DEPOK (eNBe Indonesia) – Di luar dugaan, animo pemuda dan mahasiswa di Jakarta dan sekitarnya sangat besar untuk bertarung di laga etu (tinju tradisional) Nagekeo di anjungan NTT Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur kemarin (8/12).

Sebanyak 20 laga disuguhkan di arena etu kemarin, dimulai jam 12 siang hingga jam 3 sore. Artinya sebanyak 40 petarung tampil, itupun beberapa petarung harus kecewa karena tak bisa berlaga akibat keterbatasan waktu.

Naluri bertinju, momentum perlihatkan keperkasaan dan harga diri, tampak jelas dari wajah-wajah tampan petarung, selain diprovokasi bunyi tumbukan bambu dan nyanyian saling sindir (melo), mungkin juga bertarung untuk mencuri hati dan perhatian banyak wanita cantik dengan mata ayu di pinggir arena tinju.

Kru Redaksi memergoki seorang wanita yang memeluk pacarnya persis di belakang Sao Ngada, menangis sambil mengusap darah di paras pacarnya dengan tissue, akibat kalah bertarung. Beberapa wanita cantik berteriak lepas, histeris karena pertarungan yang garang di depan mata.

“Aha mantap, jujur kalau bertinju anak anak Jakarta jauh lebih baik dari mereka di Kampung, karena para petinju terbaik disana ada di sini,” tulis Yosef Juwa Dobe Ngole, Ketua Pelaksana Pementasan Etu Nagekeo, di grup WA IKBN Jabodetabek Serang-Banten.

“Mesti ada darah yang keluar dari etu, sebagai persembahan untuk bumi yang sudah memberi hasil bumi. Etu juga gelanggang atau arena orang untuk naik derajat. Seorang jagoan tinju otomatis statusnya akan naik, jadi seorang bangsawan,” ujar Dobe Ngole saat memberi sambutan usai laga etu.

Di awal acara, Yonas Naga Pago, tetua adat dari Lape, bersama Maxi Mere diundang untuk melakukan ritual meminta leluhur hadir (nuji nama) dan memberi makan (pasi pana) kepada leluhur, meminta leluhur memberi restu bagi kegiatan festival etu.

Marsellinus Ado Wawo, Ketua IKBN Jabodetabek Serang-Banten, percaya para leluhur memberi restu IKBN dan Himpunan Mahasiswa Pemuda Pelajar Nagekeo (Himappen) Jakarta memperkenalkan budaya warisan ini ke tanah Betawi. “Restu itu dapat dilihat dari cuaca yang bagus, petinjunya banyak, dan berjalan dengan damai. Minat orang melihat tinju ini sudah tidak lagi bisnis semata tapi sudah mulai menggeser ke nirlaba. Etu dengan tema menghormati para leluhur.”

Marsellinus Ado Wawo juga berterima kasih kepada Kepala Badan (Kaban) Kantor Perwakilan NTT Jakarta, Viktor Manek, yang turut mendukung Festival Etu Nagekeo pertama di Jakarta ini.

“Tunjukkan sesungguhnya dalam bertarung tapi jaga sportifitas. Leluhur Nagekeo tentu hadir di sini,” ujar Viktor dalam sambutannya, khusus memberi apresiasi bagi kalangan pemuda dan mahasiswa NTT di Jakarta.

Festival Etu (Nagekeo) dan Gawi (Ende) adalah rangkaian kegiatan menyongsong hari ulang tahun Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ke-61 pada 20 Desember 2019 nanti.

“Anjungan NTT adalah etalase NTT di Jakarta. Dan tahun depan, setiap kabupaten mendapat ruang dan waktu selama 2 minggu untuk mengadakan festival budaya, dan Pemprov NTT akan mendukung dengan alokasi dana.”

Himappen dan IKBN Jakarta pun merayakan HUT Kabupaten Nagekeo ke-13 kemarin dengan seremoni pemotongan kue dan meniup lilin oleh Marsellinus Ado Wawo dan Victor Manek, dimeriahkan dengan tarian dero, ikimea, dan Ja’i. Turut mendukung Festival Etu seperti Vesam Etnik-Nusantara, Kaka Dorang Fotografi & youtube channel, Mosa Ma’u youtube channel, eNBe Indonesia youtube channel, MC kondang George Soge Soo dan Tobby Ndiwa.