NAGEKEO (eNBe Indonesia) – Dinas Pariwisata Pemerintah Daerah Nagekeo terus giat menggelar kegiatan-kegiatan budaya lokal, bagian dari program pelestarian budaya juga program pengembangan pariwisata.

“Dalam pelaksanaan kegiatan budaya dan festival, didukung langsung oleh pemerintahan Provinsi NTT (Dinas Pariwisata NTT), kita akan memperkenalkan kembali permainan-permainan rakyat yang mulai jarang diekspos,” ujar Silvester Teda Sada, S. Fil, Sekretaris Dinas Pariwisata Nagekeo kepada Redaksi siang ini.

Sebagai inisiator informasi publik, Silvester mengatakan panitia lokal telah menyediakan acara khusus dengan nama Festival Dhongi Koti Nataia, permainan gasing adat, sebuah ritual puncak dari Etu Nataia (Tinju Adat).

Tinju adat Nataia (Desa Olaia) akan digelar minggu ini (12-13 Juli). Pada 10 dan 11 Juli, ada ritual pembersihan gong gendang (Koma Moa Go Laba), dilanjutkan dengan wari (jemur).  Pagi hari, go laba diturunkan dari rumah adat. Kelapa diparut, lalu dijadikan bahan untuk membersihkan go laba. Setelah dibersihkan, go laba diletakkan dan dijemur (wari) di depan rumah adat. Ritual ini berlangsung sejak pagi hingga jelang siang.

Jelang malam, masyarakat adat setempat dipimpin oleh pelaku ritual, dengan gong gendang menuju tempat ritual, tidak jauh dari kampung. Setelah ritual, rombongan kembali ke rumah adat, sambil mendendangkan lagu dan syair adat yang disebut “soi melo”. Tiba di arena, soi melo berhenti lalu dilanjutkan dengan “etu pate” (tinju pembuka hanya sepasang anak laki-laki).

Pada hari berikutnya (11 Juli), digelar ritual etu pate (sejak pagi hingga jelang sore), atraksi tinju khusus untuk anak-anak, dengan tangan kosong (belum gunakan alat bertinju).

Pada tanggal 12 Juli, tinju hari pertama, digelar ritual Ja Kepo, mempersiapkan kepo (sarung) tinju dimulai dengan sesi tinju anak-anak lalu menyusul tinju dewasa (etu meze) pada sore hari. Pada malam hari digelar ritual menari tandak “ana ia” (Boka Loka), tandak khusus untuk anak-anak suku Nataia, dilanjutkan dengan teke (tandak) dari berbagai tempat/kampung yang turut hadir saat itu.

Sebut saja, teke sa labo, teke sa nage, fera Wolowe, fera Lape Ngegedhawe, teke nata toto, dan sebagainya. Masing-masing kelompok sudah bisa menari tandak (teke) dengan api unggun masing-masing. Teke ini berlangsung sepanjang malam hingga pagi hari.

Tinju hari kedua (13 Juli) khusus untuk orang dewasa (etu meze), ritual tinju (etu) yang seru karena melibatkan orang dewasa dari berbagai wilayah sekitar. Para jagoan tinju mulai dipertemukan oleh para mosa laki babho (promotor), diiringi gong gendang.

Di puncak ritual, setelah pagelaran tinju adat orang dewasa (etu meze), pelaku ritual Nataia menggelar ritual dhongi koti (permainan gasing adat), dimana gasing adat diturunkan dari rumah adat. Selanjutnya dibuka luas untuk atraksi permainan gasing yang melibatkan para jagoan gasing dari berbagai wilayah sekitar. Permainan Gasing adalah permainan rakyat kebanyakan. Khusus Nataia, ritual gasing adalah satu kesatuan dengan ritual etu.

“Sudah cukup lama (sejak tahun 1980-an), ritual ini hanya sekedar simbolik saja. Tahun ini, ritual dhongi koti diperkenalkan secara luas, dan dimainkan oleh khalayak, yang diundang khusus untuk bertarung “dhongi koti” di pelataran kampung Nataia, melibatkan orang dewasa dan kaum tua-tua. Beberapa kampung tetangga, telah mempersiapkan timnya untuk bertarung di arena, baik Etu (tinju adat) maupun Dhongi Koti (adu bermain gasing),” papar Silvester.

Tinju adat sendiri, pagelaran budaya populer di Nagekeo, digelar secara rutin oleh banyak kampung di Nagekeo. Laga lokal paling bergengsi ini dikenal dengan beberapa sebutan seperti etu, sudhu, sagi, dan ledheng.

Tinju adat Nagekeo menonjolkan ketangkasan bukan adu fisik. Tak seperti tinju moderen, dengan sarung tinju di kepalan tangan, tinju adat Nagekeo menggunakan pecahan botol yang dibungkus atau bara api. Tapi jangan takut, karena petinju yang berdarah-darah segera sembuh hanya dengan pengobatan magis. Tinju adat nagekeo memaksa bertarung untuk kewibawaan dan harga diri laki-laki.