DEPOK (eNBe Indonesia) – Hari ini Seminari Mataloko (Santo Yohanes Berkhmans Todabelu) di Flores, NTT, memasuki usia ke-90, tinggal satu dekade lagi menuju 100 tahun. Bakal ada perubahan besar dalam satu dekade berikut ini, dan Seminari Mataloko akan menegaskan kondisi idealnya tepat di usia 100 tahun nanti.

Tentu banyak yang bertanya, mau dibawa ke mana lembaga Seminari Mataloko ditengah tantangan jaman ini. Komunitas Seminari pada umumnya masih mengambil jarak dari pengaruh teknologi informasi mutakhir (internet) misalnya. Sementara siswa-siswa non Seminari melakukan lompatan hebat untuk aspek ilmu pengetahuan umum karena mengakses google, sumber pengetahuan.

Seminari bisa saja tertinggal untuk aspek pengetahuan umum, maka alumni Seminari akan kalah bersaing setelah tamat nanti dari alumni non Seminari. Ingat, hanya segelintir siswa Seminari yang berhasil melanjutkan pendidikan di Seminari Tinggi karena ketatnya penilaian terkait kelayakan siswa Seminari menjadi calon imam (pastor).

Saatnya Seminari Mataloko sebagai sebuah lembaga pendidikan untuk mengembangkan model pendidikan Seminari, selain menciptakan atau melahirkan calon imam tapi juga menciptakan siswa Seminari sebagai awam yang militan, kader terbaik bangsa dan gereja. Lembaga Seminari harus bisa menentukan pola asuh dan pendidikan karakter yang tepat untuk menjawab harapan ini.

Lembaga Seminari mesti terus mengoptimalkan kemandirian dalam pencapaian visi (roh) pendidikan Seminari. Penyelenggaraan pendidikan Seminari harus dioptimalkan menuju keunggulan, kemandirian dan berkarakter. Jangan biarkan tradisi pendidikan di Seminari tergerus. Maka perlu memetakan masalah mutu dan kurikulum pendidikan Seminari, melakukan advokasi dengan para Uskup dan kepala daerah se-NTT.

Panja Satu Abad

Logo Satu Abad Seminari Mataloko

Bersamaan dengan Pesta Family (Ulang Tahun) Seminari Mataloko hari ini, Komunitas Seminari Mataloko menggelar Pencanangan Panitia Kerja (Panja) Menuju Satu Abad Seminari Todabelu Mataloko tahun 2029. Panitia ini akan melakukan banyak kegiatan, termasuk memobilisasi dana dari para alumni Seminari Mataloko yang kini mencapai sekitar 12,000 orang.

Uskup Agung Ende Mgr Vinsensies Potokota, Pr memberi apresiasi yang besar kepada alumni Seminari Mataloko (alsemat) karena terus mendukung perkembangan Seminari Mataloko.

“Many more years to come. Salam hangat buat para alumni yang lagi ikut merayakan usia 90 itu. Saya berfantasi, betapa si Legendaris dari Sorga sana (P. Cornelissen), bergembira ceria melihat awal yang kecil sudah jadi seperti ini. Apalagi menyaksikan ribuan alumninya “showing concern and taking participative responsibility” for Mataloko, in one way or another. Saluuuut kepadamu semua sesama alumni yang saya banggakan. Doaku dan Berkat Tuhan untukmu semua,” tulis Uskup Sensi di grup WA Alumni Seminari Nusantara.

Seminari Mataloko sungguh membutuhkan bantuan finansial dari alumninya, juga orangtua siswa, pemerintah daerah, pemerintah pusat, swasta, lembaga keuangan (pinjaman), dan donatur. Seminari Mataloko kini mengalami keterbatasan pembiayaan untuk pengelolaan pendidikan dan pengasuhan, karena terbatasnya akses ke berbagai sumber pendanaan.

Secara interen, lembaga Seminari Mataloko tentu terus fokus menata dan memanfaatkan aset-asetnya sebagai sumber pembiayaan utama. Pemanfaatan aset-aset produktif mesti dioptimalkan, seperti melakukan revitalisasi Ranch/ladang ternak dan pengembangan sebagai salah satu spot wisata heritage. Lembaga Seminari Mataloko perlu mengidentifikasi kegiatan produktif, dikembangakan bersama dinas (pemerintah) terkait, diawali dengan penyampaian usulan kepada pemda (pengembangan holtikultura, perikanan darat, ternak, dan perbengkelan.