DEPOK (eNBe Indonesia) – Kelompok cendikia Flores di Jakarta akan bekerja all out untuk meneruskan aspirasi masyarakat Flores menjadikan Flores, Lembata dan Alor sebagai Propinsi Kepulauan Flores. Saat ini kelompok cendikia asal Flores sedang mempersiapkan diri untuk melakukan audiensi dengan semua tokoh senior asal Flores di Jakarta, termasuk pemangku adat, juga politisi di Senayan.

Rakyat Flores sudah melakukan dua kali kongres, kedua pada 2015, dan telah dibentuk Panitia Persiapan Pembentukan Provinsi Kepulauan Flores (P4KF) yang diketuai Bupati Ngada saat itu (Marianus Sae) dan Sekjen Adrianus Jehamat.

Frans Mado, Koordinator Luar Negeri P4KF untuk wilayah Australia, mengatakan P4KF telah secara resmi memintai Gubernur NTT saat itu (Frans Lebu Raya) untuk membuat surat rekomendasi agar diajukan ke Pemerintah Pusat, tapi sayang FLR tidak mengindahkan.

Perjuangan pembentukan Propinsi Flores dimulai sejak Mei 1956, tapi dinamika politik di NTT tidak kondusif, selain akibat perbedaan pandangan di kelompok elit Flores.

Pada perkembangan terakhir, dengan digelarnya dua kali kongres tahun 2015, seluruh Bupati di daratan Flores, Alor, Lembata, para anggota dan pimpinan DPRD kabupaten, telah mendukung aspirasi rakyat untuk pembentukan Propinsi Kepulauan Flores.

Kondisi obyektif Flores saat ini sudah berbeda dan Gubernur NTT saat ini (Viktor B Laiskodat) memberi harapan besar bagi pembentukan Propinsi Kepulauan Flores.

“Mengamati perkembangan ekonomi politik NTT sendiri selama 20 tahun terakhir tidak seperti apa yang kita harapkan. Presiden bergantian sekian kali, NTT tetap tidak banyak berubah. Maka opini Propinsi Kepulauan Flores kita dengungkan kembali, proklamirkan kembali,” ujar Vincent Wangge, tokoh Flores di Jakarta yang juga Ketua Umum Federasi Media Informatika dan Grafika (FMIG).

Vincent menilai kehadiran Gubernur NTT saat ini tidak terlalu kaku, tidak punya ikatan idiologis apapun, dan seorang sosok praktisi, maka Gubernur Viktor Laiskodat akan lebih welcome untuk mendorong pembentukan Propinsi Kepulauan Flores.

Jika berkaca pada Gorontalo, Propinsi ini mekar dari Sulawesi Utara hanya dengan empat kabupaten saja. Sementara NTT saat ini mencapai 22 kabupaten. Gorontalo memilih pisah dari Sulut karena terbelakang dan tidak diperhatikan pemerintah. Saat ini Gorontalo sudah sangat berkembang. Sementara Papua Selatan akan mekar dari Papua.

“NTT terlalu lama tersandera oleh historisnya sendiri, dan kita tetap miskin. NTT dengan Papua tidak jauh berbeda baik indeks pembangunan manusia (IPM) terendah secara nasional, juga mutu pendidikan,” ujar Alex Dungkal, wartawan senior dan peneliti.

Hal yang paling mendasar untuk NTT adalah kemiskinan. Maka pembentukan Propinsi Kepulauan Flores adalah urgent, ujar Wilfridus Yons Ebit, politisi Gerindra juga Ketua Umum Garda NTT.

Yohanes Gore Jemu, Koordinator P4KF untuk wilayah Jabodetabek, menegaskan bahwa pemekaran propinsi atau kabupaten adalah konsep konstitusi, salah satu konsep pembangunan sebuah negara yang ditawarkan kepada daerah dan masyarakatnya.

“Tidak perlu kita alergi atau pesimistis karena mekar bukan konsep masyarakat Flores, sumba, atau Timor tetapi konsep yang ditawarkan oleh negara. Masyarakat diajak untuk menjabarkan dan membahasakannya, bagaimana perintah konstitusi, bagaimana sebuah perubahan wilayah apabila diikuti dengan strategi desain untuk sebuah tata kelola pemerintah yang baik menuju sebuah kemakmuran masyarakat.”

Wilfridus Beso, salah satu koordinator gerakan kelompok cendikia Flores di Jakarta untuk pembentukan Propinsi Kepulauan Flores, mengatakan tim sudah mulai bekerja dan akan berjuang all out mewujudkan terbentuknya Propinsi Kepulauan Flores. Turut terlibat dalam tim adalah Silvester Mbete (tokoh senior), Frans Watu, Simply Keitimu, Elias Ware, Gustaf Tamo Mbapa, Marlin Mbato, Frans Muga, Fredi Batari, Fenan, Albertus Peding, Vantry, dan Hans Obor.