DEPOK (eNBe Indonesia) – Marsianus Balita, pengarang sebagian besar lagu-lagu liturgi gaya Betawi, berpulang kemarin (3/1) akibat menderita stroke. Almarhum dikebumikan hari ini di pemakaman umum Bitung, setelah didoakan umat di gereja paroki Santo Servatius Kampung Sawah, Bekasi, Jawa Barat.

“Tuhan lebih mencintai Om Marsi Balita, selamat jalan Om. Jiwamu abadi di surga. Engkau menghidupkan Liturgi Gereja kususnya St Servatius Kampung Sawah, dengan gubahan lagu-lagu liturgi gaya Betawi…selamat jalan Om..,” tulis Kayetanus Feto, toko gereja, budaya, pendidikan asal Flores, NTT di laman facebook.

Marsianus Balita lahir di Kotakeo, Flores, NTT pada 17 Juni 1946, satu kampung dengan Kayetanus. Almarhum meninggalkan istri tercinta (Siti), 3 anak (Ine Elu, Noni/alm, Yuli), juga 4 cucu. Marsianus adalah putra ke-4 dari 9 bersaudara dari pasangan Yoseph Amekae (guru) dan Elisabeth Beku.

Pada momen misa requem di gereja, kata Fransiska Riwu Una (istri Kayetanus), umat paroki Kampung Sawah menyanyikan lagu-lagu gubahan almarhum, sosok yang sangat kuat menganut marhaen ini.

Marsianus Balita memang gencar mengembangkan musik Betawi. Salah satunya berjudul “Cik Abang Rajin Sembahyang”. Dia menciptakan lagu-lagu dengan nada dan syair khas Betawi untuk lagu pembuka, penutup, komuni, dan persembahan dalam Misa.

Ia juga menciptakan Ordinarium Gaya Betawi, yang biasanya dinyanyikan saat Perayaan Sedekah Bumi. Marsianus sudah merintis kelompok gambang kromong yang kelak akan bertugas mengiringi lagu-lagu bernuansa Betawi ciptaannya. Aggotanya adalah anak-anak muda di paroki St Servatius Kampung Sawah. Tujuannya agar anak-anak ini melestarikan kebudayaan Betawi.

Gereja Katolik St. Servatius, berdiri sejak abad ke-19, tidak disematkan sebagai gereja Betawi hanya karena ia terletak di wilayah perkampungan Betawi, tapi karena gereja ini masih secara konsisten mendenyutkan kebudayaan Betawi, tulis kompas.id.

Bersama dengan 11.860 jemaat lain, pengurus gereja menjaga agar kebudayaan Betawi tetap bisa dilibatkan dalam proses peribadatan sebagaimana hal tersebut telah berlangsung sejak tahun 1896, di mana 18 orang warga Kampung Sawah dibaptis sebagai Katolik oleh Pastor Bernardus Schweitz, SJ. Sebelumnya telah didahului dengan pembatisan enam orang oleh Pastor Schweitz.

Di minggu pertama setiap bulan, masih dapat disaksikan jemaat yang datang untuk beribadah dalam balutan busana khas Betawi. Baju kurung dengan warna terang menyolok dan dipadukan dengan sarung kain batik mengidentitaskan jemaat wanita.

Pengejawantahan lainnya adalah proses peribadatan yang dilakukan dengan menggunakan Bahasa Betawi Kampung Sawah, sesuai dengan yang dilakukan beberapa abad yang lalu.