekaligus mengusulkan kepada dunia agar Islam washatiyah dapat dipertimbangkan untuk menjadi solusi bagi krisis peradaban dunia dewasa ini. Sejak dua tahun lalu, MUI bekerja sama dengan Dewan Masjid Indonesia (DMI) untuk mencegah penyebaran paham radikal di masyarakat. (republika)

Comment

News Feed