Oleh Antonius Buu (Pemandu Wisata Indonesia)

Saya agak kaget ketika mendengar bahwa Bupati Nagekeo (Yohanes Don Bosco Do) membuka dan menutup acara pelatihan pemandu wisata alam yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Nagekeo yang dilaksanakan dari tanggal 28 hingga 31 Agustus 2019. Pelatihan ini adalah pelatihan yang diselenggarakan pemerintah yang pertama yang saya ikuti.

Saat penutupan pelatihan, saya dan Pak Wigbertus didaulat oleh Bapak Silvester Teda Sada untuk berbicara mewakili peserta pelatihan. Saya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menyampaikan beberapa hal yang menurut saya penting untuk memajukan pariwisata Nagekeo tercinta.

Dengan waktu yang diberikan relatif singkat (3 menit) saya memulai dengan mengapresiasi Dinas Pariwisata Nagekeo dan kedua trainer kami. Saya sudah pernah mengikuti beberapa pelatihan kepramuwisataan yang diselenggarakan di beberapa kota besar bahkan di luar negeri dan materi yang kami dapatkan di kota kecil Mbay tidak jauh beda. Para peserta harus bersyukur bahwa pelatihan di tingkat kabupaten ini setingkat dengan pelatihan yang bertaraf internasional. Saya juga mengapresiasi Pemda Nagekeo yang telah mendata objek-objek wisata di Nagekeo yang ternyata sangat banyak. Walau saya sendiri adalah warga Nagekeo dan sudah bergerak dibidang pariwisata cukup lama, saya tidak tahu bahwa di Nagekeo ada banyak objek wisata.

Selanjutnya saya mengapresiasi anak-anak muda Nagekeo yang penuh semangat mengikuti pelatihan ini. Di tangan anak muda – anak muda inilah masa depan Nagekeo berada. Saya pun teringat pidato Bung Karno. ‘Berikan saya 100 orang tua, maka saya dan mereka akan memindahkan gunung Semeru. Berikan saya 10 anak muda, maka saya dan mereka akan memindahkan gunung Semeru.

Lalu saya meminta kepada Bapak bupati agar membangun infrastruktur yang memadai di Nagekeo karena saya melihat infrastruktur di Nagekeo masih jauh dari memadai. Bagi saya, rakyat tidak boleh diberi ikan terus-menerus karena itu akan membuat mereka malas. Mereka harus diberi mata kail. Dengan mata kail itu mereka harus bisa menciptakan jala dan pukat bahkan pukat harimau. Kalau sudah ada infrastruktur yang memadahi tapi mereka masih lapar maka rakyat yang seperti itu lebih baik mati saja.

Selanjutnya saya meminta agar masyarakat dan Pemda Nagekeo tidak boleh anti terhadap investor. Karena investor akan membawa perubahan. Kemajuan adalah sebuah kata yang merdu dan perubahanlah yang menggerakkan.

Kita harus menerima investor yang merupakan agen perubahan dangan tangan terbuka. Bukankah Bapak Presiden kita Joko Widodo menginginkan agar pemerintah di semua tingkat mempermudah jalan bagi setiap investor?

Bupati Yoh Don Bosco Do & Ibu

Dan yang terakhir saya berbicara mengenai aturan untuk melindungi setiap individu dalam hal ini pelaku dan penggiat pariwisata agar mereka tidak menjadi penonton di tanah leluhur mereka sendiri.

Dalam sambutan penutup Bapak Bupati Nagekeo menyebut bahwa peserta pelatihan yang kebanyakan anak muda adalah koppasus. Sebuah sebutan yangg boleh saya bilang sangat mentereng. Ini adalah indikasi bahwa Bupati Nagekeo menempatkan anak muda sebagai pasukan khusus untuk membawa perubahan. Anak muda adalah agen perubahan. Dalam kesempatan itu juga Bapak Bupati mengatakan, ‘Bung Anton, nanti jam 4 saya akan membuka festival daging domba di Weworowet. Kalau ada waktu ikut.’

Bagi saya ini adalah undangan. Jadi saya harus ikut. Maka sore itu, setelah pelatihan saya menuju tempat festival. Festival daging domba akan diselenggarakan pada bulan Oktober tapi dilaunching hari itu. Tempat penyelenggaraan festival berada di kaki bukit Weworowet yang tandus tak berpenghuni. Ketika tiba di tempat acara saya agak heran karena jumlah orang yang hadir sangat sedikit. Mana mungkin Bupati akan datang melaunching sebuah acara di padang tandus tak berpenghuni dan yang dihadiri hanya sedikit orang. Setelah menunggu beberapa saat, Bupati pun datang.

Untuk kedua kalinya dalam satu hari saya heran dengan Bupati Nagekeo. Pertama ketika beliau menutup acara pelatihan pemandu wisata alam yang diselenggarakan Dinas Pariwisata Kabupaten Nagekeo. Ini adalah acara kecil yang hanya dihadiri 50 orang. Mengapa Bupati repot-repot datang menutup? Lalu di sore harinya beliau datang melaunching acara festival daging domba di kaki bukit Weworowet yang tandus dan tidak berpenghuni dan dihadiri mungkin hanya sekitar 100an orang.

Dalam sambutan peluncuran festival daging domba beliau mengatakan bahwa pemerintah daerah membuka kesempatan seluas-luasnya bagi anak muda untuk berkreativitas. Penyelenggaraan festival daging domba ini memang dilaksanakan oleh anak muda Nggolonio.

Oh….ternyata inilah jawabannya. Kreativitas anak muda. Bupati menyadari penuh bahwa bersama anak muda dia bisa menyulap bukit Weworowet dan sekitarnya yang tandus menjadi tempat unik yang bisa memberikan kehidupan bagi orang sekitarnya. Bupati sedang berusaha agar bukit Weworowet yang adalah NOTHING menjadi SOMETHING bahkan SOMETHING SPECIAL. Rasanya tidak sia-sia kami 50 orang mendaki bukit Weworowet di bawah teriknya sinar matahari di siang bolong. Mungkin saja foto yang kami bagikan dalam media sosial ikut membantu mempromosikan Weworowet agar bukit tandus kecil ini berubah dari NOTHING menjadi SOMETHING dan semoga saja menjadi SOMETHING SPECIAL.