Oleh Abraham Runga Mali*)

Adi Murtoyo, Wapemred Koran Jakarta (Korjak) milik pengusaha gula Gunawan Jusuf, meninggal pada Minggu (2/2) akibat penyakit gula dan autoimun. Adi Murtoyo (AMU), Rofikoh Rochim (RR) dan Muhammad Teguh (MT) adalah tim reporter bursa Bisnis Indonesia pada era 1990-an. Mereka bertiga punya latar belakang pendidikan ekonomi di UGM. Jadi, saya balajar banyak dari mereka.

Kemudian kelompok ini pecah. RR belajar ekonomi di Sorbone (Perancis), meraih doktor dan sekarang komisaris Bank BRI. Teguh pindah ke Tempo dan sekarang jadi Pemred Liputan 6. Adi kemudian ke Korjak dan jadi Wapemred di Korjak. Saya yang tetap bertahan di Bisnis Indonesia.

Dari yang lain, saya lebih dekat dengan AMU. Tamatan ekonomi UGM itu terus terang mengakui dirinya sebagai kejawen. Pulang liputan, kadang dia meminta saya menemani mampir ke pasar untuk membeli bunga. Katanya, untuk ritual kepercayaan. Entahlah.

Tahun 1995 akhir, secara diam-diam, saya dan Adi bersama tiga orang wartawan bursa lainnya, Mikhael Ferdin (Majalah Prospek), Tomy Pardede (Neraca) dan Hadi Hidayat (Republika), merancang sebuah bisnis bersama.

Karena jenis usahanya di bidang informasi, sama dengan kantor tempat kami bekerja, maka bisnis ini dilakukan secara diam-diam. Karena kantor melarang karyawannya untuk mendirikan perusahaan dengan bidang usaha yang sama.

Saya belum lupa, nama entitasnya adalah PT Maaton Aksara Grafika. Masing-masing menyetor modal dan menjadi pemegang saham 20% di perseroan itu.

Nama produknya Speed News. Semacam berita online. Jadi sebelum ada satu pun produk website dan berita online beredar di negeri ini, kami sudah lebih dulu memulai. Kami berkantor di Jl. Tebet Timur Raya.

Saat itu, memang sudah ada internet dan email. Namun kekuatan dan pergerakannya masih sangat lamban. Lalu, bagaimana Speed News bekerja? Produk ini dibuat khusus untuk merilis berita-berita bursa dan keuangan.

Dari pengalaman reportase kami berlima, para investor di bursa selalu bertanya kepada wartawan, apa berita yang akan keluar besok pada koran masing-masing. Jawaban atas pertanyaan ini penting karena para investor ingin mengambil posisi lebih awal dari yang lain. Istilah kerennya, mereka ingin berjalan mendahului kurva.

Misalnya, di Bisnis Indonesia besok akan memuat berita tentang Indoofood akan mengakusisi sebuah perusahaan di Filipina. Karena biasanya harga saham bergerak berdasarkan persepsi, maka berita Indofood seperti di atas dianggap memiliki sentimen positif dan akan mengerek naik harga saham Indofood.

Maka investor-investor yang lebih dulu mengetahui tentang berita keesokokan harinya, sudah mengoleksi saham dan akan menjual besok ketika berita terbit dengan pengandaian: aksi korporasi seperti yang dimuat dalam berita itu mempengaruhi persepsi investor, dan mereka beramai-ramai membeli saham Indofood, dan harga saham itu pun segera melonjak.

Para pemodal yang lebih dulu mengetahui informasi itu dan yang pada hari sebelumnya mengoleksi pada harga yang rendah, bisa mendapat keuntungan dengan selisih harga. Bayangkan saja begini. Pada hari sebelumnya— saat tau berita akan dimuat—harga saham Indofood berada di level Rp 6.500. Saat membaca berita tersebar keesokokan hari, harganya menjadi Rp7.000 per lembar, maka ada margin sebesar Rp500.

Coba bayangkan, kalau investor itu sudah lebih dulu membeli 2 juta lembar sahan. Berapa keuntungan dalam sehari, hanya karena lebih dulu punya informasi itu? Ya Rp1 miliar dalam sehari, tanpa harus berkeringat. Tentu saja, kalau itu nasibmu lagi bagus.

Di lain waktu, ketika salah berhitung—karena tidak mudah membaca persepsi publik–plus tidak bisa mengendalikan nafsu untuk untung besar, maka kalau merugi, Anda bisa tengkurap hingga ‘rata tanah’. Makanya banyak sekali orang mengalami stress di sana, tidak jarang yang bunuh diri juga. Terutama, bagi investor yang punya horison jangka pendek, yang ingin untung dalam satu dua hari, dengan mencari selisih dari fluktuasi harga saham.

Apapun, saya ingin menegaskan bahwa informasi itu begitu berarti di bursa. Itulah sebabnya, banyak regulasi di pasar modal yang mengatur perihal informasi. Transparansi dan pemerataan informasi adalah tuntutan sebuah bursa.

Seseorang yang karena mendapat bocoran dari perusahaan publik atau otoritas pemerintah, dan informasi itu dijadikan dasar keputusan untuk menjual dan membeli saham, ini masuk dalam kategori kejahatan insider trading, karena ada insider information di sana.

Karena prinsipnya, emiten (perusahaan publik) harus benar-benar transparan dan menyabarkan informasi secara merata, biar tidak hanya satu dua orang saja yang mendapat untung. Demokrasi adalah watak pasar modal yang sesungguhnya. Manipulasi informasi atau hoax adalah kejahatan. Kira-kira begitu. Kalau ketahuan melanggar, hukuman dan dendanya berat. Walaupun tentu saja tidak mudah menemukan kesalahan-kesalahan sejenis ini.

Skandal Waterloo

Dalam sejarah, peristiwa Waterloo adalah contoh manipulasi informasi yang paling heboh di dunia pasar modal. Ini terkait berita peperangan Inggris versus Prancis di Waterloo 1815. Frederic Morton yang menulis The Rotschilds: A Family Portrait (1962) bercerita tentang seorang bernama Nathan Rotschilds, pendiri kerajaan bisnis yang kaya raya hingga saat ini.

Saat itu, Nathan yang sudah lebih dulu mengetahui kekalahan Napoleon Bonaparte menyebarkan hoax bahwa Inggris kalah dalam pertempuran itu.  Bursa London pun langsung panik. Para investor langsung menjual surat berharga di bursa. Melalui agen-agennya, Nathan membeli semua aset-aset itu. Esoknya, saat pengumuman resmi kekalahan Prancis, harga surar-surat berharga melonjak tajam dan Nathan mendapat keuntungan besar. (Bdk, Abraham Runga, Insight: Hoax, Bisnis, 19 September 2017).

Pengalaman akan pentingnya informasi itu menjadi model bisnis Speed News. Dari Tebet, berita-berita tentang perusahaan yang diperkirakan akan terbit besok, sudah kami buat dan siap didistribusikan kepada sejumlah klien yang menjadi pelanggan. Ya mirip cara kerja media online saat ini, atau kantor-kantor berita seperti Antara, Reuters atau Bloomberg.

Karena Internet belum sepenuhnya diandalkan, kami memakai dua cara. Pertama, dikirim lewat email. Kedua, lewat fax. Produk lewat fax tentu paling banyak diminati. Dalam setahun, kami sudah mendapatkan 647 pelanggan. Setiap bulan dikenakan charge US$500. Jadi sebulan perusahaan mendapatkan US$323.500. Dengan kurs dolar masih Rp2000 saat itu, maka perusahaan mengantongi Rp647.000.000 per bulan.

Setelah dikurangi biaya kontrakan rumah dua lantai Rp60 juta per tahun, dan gajian karyawan sekitar 24 orang, keuntungan bersih masih besar. Lumayan untuk usaha sampingan. Padahal, peluang untuk menambah nasabah masih besar.

Di Tebet, saya menempati satu kamar di lantai dua. Karena belum menikah saat itu, seusai bekerja di Bisnis, saya selalu menuju Tebet. Kalau tidak keliru ada empat Alsemat (Alumni Seminari Mataloko) yang sempat membantu di situ, dari angkatan saya: Yan Mbaling dan Amandus Raja Sina, lalu ada dua yunior: Yustin Solakira dan Hans Obor.

Walaupun bekerja agak rahasia, perusahaan sempat berjalan dua tahun. Krisis datang tahun 1997, klien mundur satu demi satu karena tidak memiliki uang untuk mambayar. Sampai sekarang, di Bisnis, cuma satu dua orang yang tahu kalau saya dan Adi Murtoyo ikut memproduksi Speed News.

Yang jadi cilaka, Bisnis sempat berlangganan beberapa bulan untuk melengkapi langganan kantor berita seperti Antara, AFP, Reuters dan Bloomberg. Ketika suatu saat saya disuruh mengutip Speed News, pimpinan saya, sempat bertanya, “Punya siapa ya barang ini? Bagus juga ya.” Saya berpura-pura tidak mendengar.

Kalau saja dia tahu saat itu, maka usia saya di Bisnis mungkin tidak mencapai satu dekade. Padadahal saat itu, Bisnis lagi berada pada masa kejayaan. Satu-satunya koran paling bergengsi di pasar modal, dan mengambil untung sangat optimal dari informasi, iklan dan pengumuman di bursa. Seingat saya setahun karyawan bisa mendapatkan gajian hingga 18 kali.

Mencari bisnis tambahan di luar bukan karena semangat berwirausaha, tapi lebih karena kegenitan dalam eksplorasi intelektual semata. Oh ya suatu saat, melalui Michael Ferdin, Pak Valens Doy, senior Kompas yang jadi konsultan Majalah Prospek datang mengunjungi kantor.

Melihat cara kerja Speed News, dia geleng-geleng kepala sambil berujar. “Kalian anak muda hebat. Bisa jadi besar barang ini.” Sayang, krisis moneter datang, pelanggan berkurang, mulai bermunculan media-media digital, kami langsung kehilangan gairah untuk melanjutkan.

Beruntung saja, hampir semua yang bekerja di sana diterima di berbagai media online dan perusahaan media lainnya. Yan Mbaling misalnya ke media online bursa, Yustin ke Jakarta Post, Hans ke Humas PT Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan seterusnya.

Tadi pagi (Minggu), saat berita meninggalnya Adi Murtoyo tersebar, mantan karyawan Speed News yang masih bernostagia dan berkelompok di grup WA sendiri, mengungkapkan rasa belasungkawa mereka. Saya tentu saja bersedih, dan sempat mengingat masa-masa indah di Tebet Timur Raya. Itulah sebabnya saya menulis pengalaman ini. Selamat jalan Mas AMU. Beristirahatlah dalam damai.

*) Penulis adalah mantan Redpel Bisnis Indonesia dan founder Speed News