by

Kunjungan Wisman Tahun Ini, Sulit Capai Target

DEPOK (eNBe Indonesia) – Sekitar 10,87 juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) selama Januari-Agustus 2019, hanya naik 2,67% dari periode sama tahun lalu. Wisman yang datang melalui bandara internasional Ngurah Rai, Bali hanya meningkat 0.2% (4,06 juta). Semakin sulit untuk mencapai target pemerintah untuk menyambut 20 juta kunjungan wisman tahun ini.

Wisman yang masuk melalui pelabuhan Benoa Bali turun drastis 43,17% (14.657 wisman). Sementara pemerintah memfokuskan sumber daya dalam pengembangan lima destinasi baru (Labuan Bajo, Danau Toba, Mandalika, Candi Borobudur, dan Sulawesi Utara), pariwisata di Bali patut mendapat perhatian serius.

Gubernur Bali I Wayan Koster baru-baru ini mengakui bahwa kunjungan wisatawan telah menurun secara signifikan. Program paket murah yang ditawarkan kepada wisatawan China tak membantu. Tentu harus diakui bahwa kemacetan lalu lintas menghambat kunungan wisatawan di kawasan wisata utama Bali, seperti Nusa Dua, Jimbaran, Uluwatu, Kuta, Seminyak, Petitenget, Sanur, Ubud, Tanah Lot, Canggu, Batubolong, Pererenan.

Wisman yang masuk melalui bandara internasional Soekarno-Hatta turun 12,18% menjadi 1,66 juta dalam delapan bulan pertama tahun 2019. Mengapa? Apakah itu karena masalah keamanan di ibu kota sebelum, selama, dan setelah pemilihan? Apakah itu karena konservatisme yang tumbuh di negara ini? Apakah itu karena keterlambatan untuk lepas landas dan mendarat, penanganan darat yang buruk? Kita menghargai beberapa proyek infrastruktur di bandara, beberapa di antaranya akan beroperasi dalam beberapa bulan mendatang untuk mengurangi keterlambatan take-off dan pendaratan dan meningkatkan pergerakan pesawat dari landasan pacu ke terminal. Tetapi, kita harus meningkatkan suprastruktur (budaya, disiplin, layanan, pendidikan) agar wisatawan menikmati perjalanan mereka.

Wisman yang masuk melalui bandara internasional Adi Sucipto di Yogyakarta juga turun 20% menjadi 93.182 saja. Mengapa? Apakah itu karena masalah serupa yang dihadapi oleh wisatawan di Jakarta? Akankah bandara internasional baru di Kulon Progo meningkatkan wisatawan asing? Mari kita lihat kapan bandara baru akan beroperasi pada bulan April 2020. Survei sederhana kami di Kulon Progo baru-baru ini, bagaimanapun, menyarankan beberapa masalah potensial, terutama kualitas jalan umum yang buruk dan kemacetan lalu lintas antara Kulon Progo dan kota-kota sekitarnya, termasuk Yogyakarta.

Penurunan terbesar dalam delapan bulan pertama tahun 2019 adalah bandara internasional Lombok, yang jatuh 47% menjadi 35.404 orang saja. Apakah itu karena bencana alam yang melanda Nusa Tenggara Barat? Kami juga mencatat rencana pemerintah untuk menghabiskan banyak dalam infrastruktur publik untuk mendukung tujuan Mandalika di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2020, yang hasilnya hanya akan terlihat dalam waktu lima atau bahkan sepuluh tahun.

Berita gembira datang dari laut. Turis asing yang masuk ke Indonesia melalui pelabuhan laut melonjak 35% menjadi 2,8 juta orang dalam delapan bulan pertama tahun ini, berkat pertumbuhan yang tinggi di Tanjung Uban (+36%), Tanjung Pinang (+29%), Tanjung Balai Karimum (+37%), dan lainnya (+137%). Sebagian besar wilayah ini terletak di provinsi Kepulauan Riau, yang lebih dekat ke Singapura dan Malaysia. Luarbiasa, jumlah turis asing dari Malaysia dan Singapura meningkat secara signifikan masing-masing sebesar 24% dan 15% pada periode tersebut. Malaysia dan Singapura berkontribusi 3,3 juta kunjungan atau 30% dari total turis asing yang memasuki Indonesia.

Sementara jumlah kunjungan dari China turun 3,45% menjadi 1,44 juta, sementara Jepang turun 1,1% menjadi 343.000 dan Korea Selatan meningkat 5,14% menjadi 254.800 saja. Jumlah pengunjung dari Eropa turun 1% menjadi 1,36 juta, tetapi AS meningkat 15,8% menjadi 300.700 dan Australia naik tipis 3,14% menjadi 876.800. Melihat angka-angka ini, pemerintah Indonesia harus menemukan jawaban yang tepat mengapa kita gagal melampaui Thailand, yang tumbuh 2,6% menjadi 26,5 juta kunjungan wisman dalam delapan bulan pertama 2019?

Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur memiliki potensi untuk tumbuh lebih cepat, tetapi pemerintah terlalu lambat dalam mengembangkan Komodo menjadi bandara internasional. Sumber kami dari pemerintahan Kabupaten Manggara Barat mengatakan pembebasan lahan baru saja selesai, tetapi perluasan bandara masih menunggu keputusan dari pemerintah pusat tentang operator. Lebih penting lagi konservatisme yang berkembang, termasuk beberapa ketentuan kontroversial mengenai privasi dalam RUU KUHP, tidak selaras dengan pengembangan industri pariwisata. (yosefardi.com)

Comment

News Feed