by

Dinamika Golkar: Peran Jokowi?

-Politik-81 views

DEPOK (eNBe Indonesia) – Dalam pertemuan di Menteng, Jakarta akhir pekan lalu, Yorrys Raweyai, kepala deputi inteligen dan strategi partai Golkar, berpihak pada kelompok oposisi Airlangga Hartarto, meminta pergantian kepemimpinan Golkar pada Musyawarah Nasional (Munas).

Airlangga dinilai gagal mencapai target partai dalam perebutan kursi DPR di Senayan, meski Golkar masih pertahankan posisi kedua, partai dengan kursi terbanyak di DPR RI, setelah PDI-P. Golkar menargetkan 110 kursi dari 575 kursi di Senayan pada Pileg April lalu, tapi hanya bisa meraih 85 kursi. Pada pileg 2014, Golkar meraih 91 kursi.

Sebagai partai moderen, Golkar memberi kesempatan kepada siapa saja untuk menjadi ketua umum, karena partai ini ditentukan oleh akar rumput (grass root). Golkar tidak bergantung pada satu figur, tetap akar rumput.

Maka, menurut Yorrys, sejumlah nama potensial menjadi kandidat ketua umum Golkar seperti Bambang Soesatyo (anggota DPR RI), Agus Gumiwang Kartasasmita (Menteri Sosial), Zainuddin Amali (ketua komisi 2 DPR RI), dan Azis Syamsuddin (ketua komisi 3 DPR RI).

Ketua organisasi massa Golkar, Sabil Rahman, juga senada dengan Yorrys, sosok yang aktif terlibat dalam konflik internal Golkar antara Aburizal Bakrie dan Agung Laksono pada 2014. Ketika itu Yorrys bergabung dengan Agung Laksono dan beberapa tokoh Golkar lainnya membentuk tim penyelamatan partai Golkar, didukung oleh Jusuf Kalla yang juga mantan ketua Golkar.

Aburizal Bakrie memilih bergabung dengan koalisi merah putih (KMP) yang mendukung Prabowo Subianto, sementara Agung Laksono bergabung dengan koalisi Jokowi. Pada akhirnya kubu Aburizal dan Agung sepakat rekonsiliasi dan menggelar rapat pimpinan nasional (rapimnas) luar biasa pada Mei 2016, mengangkat Setya Novanto sebagai ketua umum Golkar.

Pada November 2017, Yorrys mendesak Novanto undur diri setelah KPK menangkapnya karena terjerat kasus suap, lalu Airlangga terpilih jadi ketua umum baru. Azis Samuel, salah satu politisi Golkar, juga meminta Airlangga tidak mencalonkan diri lagi karena gagal di pileg April lalu. Aziz adalah ketua tim pemenangan pemilu untuk wilayah timur Indonesia.

Airlangga tentu ingin terpilih lagi, sementara beberapa tokoh senior seperti Jusuf Kalla, Luhut Binsar Pandjaitan, dan Aburizal Bakrie masih punya peran penting. Demikian pula Presiden Jokowi. Jokowi tentu ingin sosok ketua umum Golkar yang bisa dipercaya dan loyal karena Jokowi inginkan stabilitas politik dan soliditas koalisi partai berkuasa.

Jokowi mungkin memberi 4-5 posisi di kabinet bagi Golkar, termasuk posisi ketua MPR. PKB juga mengharapkan posisi ketua MPR dan 10 posisi di kabinet.

Jokowi dan Golkar juga tak akan tolerir pada kader partai yang mengancam posisi Jokowi. Golkar telah memberi sanksi kepada Erwin Aksa, keponakan Jusuf Kalla, karena mendukung Prabowo-Sandi. Golkar juga akan memberi sanksi kepada Dorel Almir karena mendukung Prabowo-Sandi. Dorel pernah jadi caleg Golkar dapil Sumatera Barat pada pileg 2014.

Walau Golkar punya posisi tawar (bargain position) saat ini, Golkar tetap saja gagal mendukung Jokowi dalam pileg April lalu. Golkar hanya menang di 8 propinsi. Golkar kalah telak di Sulawesi Selatan, juga tak banyak membantu untuk wilayah Jawa Barat, Banten, Sumatera Barat, dan Aceh. (yosefardi.com)

Comment

News Feed