DEPOK (eNBe Indonesia) – Indonesia mencatat defisit perdagangan US$870 juta pada Januari 2020, terutama karena defisit perdagangan minyak dan gas sebesar US$1,18 miliar. Presiden Joko ‘Jokowi’ Widodo harus segera mengambil keputusan berani untuk meningkatkan produksi minyak dan gas dalam negeri di tengah meningkatnya konsumsi. Sementara program biodiesel dapat mengurangi impor produk olahan, mencegah penurunan produksi minyak mentah dan surplus gas alam tidak dapat sepenuhnya dikompensasi oleh biodiesel.

Pendapatan ekspor Indonesia turun 3,71% menjadi US$13,41 miliar pada Januari 2020, terutama karena penurunan 34,73% pada ekspor minyak dan gas, yang disebabkan oleh besarnya penurunan pendapatan dari minyak mentah dan gas alam. Pemerintah, seperti yang kita tahu, mewajibkan produsen minyak dan gas untuk menjual produk ke kilang domestik yang dioperasikan oleh Pertamina.

Pendapatan dari gas alam juga turun 44,45% menjadi US$604,1 juta akibat penurunan harga rata-rata dan 21,21% penurunan volume gas yang diekspor. Impor gas alam, di sisi lain, melonjak 107,8% menjadi US$369,1 juta pada Januari. Volume impor gas alam juga melonjak 62,51% menjadi 684.500 ton. Meningkatnya konsumsi domestik di satu sisi dan penundaan operasi ladang gas baru akan terus memotong surplus gas alam Indonesia.

Pemerintah harus lebih agresif dalam memberikan insentif, termasuk dalam pengembangan batubara-ke-gas dan batubara-ke-cair/bahan kimia. Selain itu, defisit minyak dan gas akan tumbuh lebih lanjut di tahun-tahun mendatang.

Non Migas

Ekspor nonmigas (bukan minyak dan gas) hanya turun 0,69% meskipun volume turun 8,41%. Ekspor besi dan baja meningkat 28,18% menjadi US$821,7 juta di Januari dibanding bulan sebelumnya, sementara otomotif tumbuh 7,83% menjadi US$616,9 juta.

Impor besi dan baja, menariknya, turun 41,46% menjadi US$700,8 juta, menghasilkan surplus sebesar US$121 juta pada besi & baja. Pemerintah baru-baru ini berjanji untuk melindungi industri baja dalam negeri terhadap produk-produk impor, terutama dari China. Tahun lalu, besi dan baja menyumbang US$7,41 miliar dari pendapatan ekspor, meningkat hampir 29% dari tahun 2018. Namun, impor mencapai US$10,39 miliar, menyisakan sekitar US$3 miliar defisit di sektor ini.

Otomotif dan suku cadang melaporkan pertumbuhan impor rata-rata menjadi US$627,9 juta pada Januari, hanya menhgasilkan defisit US$11 juta di sektor ini. Tahun lalu, impor otomotif dan suku cadang mencapai US$7,16 miliar, sementara ekspor tumbuh menjadi US$8,16 miliar, menghasilkan surplus hampir US$1 miliar.

Mengingat investasi agresif oleh perusahaan-perusahaan Cina dalam pengolahan logam, Indonesia mungkin menghasilkan lebih banyak surplus perdagangan di seluruh rantai (logam-ke-baja) di tahun-tahun mendatang. Industri baja dalam negeri yang lebih kuat juga dapat mendukung industri otomotif dan komponen.

Namun, komoditas akan terus mempengaruhi seluruh neraca perdagangan. Harga rata-rata rendah batubara termal, minyak kelapa sawit mentah (CPO), dan karet alam, termasuk dampak wabah Coronavirus, akan menjadi tantangan di paruh pertama tahun 2020.

Faktor Cina

Ekspor nonmigas Indonesia ke China mencapai US$2,1 miliar pada Januari 2020, turun 9,15% dari Desember 2019. Ini mungkin disebabkan oleh harga rata-rata batubara termal, minyak sawit, dan karet alam yang lebih rendah di bulan tersebut. Keputusan pemerintah untuk menghentikan ekspor bijih nikel juga berkontribusi pada kejatuhan.

Di sisi lain, impor produk nonmigas dari China turun 3,08% menjadi US$4,14 miliar. Defisit US$2 miliar tetap menjadi masalah besar dalam hubungan Cina-Indonesia ke depan. Untuk tahun 2019, Indonesia mengimpor produk non-migas senilai US$44,57 miliar dari Cina, sementara ekspor Indonesia ke ekonomi terbesar kedua itu hanya meningkat 5,92% menjadi US$25,85 miliar. Kami berharap pemerintah akan menangani defisit sebesar itu (US$18,7 miliar) secara serius. (yosefardi.com)