oleh Rofin Selawolo

ENDE (eNBe Indonesia) – Universitas Flores (Uniflor) merayakan dies natalis ke-39 pada Jumat pekan lalu (19/7). Laurentius D. Gadi Djou, Ketua Yapertif (Yayasan Perguruan Tinggi Flores), mengatakan Uniflor tetap berjuang meningkatkan mutu pendidikan bagi generasi penerus bangsa dan gereja. “Sasaran kita adalah kaum menengah ke bawah, agar memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan perguruan tinggi.”

Didirikan tahun 1980, saat ini Uniflor memiliki tiga kampus dengan enam fakultas dan 14 program studi. Berada di kota Ende, kota pelajar dan kota sejarah (tempat Soekarno merenungkan butir-butir Pancasila), kampus ini memiliki visi, menjadi universitas unggul dan terpercaya sebagai mediator budaya.

Menyandang akreditasi B, kampus Uniflor masuk kelompok kampus kelas 2, artinya bagus dan unggul untuk beberapa kriteria. Akreditasi A diperuntukkan bagi kampus sangat unggul dan sangat bagus, sementara Akreditasi C adalah kampus yang belum mencapai standar unggul.

Dengan fokus pada mahasiswa dari masyarakat menengah ke bawah, maka Uniflor akan sulit mempertahankan, apalagi meningkatkan, profil (keadaan) mahasiswanya. Dukungan finansial yang kurang memadai dari keluarga menengah ke bawah berakibat pada kegiatan belajar mahasiswa, maka maklum jika banyak mahasiswa yang berhenti di tengah jalan.

Jumlah dosen atau tenaga pendidik masih jadi kendala bagi sebagian besar kampus kelas 2, apalagi sekarang ini banyak bermunculan kampus baru di mana-mana, termasuk di Flores dan NTT. Kampus baru, mesti belum menyandang akreditasi, justru lebih agresif menarik minat mahasiswa, tentu dengan banyak insentif dan kemudahan yang ditawarkan, terutama biaya.

Kapasitas dan kualitas tenaga dosen atau tenaga pendidik akan menentukan seberapa unggul produk kurikulum dari setiap program pendidikan, berikut koordinasi pelaksanaan pendidikan. Uniflor tampak cukup siap untuk aspek sarana dan prasarana pendidikan, juga kepegawaian, keuangan, dan rumah tangga.

Tapi itu tidak cukup untuk membangun citra sebagai good university (kampus yang bagus dan bermutu), jika Uniflor belum memenuhi seluruh kriteria unggul untuk kampus kelas 2 (Akreditasi B) itu. Uniflor mesti komit memenuhi seluruh kriteria unggul tersebut, jika tidak maka Uniflor dianggap gagal hadir sebagai sumber daya manusia melalui transfer of value and knowledge (transfer nilai dan pengetahuan).

“Satukan langkah, bulatkan tekad menuju Universitas Flores bermutu,” tulis Emmi Gadi Djou di laman facebook. Mathias Djawa, pemerhati pendidikan di Flores, juga berharap Universitas Flores dikembangkan menjadi universitas bertaraf Nasional maupun International, karena sumber daya (kecerdasan) orang Flores di atas rata-rata.

Pemerintah Daerah (Pemda) di Flores, juga NTT, harus memberi perhatian lebih bagi pendidikan tinggi swasta, karena sekitar 70% pemuda usia emas Indonesia saat ini menempuh pendidikan di swasta.

Sebagai mediator budaya, Uniflor diharapkan tetap mempertahankan budaya positif di kampus, membentuk dan mendidik mahasiwa menjadi pribadi yang terbuka dan jujur, tidak merekayasa mutu kampus dan kecerdasan mahasiswa. Jangan sampai budaya nyontek justru muncul di kampus, padahal sekolah-sekolah di Flores dan NTT menjunjung tinggi kejujuran siswa.