DEPOK (eNBe Indonesia) – Publik Ngada dan NTT tentu sedih dan kecewa karena tim kesayangan PSN Ngada keok di Liga 3 Nasional akibat dihukum Komisi Disiplin (Komdis). Dan PSN pun menjadi trending topic di berbagai platform media.

Berita tentang PSN serempak menjadi berita paling top kemarin dan hari ini, dan publik sepak bola pun menggugat lewat petisi online, mengecam keputusan kontroversial Komdis. PSSI sebagai lembaga induk sepak bola nasional pun ikut lemah shawat. Satgas Anti Mafia Bola pun tak bergeming.

Kasus paling anyar ini hanya menegaskan jika mafia sepak bola masih berkembang di tanah air, penitia pelaksana (panpel) lebih utamakan aspek bisnis, mengorbankan aspek kualitas tim dan prestasi pemain.

Klub-klub kecil dan tidak mapan secara finansial jadi korban empuk para elit mafia sepak bola. Sementara klub-klub besar tak siap mental menghadapi gempuran klub-klub baru seperti PSN Ngada dari NTT ini.

Fakta menunjukkan, dua pemain PSN Ngada tercatat sebagai pemain dengan gol terbanyak (top skor). Sejauh ini, hingga laga di babak 32 besar, Yohanes Kristoforus Nono (Yoris) dari PSN Ngada meraih top skor dengan 9 gol, disusul Rizky Dwi Pangestu dari Persigo Semeru FC (7 gol), dan Oktavianus Wou Pone dari PSN Ngada (6 gol). Total gol sebanyak 119.

Top skor berikutnya diraih Rizki Hidayat dari Persijap Jepara (6 gol) dan Faldi Ades Tama dari Persijab Jepara (5 gol). Semua tim unggulan di liga 3 pantas memperhitungkan PSN Ngada karena tim dari Flores, NTT ini memiliki striker paling berbahaya dan produktif. Jika PSN tidak tersandung, maka PSN akan menjamu Persijap Jepara di babak 16 besar. PSIL Lumajang akhirnya mengisi posisi PSN Ngada di babak 16 besar, tim yang menyerah 0-3 dari PSN Ngada di babak 32 besar.

Pelatih (coach) PSN Ngada, Kletus Marselinus Gabhe sudah sangat maksimal berjuang untuk bebas dari hukuman setan pemilik si kulit bundar di Liga 3 Nasional. God Bless Ngada dan PSN, demikian doa semua publik sepak bola NTT.

Jika kali ini terpaksa berjuang dengan deraian air mata, keringat berdarah-darah seluruh pemain, tertunduk lesu dan nafas terasa sesak, PSN Ngada tetap di hati publik NTT karena kalian telah menegaskan diri sebagai tim paling berprestasi di negri ini. Ketidakadilan elit penyelenggara tidak boleh sedikitpun menguburkan harapan PSN Ngada dan klub-klub sepak bola NTT umumnya.