Oleh Agung Hermanus Riwu*)

“Waduh, panas, keringatan saya. Tapi tak apa, biar keluar racun-racun ditubuh”, kata mas Gol A Gong ketika pertama kali tiba di bandra El Tari Kupang (senin/212). “Mana mau Syahrini manggung di Kupang ? Ngga’ mau dia keluar dari mobil”, lanjutnya sambil tersenyum.

Pertemuan dan perkenalan diselingi cerita-cerita santai menghantar kami ke beberapa titik kota untuk menciptakan jejak kenangan melalui gambar-gambar persaudaraan.

Jujur, beta kagum dengan ini orang. Sederhana, supel dan rendah hati. Padahal beliau adalah penulis nasional, sudah 125 buku yang diterbitkannya. Ia pegiat literasi nasional yang mendirikan Rumah Dunia, rumah bagi anak-anak kurang mampu, rumah bagi pemuda-pemudi yang mau belajar menulis, rumah bagi mahasiswa yang kesulitan biaya asal mau jadi relawan taman baca. Rumah bagi generasi indonesia mengubah hidupnya.

Dari rumah itulah munculah istilah “gempa” literasi. Ketika beta tanya kenapa pakai istilah gempa, kata beliau, “gempa itu kan menggetarkan, menghancurkan, merobohkan. Kebodohan dan kemiskinan yang kita robohkan melalui literasi”.

Tidak sedikit pemulung, tukang sapu, pengangguran sudah jadi penulis, wartawan, kreator stasiun TV berkat tangan dinginnya. Kesediaannya membagi ilmu menulis untuk orang-orang diatas membuat beta semakin kagum.

Yang lebih menginspirasi lagi adalah saat beliau mengisahkan sejarah hidupnya, “tangan saya sebelah kiri harus diamputasi saat saya kelas 4 SD. Ketika bermain perang-perangan, saya terjatuh dari pohon. Karena salah penanganan dari dukun, akhirnya saya harus rela kehilangan satu tangan”.

“Ayah saya adalah seorang kepala sekolah olahraga, ia mengarahkan saya agar melakukan dua hal yakni olahraga dan membaca. Dua hal itu saya lakoni dengan rutin dan semangat disempurnakan dengan doa yang tiada henti”.

“Alhamdulilah, dengan gemar berolahraga, Allah menjadikan saya atlet bulu tangkis yang berprestasi ditingkat nasional hingga menjadi juara Asia Para Games di Jepang. Air mata saya jatuh ketika menyanyikan lagu Indonesia Raya di negara orang dan melihat bendera merah putih dinaikan lebih tinggi dari bendara yang lain”.

“Saya juga bersyukur, semangat saya dalam membaca menjadikan saya penulis puisi, cerpen, novel, esai dll. Dengan membaca dan menulis saya diundang kemana-mana dan bisa berkeliling dunia. Sudah 20 negara saya kunjungi untuk berbagi pengalaman menulis”.

“Teman, jangan jadikan kekurangan yang kita miliki sebagai penghambat. Terus berjuang dan berdoa karena Tuhan selalu melihat kita. Dia akan memberkati mereka yang sungguh-sungguh berjuang dan meminta”.

“Ketika pertama kali saya diterima sebagai penulis di salah satu penerbit, secara responsif ayah saya langsung mengatakan, yes, Golll.. Maklum ayah adalah olahragawan, gol artinya masuk atau diterima. Kemudian ibu saya mengingatkan, nak kamu harus jadi seperti Gong, ketika dibunyikan, bunyinya menggema, membekas ditelinga dan dihati orang”.

“Ibu saya juga berpesan, ingat nak, semuanya datang dari Allah. Jangan sombong, tetap rendah hati dan berbagilah. Allah yang ngasih, dengan mudah juga Allah akan ngambil kembali”.

“Merefleksikan perkataan ayah dan ibu, saya menemukan nama baru untuk saya, Gol A Gong. Gol itu masuk ala ayah, Gong itu pesan dari ibu dan A adalah Allah yang memberi. Sebagai penulis hingga kini saya dikenal sebagai Gol A Gong, sebagai Atlet dulu saya dikenal dengan Heri Hendrayana Haris, itu nama asli saya”.

“Literasi telah mengubah hidup saya”, tutupnya.

Beta waktu dengar kisah itu langsung menemukan kesimpulan, jika literasi adalah kemampuan untuk mengubah hidup menjadi lebih baik, literasi harus terlebih dahulu lahir dari rahim sebuah keluarga. Artinya, penggerak utama adalah keluarga karena keluargalah yang memberi kita arah kemana harus melangkah dan memberi jalan dimana kita akan berada.

Di 212 malam, ketika menghantarnya ke penginapan, Mas memberikan hadiah untuk beta sebuah buku tulisannya “Rahasia Penulis”. Di lembaran depan dibubuhkannya tanda tangan dengan tulisan, “Untuk Agung, Jadilah Telaga, 2 Des 2019”.

Dalam hati beta ucap syukur sambil bilang, “terima kasih Mas, satu hari penuh beta bacarita dengan Mas, keluar racun-racun dipikiran yang selama ini buat beta jadi sulit lepas dari segala ketertinggalan”. Tapi disudut hati yang lain beta juga berkata, “Wih, kapan lagi dapat buku dari penulisnya langsung plus tanda tangan, gila…”.

Akhirnya, beta mau sampaikan, di 212 beta menemukan inspirasi. Inspirasi yang bernama “Gol A Gong”.

*) Penulis adalah Guru SMPK Giovanni Kupang, alumnus Universitas Widya Mandira Kupang