DEPOK (eNBe Indonesia) – Komunitas Jurnalis NTT di Jabodetabek berharap Gubernur NTT Viktor B Laiskodat dan Wakil Gubernur Yosep Nae Soi tetap bekerja dan fokus pada program pembangunan yang telah dicanangkan, setelah melakukan reformasi birokrasi secara luar biasa dalam tahun pertama pemerintahan.

Birokrasi NTT sedang melakukan reformasi mental secara luar biasa karena ingin NTT segera bangkit dari tidur panjang. Setelah 61 tahun usia, NTT tampak tak beranjak dari kemiskinan, minimnya SDM akibat rendahnya mutu pendidikan.

Lucky Koli, Kepala Bappeda dan Litbang Provinsi NTT, mengatakan pemerintah NTT sekarang menghadapi kompleksitas masalah yang tidak ringan. Beberapa indikator menunjukkan, indeks pembangunan manusia (IPM) berada pada level yang rendah secara nasional (sekitar 66), IMP nasional di atas 70. Rata-rata usia sekolah sekitar 7,3 tahun. Semakin tinggi level pendidikan, partisipasi semakin rendah. Dari 98% anak-anak NTT masuk SD, hanya 72% lulusan SD masuk SMP, 52% lulusan SMP masuk SMA. Sekitar 48% siswa SD tidak tamat.

Pendapatan per kapita NTT juga paling rendah secara nasional, hanya Rp7,56 juta per tahun. Akumulasi IPM, pendidikan, pendapatan akibatkan kemiskinan NTT berada di level 20% lebih. Indeks ketergantungan hidup pun tinggi sekali (0,68), artinya 1,100 yang bekerja harus membiayai 40,068 orang.

Infrastruktur jalan yang masih buruk akibatkan rendahnya akses pada sentra-sentra produksi, sulitnya distribusi dari sentra produksi, tingginya biaya transportasi. Akhirnya, harga barang yang diproduksi masyarakat menjadi murah, tidak bersaing.

Faktor-faktor minus ini terakumulasi, lalu membuat NTT terpuruk, tertinggal, dan sampai hari ini NTT masih menempati posisi ketiga terbawah (provinsi miskin). Maka itu, kata Lucky, Gubernur Viktor Laiskodat mengambil langkah ekstrim (tidak biasa), melakukan reformasi birokrasi, mengurangi perangkat daerah dari 49 menjadi 39, agar birokrasi bekerja lebih cepat, penuh dengan inovasi, tidak banyak prosedur.

Gubernur dan pemerintahan sekarang pun merubah pola perencanaan pembangunan, tidak lagi fokus pada sektoral yang selama ini hanya menghabiskan energi. “Sekarang kita bangun ekosistem baru, dan masyarakat menjadi bagian dari pemerintah, didorong dan fokus pada prioritas pembangunan dalam lima tahun ke depan,” jelas Lucky saat berdiskusi dengan komunitas jurnalis NTT di Jabodetabek pada Jumat pekan lalu (24/1).

Prioritas pemerintah NTT adalah menurunkan tingkat kemiskinan karena ini masalah paling fundamental berkaitan dengan generasi dan sumber daya manusia. Pemerintah pun mempersiapkan skema-skema pembangunan ekonomi dan ekosistem masyarakat ekonomi NTT.

“Konsepnya sederhana, kita pindahkan semua barang atau jasa dari kampung-kampung terisolir ke pelabuhan, sentra ekonomi, sentra konsumsi, serta transportasi, untuk nanti kita menentukan posisi. Ingat, potensi komoditas NTT luar biasa besar mencapai 200,000 tons, tersebar di mana-mana,” jelas Lucky.

Jambu Mete NTT terbaik di negeri ini, meraih juara 1 nasional untuk komunitas dan koperasi, sementara kopi dan kakao masuk 8 besar nasional, tetapi tidak memiliki nilai, dan tidak memiliki posisi tawar yang kuat.

Karena itu, menurut Lucky, komoditas NTT ini perlu dikapitalisasi, diintegrasikan, bekerja sama dengan para Bupati seluruh NTT untuk menentukan komoditas yang sama memiliki titik keluar atau distribusi. Petani harus dibantu setelah sekian lama komoditas dimonopoli tengkulak. Sistem distribusi harus diperbaiki.

Pembangunan jalan, kata Lucky, akan diselesaikan dalam 3 tahun. Tahun ini, NTT bangun jalan sepanjang 470 km dengan biaya hampir Rp1 triliun, diselesaikan sebelum Oktober. Skema pinjaman Rp900 miliar untuk pembangunan jalan dibagi dua tahap, yakni Rp450 miliar, untuk selesaikan 906 km jalan, jalan propinsi menghubungkan sentra produksi, konstruksi, dan perbaikan waktu tempuh distribusi barang dan jasa.

“Ini akan mengatasi masalah kemiskinan, rendahnya pendapatan, masalah pendidikan, kesehatan, dan ini jadi penyangga utama untuk sektor pariwisata sebagai prime mover ekonomi,” jelas Lucky.

Lucky menambahkan, Labuan Bajo dikembangkan sebagai destinasi hub, sementara kawasan wisata di Flores dijadikan interland, seperti Sumba interland dan Timor interland. Pemerintah NTT juga mengembangkan kawasan ekonomi khusus untuk ciptakan sumber pertumbuhan baru, di Maumere, Sumba Timur, dan Teluk Kupang.

Pemerintah NTT bersama investor telah mengembangkan industri galangan kapal, beroperasi bulan Oktober tahun ini, investasi besar dan bisa menyerap hingga 4,000 tenaga kerja. Tahun ini pemerintah NTT juga mengembangkan garam industri di Kupang, Malaka, Nagekeo dengan kapasitas produksi sebesar 2 juta metrik ton, mengontribusi sekitar 40-50% kebutuhan garam nasional.

“Gubernur beri shock therapy (bagi ASN) agar terjadi lompatan-lompatan besar. Kita siapkan design operasional anggaran tahun 2020, intens lakukan komunikasi birokrasi. Jika skema-skema pembangunan ini berjalan pada rel (track) maka NTT akan berubah pada akhir 2020 ini, Semoga tidak terjadi force majeur, situasi yang kontra dengan design ini,” jelas Lucky.

Abraham Runga Mali, mantan Redpel Bisnis Indonesia, mengapresiasi kinerja Gubernur Viktor Laiskodat dalam tahun pertama memimpin NTT, sosok pengusaha yang berpikir lebih out of the box. “Viktor menjadikan pariwisata jadi prioritas, ini hebat. Berkat lobby dan diplomasi, pemerintah pusat pun akhirnya berpikir tentang pariwisata NTT. Menurut saya, setahun terakhir dia (Viktor) on the right track“.

Abraham juga apresiasi karena pemerintah NTT saat ini juga fokus mengembangkan industri untuk memberi dampak ekonomi jangka menengah. Sektor pariwisata akan berdampak jangka panjang. “Kalau pembangunan jalan benar-benar dikerjakan, ini Gubernur hebat,” ujar Abraham.

Bruno Kaka Wawo, wartawan senior yang juga mantan anggota DPR RI, mengingatkan bahwa faktor pemimpin menjadi problem utama tidak berkembangnya NTT, baik ekonomi dan manusianya. “Kita belum punya sosok gubernur yang adalah pemimpin, tetapi hanyalah pendoa.”