Oleh Yohanis Fransiskus Lema (Anggota DPR RI)

Pada hari ini Senin (18/11), saya melakukan rapat kerja (raker) dengan Kementerian Pertanian (Kementan) yang dihadiri Menteri Pertanian dan Dirjen terkait untuk membahas sejumlah isu pertanian. Dalam kesempatan ini, saya menyampaikan gagasan utama, yaitu pembasmian kemiskinan di NTT melalui pengembangan pertanian lahan kering.

Pertama, kemiskinan di Indonesia dalam trend menurun. Posisi terakhir pada Maret 2019 adalah 9,41 persen atau 25,15 juta masyarakat miskin. Angka tersebut tidak berbanding lurus dengan NTT. Kemiskinan di NTT berada pada level yang stagnan sejak 2015, yaitu pada kisaran 21-22 persen. Terakhir, pada Maret 2019 adalah 21,09 persen atau 1,146 juta jiwa. Artinya, kebijakan pembangunan yang dilakukan pemerintah BELUM MAMPU menekan angka kemiskinan di NTT.

Yohanis Fransiskus Lema

Kedua, yang menjadi akar penyebab kemiskinan di NTT adalah sektor pertanian. Bagaimana bisa? Penyumbang terbesar garis kemiskinan di NTT adalah sektor makanan (78,17 persen) dan ini paling banyak terjadi di wilayah pedesaan. Oleh karena itu, sektor pertanian harus menjadi fokus perbaikan agar bisa menekan angka kemiskinan. Kemiskinan NTT identik dengan kemiskinan petani.

Ketiga, sektor pertanian merupakan mata pencaharian utama penduduk NTT. Sekitar 1,16 juta (48,7 persen) penduduk bekerja di sektor ini. Adapun, jumlah petani berjumlah 942.455 orang.

Keempat, apa yang bisa dilakukan pemerintah untuk menanggulangi kemiskinan? OPTIMALKAN POTENSI PERTANIAN LAHAN KERING. Luas lahan basah (sawah) di NTT adalah 214.387,90 hektar. Sementara, luas lahan kering sebesar 1.331.373 hektar. Perbedaan rasio luas lahan basah dan kering cukup jauh, yakni 1:9.

Selama ini, apa yang telah dilakukan pemerintah Jokowi melalui pembangunan bendungan, misalnya, lebih berdampak pada intensifikasi dan ekstensifikasi lahan basah. Namun hal itu, kurang berdampak/menyasar lahan kering yang potensinya luar biasa besar di NTT.

Kelima, salah satu solusi yang bisa membantu petani lahan kering dalam mengelola pertaniannya adalah modal/alat excavator. Hal ini karena karakteristik sebagian besar tanah di NTT keras dan kaku, sehingga petani merasa kesulitan jika hanya menggunakan modal/alat pertanian konvensional seperti linggis dan traktor. Penggemburan tanah lahan kering yang bisa menyerap air dengan maksimal adalah kunci tanah menjadi subur. “Menanam air” sama artinya dengan menggemburkan tanah. Oleh karena itu, Kementan perlu hadir dengan SKEMA PEMBIAYAAN KHUSUS agar dapat mengadakan excavator untuk membantu petani lahan kering NTT.

Dari paparan argumentasi di atas, saya meminta KEBERPIHAKAN NEGARA UNTUK BISA HADIR DI NTT DENGAN MEMBERIKAN KEBIJAKAN YANG SOLUTIF BERDASARKAN KONTEKS NYATA NTT. Selama ini pemerintah belum memberikan solusi yang tepat sasaran sehingga NTT hingga saat ini masih menjadi provinsi termiskin ketiga di Indonesia. Pola pengembangan pertanian lahan kering bisa membantu NTT keluar dari kemiskinan. ***