DEPOK (eNBe Indonesia) – Ketua PAN Zulkifli Hasan telah dipilih kembali melalui konggres pimpinan Partai. Fakta, ia masih didukung oleh pendiri PAN Amien Rais dan sedang menghadapi penyelidikan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Zulkifli tampaknya tetap menjabat wakil ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dan tetap berada di level pimpinan PAN hingga 2025.

Zulkifli terpilih kembali setelah mendapatkan 331 suara pada hari Selasa (11/2). Dua pesaingnya, Mulfachri Harahap dan Dradjad Wibowo, masing-masing mengumpulkan 225 suara dan 6 suara. Kandidat lain Asman Abnur, sementara itu, mundur.

Mundurnya Asman Abnur pada menit terakhir diyakini menjadi faktor penting di balik terpilihnya kembali Zulkifli. Zulkifli mungkin telah mendapatkan suara pendukung Asman. Asman, yang dikenal dekat dengan Zulkifli, kemungkinan akan mendapatkan posisi strategis dalam jajaran baru Badan Eksekutif Pusat (DPP) PAN.

Bentrokan antara pendukung Zulkifli dan Mulfachri tidak bisa dihindari. Mereka saling melempar kursi sebelum pemungutan suara diadakan. Akibatnya, beberapa orang terluka parah. Orang bertanya-tanya apakah konflik internal ini akan berlanjut dan membagi Partai menjadi dua faksi yang bertikai, seperti apa yang terjadi di Golkar dan PPP. Orang juga bertanya-tanya apakah Zulkifli dapat memulihkan hubungannya dengan Amien Rais, yang juga ayah mertua putrinya. Amien, seperti yang telah kami laporkan sebelumnya, adalah orang yang mendukung Mulfachri. Tidak diragukan lagi, menyatukan kembali Partai akan menjadi pekerjaan rumah terbesar Zulkifli.

Pertanyaannya sekarang, bagaimana Zulkifli akan memposisikan PAN? Seperti yang telah kami sebutkan sebelumnya, Zulkifli berkeinginan untuk memimpin PAN sejalan dengan Presiden Joko “Jokowi” Widodo dalam pemilihan presiden 2019, tetapi Amien bersikeras bahwa Partai harus mendukung Prabowo Subianto. Jadi masuk akal untuk percaya bahwa Zulkifli mungkin menyelaraskan PAN dengan koalisi Jokowi yang berkuasa kali ini.

Tetapi penting untuk dicatat bahwa Presiden tidak benar-benar membutuhkan sekutu lagi saat ini. Memang, memaksa PAN ke dalam koalisi yang berkuasa bisa melukai Zulkifli. Terlalu dini mengingat dia belum menyelesaikan konflik internal dengan pendukung Amien Rais-Mulfachri Harahap. Zulkifli dengan demikian mungkin memposisikan PAN di luar koalisi Jokowi. Tapi dia bisa menjaga level oposisi yang rendah.

Pertanyaan lain terkait dengan penyelidikan KPK terhadap Zulkifli. Seperti yang telah kami laporkan sebelumnya, Zulkifli menghadapi investigasi terkait kasus korupsi terkait dengan kawasan konversi hutan di provinsi Riau ketika KPK meninjau kembali kasus tersebut. KPK telah memanggil Zulkifli dua kali, tetapi ia tidak memenuhi panggilan tersebut. Pada 24 Juni 2014, Zulkifli sudah diperiksa oleh KPK dalam kasus yang sama – melibatkan mantan Gubernur Riau dan pemimpin kunci Partai Golkar Annas Maamun. Pada saat itu, ia ditanyai tentang kasus korupsi lain dari izin konversi kawasan hutan yang melibatkan Bupati Bogor Rachmat Yasin, Kota Sentul (BKSL) Boss Kwee Cahyadi Kumala alias Swie Teng, dan Direktur PT Bukit Jonggol Asri (BJA) Francis Xaverius Yohan Menyalak.

Zulkifli kemungkinan khawatir bahwa ia akan berakhir sebagai tersangka dalam kasus tersebut. Jika KPK menyebutkannya sebagai tersangka, ia kemungkinan akan kehilangan posisi kepemimpinannya di PAN. Ini adalah alasan mengapa Zulkifli mungkin sangat ingin mempertahankan hubungannya dengan Jokowi, mengingat bahwa KPK yang baru pada dasarnya berada di bawah Presiden. Tetapi tidak ada jaminan bahwa ia dapat lolos dari penyelidikan KPK bahkan jika ia memiliki hubungan yang baik dengan Presiden. (yosefardi.com)