DEPOK (eNBe Indonesia) – Pemerintah dan masyarakat Kabupaten Nagekeo akan menggelar Festival Literasi Nagekeo pada Jumat (27/9) hingga Minggu (30/9), dihadiri oleh undangan dari 23 kabupaten dan kota se-NTT.

“Literasi adalah alat yang diperlukan untuk mengoptimalkan berbagai potensi yang kita miliki untuk menghidupkan kembali NTT, untuk mengubah Nagekeo,” kata Bupati Nagekeo Johanes Don Bosco Do seperti dikutip The Jakarta Post.

Festival ini, jelas Bupati Don, akan menjadi panggung bersama bagi Nagekeo dan orang-orang NTT lainnya untuk mempertahankan kekayaannya dalam budaya lokal dan bertahan dari marginalisasi. Ini juga bertujuan untuk melawan stereotip yang sering memberi label kabupaten sebagai yang miskin dan terbelakang.

Sementara itu Perpustakaan Pusat Nasional (Perpusnas) bersedia mendukung program literasi Nagekeo dengan harapan Nagekeo akan menjadi mercusuar peradaban di wilayah timur Indonesia.

“Maju mundur sebuah negara ditandai dengan majunya perpustakaan, karena perpustakaan adalah tolak ukur kemajuan suatu wilayah. Kalau perpustakaan Nagekeo maju maka masyarakatnya akan maju, cerdas, dan menjadi contoh bagi kabupaten di sekitarnya,” ujar salah satu petinggi di Perpusnas medio April 2019.

“Ada keyakinan kuat bahwa literasi itu tidak sekedar angka dan abjad, tetapi kemampuan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, mencerdaskan dan menyelamatkan masyarakat. Maka setiap kita wajib mendukung ini, ujar Kristianus Dua Wea, Wakil Ketua DPR Nagekeo, di acara talkshow di Perpusnas April lalu.

Bupati Don pun berkisah bahwa perpustakaan ini hanya dilirik sebelah mata. Dan mindset masyarakat masih melihat perpustakaan ini sebagai ruang gelap, samar-samar. Maka program literasi, didukung Perpusnas dan pemerintah pusat, akan mentrigger percepatan pembangunan di segala bidang. “Mari kita bangun literasi di semua bidang demi mempertahankan martabat kita,” ujarnya.

Perpusnas berharap Pemerintah Nagekeo serius mengembangkan perpustakaan sebagai pusat kegiatan masyarakat hingga di tingkat desa, perlu pengembangan SDM tenaga perpustakaan, memanfaatkan program-program stimulan dari Perpusnas, butuh advokasi untuk pemanfaatan dana desa untuk program literasi dan pengembangan perpustakaan.

Perpusnas menyediakan empat menu yang bisa dimanfaatkan yakni pembangunan gedung perpustakaan, rehabilitasi atau renovasi layanan perpustakaan, sarana prasarana termasuk TIK, dan koleksi (buku). Ada cukup besar anggaran untuk empat menu ini tapi persayaratan harus dipenuhi saat pengajuan.

Vitalis Ranggawea, tokoh Nagekeo di Jakarta, mengapreasiasi program literasi yang dicanangkan Bupati Don dan inisiatif kerja sama dengan Perpusnas. Agar Nagekeo lebih dikenal, Vitalis berharap Nagekeo bisa tercantum dalam peta nasional.

Hoaks itu bersumber dari budaya verbal, maka Alex Dungkal, wartawan senior di Jakarta, berharap agar program literasi di Nagekeo dapat memelihara tradisi bahwa Nagekeo telah melahirkan banyak penulis hebat di kancah nasional dan internasional.

Robert Epe Dando, penulis lagu Theme Song Festival Literasi Nagekeo yang juga member of Public Relation Association of Indonesia, menegaskan bahwa Nagekeo di titik ini adalah kilometer 0. Hari ini Nagekeo membuat sejarah baru (create history), maka (festival literasi) tidak sekedar sebuah seremonial tapi memberi spirit bagi masyarakat Nagekeo.

“HOAX bertumbuh subur di Indonesia, karena minat baca (literasi) orang Indonesia paling rendah di dunia, urutan kedua dari bawah. Jadi, barang siapa yang doyan hoax, maka sangat pasti orang tersebut malas baca dan/atau cenderung bodoh,” ujarnya.

Julie Sutrisno Laiskodat, istri Gubernur NTT Victor B Laiskodat, juga mendukung penuh kegiatan Festival Literasi Nagekeo khususnya dan NTT umumnya. “Literasi saya melalui tenun. Kebetulan saya mempunyai butik LeViCo. Melalui tenun saya menceritakan banyak tentang tenun NTT dan filosfinya,” ujarnya.

Linda Boleng, pemerhati pendidikan di NTT yang juga politisi, menandaskan bahwa literasi itu membuka pikir, menyentuh hati, mengantar generasi menyambut esok hari dengan bijak. “Tantangan bagi ortu jaman now adalah menanamkan kebiasaan membaca pada anak-anak. Kita mesti berlomba mengalahkan gadget.”

Literasi Nagekeo menampilkan 3 panggung utama; panggung diskusi, seni budaya, dan expo. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Nagekeo menyelenggarakan berbagai macam lomba; lomba mewarnai untuk tingkat anak PAUD/TK, lomba pidato untuk tingkat SMP/MTs dan SMU/SMK/MA, lomba pantun daerah untuk masyarakat umum.

===

Kita boleh memiliki wajah yang menawan
Juga kekuasaan yang perkasa
Dan harta yang berlimpah
Kita juga boleh memiliki seluruh dunia
Juga dengan segala keindahannya
Dan semua mimpi yang besar
TAPI
Tanpa LITERASI, semua hanyalah puing-puing di bawah matahari.
Jadi, tunggu apa lagi?
Luangkan waktu dan ringankan langkah menuju panggung literasi, Lapangan Berdikari, Mbay 27 – 30 September 2019.
Jangan biarkan orang lain merebut impianmu.
Karena “DENGAN BERLITERASI, KITA BERTRANSFORMASI” (oleh: Jo Hoga Hama)