Frans Dorelagu

Oleh Frans Dorelagu*)

Tema artikel ini merupakan kajian penulis pada seminar budaya Lio Ende yang diselenggarakan oleh Ikatan Keluarga Besar (IKB) Wuamesu Indonesia pada Sabtu (7/12) di Anjungan NTT Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Sebelumnya penulis mohon maaf atas keterlambatan publikasi tulisan ini, karena penulis terbentur dengan kesibukan dan rutinitas yang padat yang cukup menyita waktu. Walaupun demikian penulis merasa perlu menurunkan tulisan ini, karena materi ini merupakan kajian budaya, khususnya gawi yang tentu sangat bermanfaat sebagai sumber literasi historis bagi kita dalam menyikapi makna dari gawi itu sendiri.

Menarik disimak karena momentum ini merupakan kegiatan seminar perdana yang memaparkan secara khusus tentang Gawi serta sejarah lahir dan perkembangannya. Seminar ini menghadirkan antropolog Prof Dr Aron Meko Mbete dan beberapa praktisi budaya seperti Dr Servas Pati, Drs Amatus Peta dan Rafael Demu. Kita berharap dengan kehadiran nara sumber yang kapabel dapat memberikan wawasan mengenai sejarah budaya dan nilai nilai yang terkandung didalamnya, terutama makna kontekstualitas gawi bagi masyarakat Lio umumnya dan bagi generasi milenial khusunya.

Dalam pengantarnya, Prof Aron Meko mengemukakan bahwa, fungsi bahasa Lio Ende sebagai pemandu bagi orang Lio Ende. Tentu kita sependapat bahwa bahasa sebagai media hubungan komunikasi sosial antar individu dalam masyarakat. Bahasa Lio sebagai salah satu sub bahasa lokal Flores, tentu akan memberikan spektrum jati diri bagi masyarakat penuturnya. Karena beberapa entitas dalam bahasa merupakan simbol komunikasi yang mencerminkan realitas peradaban yang terus membetuk kultur budaya masyarakat.

Dalam terminilogi wuamesu, Prof Aron menekankan pada pentingnya energi dan daya jiwa dalam membangun semangat persatuan yang terpatri dalam naungan rumah besar Wuamesu. Prof Aron juga menjelaskan makna “Waga” (bahasa adat baku) adalah pergeseran dari kata wangka yang artinya perahu yang disinonimkan sebagai bentuk keseimbangandan keselarasan dalam membangun dan mewujudkan semangat persatuan bagi orang Lio Ende.

Berkaitan dengan waga atau bahasa waga, Yulius Balu Nggala menegaskan bahwa kata wuamesu masih sebatas ungkapan, belum membentuk sebuah kalimat yang mengandung pengertian yang baku dalam terminologi waga. Kata wuamesu menjadi sebuah pengertian yang baku ketika membentuk sebuah rangkaian kalimat, baik yang bersifat puisi maupun pantun. Misalnya Wuamesu akan disebut sebagai bahasa waga ketika membentuk sebuah kalimat “Aku wuamesu no’o imu sama neku, sama ngere aku wuamesu no’o tebo du’a neku”. Dalam konteks gramatika Lio, kalau kata wuamesu masih bersifat tunggal maka itu adalah ungkapan dan tidak tergolong sebagai bahasa waga.

Yulius Balu juga menegaskan bahwa, wuamesu merupakan implementasi dari semangat cinta kasih yang terus menerus membentuk semangat persatuan dan kesatuan bagi masyarakat Lio Ende. Karena landasan pijak adalah wuamesu (cinta kasih) maka kita hadir dalam wadah persatuan untuk saling berbagi. Pengertian wuamesu dalam filosofi Lio sesunggunya melampaui beberapa dimensi. Wuamesu tidak terbatas pada semangat persatuan, tetapi terimplementasi dalam segala dimensi kehidupan etis manusia Lio. Baik dalam konteks dimensi perilaku, tuturan, fikiran yang mencakup budi dan jiwa. Ini yang sesungguhnya hakikat nilai kehidupan dalam kultur budaya Lio Ende. Demikian Yulius Balu menegaskan.

Sejarah dan Filosofi Gawi

Amatus Peta dan Rafael Demu dalam pemaparannya mengungkapkan bahwa gawi adalah tarian yang berkembang di wilayah budaya Lio Ende. Dalam kajian sosio historis gawi tidak berdiri sendiri tetapi dipadukan dengan lantunan musik vokal Sodha. Gawi secara filosofis adalah simbol persatuan bagi orang Lio Ende. Formasi gawi yang berpegangan tangan dan membentuk lingkaran, merupakan filosofi persatuan yang erat bagi seluruh masyarakat etnis Lio Ende.

Dalam filosofi gawi dikenal dengan istilah Ulu dan Eko (kepala dan ekor). Ulu merupakan sentral atau pusat yang memiliki kekuatan, keperkasaan, kokoh dalam mengendalikan irama tarian agar tetap menyatu dan tersentralisir dalam poros gawi. Sedangkan Eko akan terus bergerak memanjang membentuk lingkaran yang semakin besar tetapi tetap menyatu dan tidak terputus dengan Ulu.

Filosofi lain adalah bahwa Ulu merupakan pusat yang selalu diartikan dengan pemangku adat yang tugasnya untuk selalu menjaga, merawat dan melestarikan seluruh tatanan adat dan budaya. Dalam lingkaran persatuan agar tidak keluar dari norma norma adat yang menjadi pranata dan etika hidup bersama. Eko secara filosofis bahwa budaya akan selalu berkembang bergerak mengikuti arus jaman, tetapi tetap selalu memiliki identitas. Generasi lio Ende tetap diharapkan untuk selalu menjaga pranata budaya dan adat istiadat.

Simon Ngaga- (Musik Vokal Sodha, Sebuah Ragam Musik Etnis Lio Ende), bahwa gawi dan musik vokal sodha pertama kali diperkenalkan dan dinyanyikan oleh seorang wanita yang bernama Nama Tola. Ia adalah wanita gaib yang menjadi manusia nyata. Oleh karena kekuatan magi pengikat dari seorang lelaki yang bernama Bhajo Wawo, Nama Tola akhirnya terpikat dan menjadi pendamping atau istri Bhajo Wawo. Dalam tuturan waris Bhajo Wawo memiliki kekuatan supranatural. Ia bisa berkomunikasi dengan penguasa langit tertinggi dan penguasa bumi terdalam yang disebut Du’a Ngga’e (Tuhan menurut orang Lio).

Nama Tola mengajarkan banyak hal, mulai dari cara membuka kebun, menanam, memanen, mengolah makanan, membangun rumah, memelihara hewan, mengajarkan beberapa permainan dan mengajarkan tarian musik dan sastra yang dalam bahasa Lio di sebut Basa Waga. Suatu bahasa yang mengandung filosofi hidup tinggi bagi orang Lio Ende. Basa Waga digunakan sebagai media komunikasi antara manusia dengan penguasa langit tertinggi dan bumi terdalam, serta komunikasi antar manusia dalam upacara adat.

Dalam perkembangannya gawi mulai diminanti oleh masyarakat luas di luar Lio Ende, dan banyak mengalami perubahan bentuk maupun makna. Oleh karena itu upaya kongkrit seperti seminar dan edukasi budaya melalui sanggar sanggar budaya Lio harus terus ditingkatkan. Sejalan dengan arus globalisasi dan modernisasi tentu tidak dipungkiri akan tergerus nilai nilai budaya lokal.

Dr Servas Pati menekankan bahwa generasi milenial tidak perlu pesimis dalam menghadapi arus globalisasi, identitas budaya yang sudah melekat dalam diri setiap orang Lio merupakan jati diri yang kuat. Oleh karena itu sebagai salah satu ketahanan budaya adalah dengan selalu menyadarkan generasi akan manfaat budaya sebagai identitas dan jati diri bangsa. Mari kita bangun budaya kita khususnya budaya Gawi sebagai warisan aktual leluhur kita. Kita adalah generasi penyambung jaman dan marilah kita ukir lembar jeman dengan ornemen-ornamen budaya lokal kita.

*) Penulis adalah Pemerhati Budaya Lio, tinggal di Jakarta