Oleh Andrez Dhena Meda*)

NAGEKEO (eNBe Indonesia) –

Selama bertahun tahun sejak pariwisata Flores mulai dikenal dan menggeliat, Nagekeo hampir tidak tampak dalam rencana perjalanan wisata (Tour Itinerary) yang ditawarkan oleh berbagai tour operator, kecuali menyinggahi Boawae yang sesungguhnya hanya sebagian kecil dari berbagai atraksi wisata yang ada di daerah itu. Dalam peta jelajah wisata, wisatawan masuk ke timur dari pintu masuk barat (labuanbajo) beristirahat di Bajawa kemudian diarahkan ke Taman Wisata Alam Riung, selanjutnya perjalanan dilanjutkan ke Ende dan Kelimutu.

Andrez Dhena Meda

Pada pertengahan tahun 2017 Flores DMO bersama tim dari Swiss Contact Wisata dan Dinas Pariwisata Nagekeo melakukan assessment destinasi di wilayah Nagekeo untuk melihat potensi yang sekiranya dapat dikembangkan bersama melalui program Destinastion Management Organization (DMO). Betapa tercengangnya tim kami ketika menemukan berbagai atraksi baik di wilayah utara, tengah dan selatan Nagekeo. Nagekeo sesungguhnya sangat kaya dengan atraksi wisata yang belum digarap dan dikembangkan.

Selain pantai selatan yang subur yang ditumbuhi berbagai tanaman rempah rempah seperti cengkeh, kakao, kelapa, pala, lada, buah buahan dan berbagai tanaman perdagangan lainnya, Nagekeo memiliki bentangan savanah yang luas yang berujung pantai dengan hamparan pantai berpasir putih. Nagekeo didiami oleh komunitas masyarakat yang beragam dengan budaya yang unik. Etnis Nage di tengah, etnis Keo di Selatan dan Dhawe serta suku Bajo di pesisir utara. Masih banyak komunitas etnis yang mempertahankan kesahajaan hidupnya dalam perkampungan adatnya dan menjalani kehidupan mereka dengan basis nilai-nilai kebudayaannya.

Selain itu, ibukota Mbay dengan kondisi geografinya sangat cocok dengan wisata bersepeda untuk mengunjungi pantai, sawah, gua peninggalan Jepang dan beberapa komunitas etnis di sekitarnya. Cycling tour bisa dikombinasikan dengan trekking di bukit wewerowet yang menyajikan pemandangan alam yang menakjubkan.

Potensi-potensi yang dimiliki seharusnya bisa dikembangkan melalui pariwisata berbasis masyarakat yang dapat menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat yang selanjutnya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun itu belum dibenahi secara profesional. Belum digarapnya pariwisata di Nagekeo bisa dimaklumi karena pariwisata masih merupakan bisnis baru bagi kebanyakan masyarakat di Nagekeo dan Flores pada umumnya. Ada keinginan untuk mengembangkan pariwisata, namun “bagaimana” pariwisata seharusnya dikembangkan, inilah yang mengganjal untuk memulainya.

Semenjak rezim kekuasaan baru Bupati Yohanes Don Bosco Do, nampak upaya-upaya nyata pemda Nagekeo untuk mulai menggarap dan mengembangkan pariwisata di Nagekeo. Pemerintah Daerah kabupaten Nagekeo menyadari bahwa pariwisata yang efektif hanya dapat ditata kelola oleh manusia manusia yang memiliki kualitas sumber daya manusia yang memadai. Oleh karena itu pemerintah melalui satuan kerjanya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan mulai menyelenggarakan berbagai pelatihan dan workshop yang dapat membangun sumber daya manusia pariwisata yang memiliki kapasitas mumpuni untuk pekerjaan besar pembangunan pariwisata daerah.

Pemerintah Kabupaten Nagekeo telah membangun kerja sama dengan berbagai pihak untuk pengembangan pariwisata daerah. Dari sekian banyak pihak yang terlibat di dalamnya, DMO Flores menjadi mitra pemerintah daerah kabupaten Nagekeo dalam pembangunan pariwisatanya.

Bersama DMO Flores Pemerintah kabupaten Nagekeo menyelenggarakan berbagai pelatihan dan pendampingan, seperti pelatihan tata kelola destinasi pariwisata (Destination Management), pelatihan pemandu wisata alam dan wisata budaya (Tour Guide Trainings), dan pelatihan tata kelola akomodasi berbasis masyarakat (Homestay Management).

Melalui pelatihan-pelatihan itu diharapkan keterlibatan masyarakat dalam berbagai aktivitas kepariwisataan. Pariwisata yang mulai dikembangkan di Nagekeo saat ini adalah pariwisata berbasis masyarakat (Community based Tourism).

Pelatihan pelatihan yang diselenggarakan sangat berbeda dengan pelatihan yang umum dan pernah diikuti oleh para peserta, dimana para peserta didorong dan dimotivasi untuk mengembangkan pariwisata secara bertanggungjawab terhadap alam, tetap menghargai nilai-nilai budaya lokal dan mendapatkan pendapatan (in come) secara berkelanjutan dari aktivitas kepariwisataan.

*) Penulis adalah Chairman DMO Flores