NAGEKEO (eNBe Indonesia) – Pemerintah Kabupaten Nagekeo membentuk gugus tugas revolusi mental, dengan tugas pokok tim ini membangun kesadaran dan memprakarsai berbagai kegiatan-kegiatan sosial untuk mewujudkan semangat Nagekeo Melayani, Nagekeo Tertib, Nagekeo Mandiri, Nagekeo Bersatu, dan Nagekeo Bersih.

Marcellino Epe, salah satu pegiat gugus tugas revolusi mental Nagekeo, mengatakan dalam rangka menindaklanjuti kegiatan Nagekeo Bersih, tim gugus tugas akan melakukan sosialisasi tentang pemilahan sampah plastik. “Tim akan turun ke beberapa wilayah dalam waktu dekat ini untuk sosialisasi tersebut,” ujarnya kepada Redaksi kemarin (3/7).

Martha Lamanepa‎, salah satu pegiat di gugus tugas revolusi mental Nagekeo, telah aktif menangani sampah bersama GeLiSA (Gerakan Liat Sampah Ambil), menuju Go Green & Clean Nagekeo, dalam dua tahun terakhir ini.

Marcellino Epe adalah Ketua Team Nagekeo Bersih dan dr Martha Lamanepa sebagai wakilnya, dibantu Ferry Meze (sekretaris). “Bersama kita menuju perubahan. Wujudkan semangat integritas, etos kerja dan gotong royong,” ujar Marcellino.

Pada Juni lalu, Prof. Paulus Wirutomo dan Team dari Kementrian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan menggelar diskusi revolusi mental di hotel Pepita Mbay, mengusung tema ‘Integritas, Etos Kerja, Gotong Royong’.

“Perlu ekstra motivasi untuk kegiatan-kegiatan aksi sosial seperti ini,” tulis Ferry Meze di laman facebook. “Perubahan itu dimulai dari hal kecil yang dilaksanakan terus menerus dengan rasa peduli, tulis Martha Lamanepa, penggagas Group Trash Hero Nagekeo.

Bupati Rote Ndao juga belum lama ini, terlihat pada video viralnya, menandaskan bahwa sampah menjadi isu penting di wilayahnya. Kepedulian pada kebersihan, menurutnya, adalah sebagian dari nilai-nilai anti korupsi.

Yohanes Lado, tokoh muda Nagekeo, juga mengajak masyarakat Nagekeo perang terhadap sampah plastik, untuk mewujudkan Nagekeo sebagai destinasi (wisata) impian.

Nagekeo sebagai daerah pariwisata, maka pemerintah, masyarakat terus gencar memerangi sampah agar bisa mewujudkan NAGEKEO BEBAS SAMPAH PLASTIK! Berbagai komunitas, institusi pemerintah, institusi pendidikan, NGO serta institusi negara bergandengan Tangan menggempur Sampah di berbagai titik di Nagekeo yang diduga berpengaruh pada kerusakan lingkungan dan gangguan kesehatan.

WWF-Indonesia mengingatkan sampah plastik membutuhkan waktu beratus-ratus tahun untuk dapat terurai. Membiarkannya terbuang ke laut tidak menjadi solusi bersihnya lingkungan.

Kenaikan volume sampah plastik berdasarkan data dari Solving Plastic Pollution Through Accountability menunjukkan emisi CO2 yang berasal dari siklus plastik diperkirakan akan meningkat sebesar 50% serta tambahan 104 juta metrik ton plastik akan berisiko mengontaminasi ekosistem kita pada tahun 2030.

Lebih dari 270 spesies tercatat telah terdampak langsung, sementara lebih dari 240 spesies ditemukan telah terkontaminasi oleh plastik. Kita bisa mengubah keadaan ini jika kita bersama dapat berkomitmen mengubah pola konsumsi dan produksi kita untuk lebih bertanggung jawab yaitu dengan mengurangi penggunaan plastik, styrofoam, dan sedotan sekali pakai.