Yulius Riba

Oleh Yulius Riba *)

Fakta saja tidak cukup karena ada realitas dibaliknya yang akan membuka tabir fakta, membentangkan semua fenomena menjadi sebuah kebenaran yang sejati (YR).

Komunitas dan Masyarakat

Ferdinand Tönnies, sosiolog Jerman, kelahiran Oldenworth, Schleswig, 26 Juli 1855 dan meninggal di Kiel 11 April 1936, adalah seorang profesor sosiologi di Universitas Kiel (1909-1933). Dalam bukunya Gemenischaft und Gesellschaft (tahun 1887), Tönnies mengkalsifikasikan ikatan sosial menjadi dua dikotomi tipe sosiologis.

1️⃣ Gemeinschaft
Adalah sebuah komunitas yang anggota-anggotanya berhubungan secara erat; intim, eksklusif, dan privat. Gemeinschaft teraktualisasi dan eksis dalam keluarga inti, dalam rumah tangga. Di sana perasaan kasih sayang, sikap empati, dan simpati bermula. Darinya keberadaban, etika, tata krama, sopan santun, dan karakteristik anggota-anggotanya mula-mula dibentuk.

2️⃣ Gesellschaft
Adalah sebuah kelompok masyarakat yang dibentuk oleh anggota komunitas primer yang membawa serta sifat dan karakter dasar dari lingkungan primernya.

Gesellschaft menurut Tonnies ialah aspek tanpa bentuk kepribadian, bersifat instrumental dan memang telah diciptakan dan ditunjukkan oleh kenyataan sosial.

Seminari

Secara Etimologis nenek moyang kata Seminari berasal dari kata Latin, ‘semen’ yang berarti benih, bibit yang siap disemaikan. Dari sana turunlah kata ‘seminarium’ yang artinya tempat pembibitan, tempat persemaian, tempat pembinaan khusus bagi para calon imam. Bibit atau benih-benih itu dipanggil ‘seminaris’, para remaja, anak-anak yang tergetar oleh ilham khusus, yang terpanggil menjadi calon imam.

Secara sederhana, Seminari berarti tempat penyemaian benih. Benih panggilan rohani secara khusus bagi para remaja untuk menjadi imam. Di sana seminaris membentuk kepribadian, membangun karakteristik, dan menumbuhkan benih-benih panggilan khusus dalam jiwanya, membuat getran-getran halus panggilan menjadi hentakan-hentakan, geliat gairah, gelora birahi untuk menjadi imam di bawa bimbingan, arahan para mentor (biarawan, pastor dan atau frater).

Dari mana para seminaris ini berasal?
Dari mana seminaris mengasalkan karakter dan kepribadiannya?
Dari rahim kita.
Dari keluarga kita.
Dari rumah kita.
Dari komunitas Gemeinschaft. Sifat gen dan karakter dasar diwariskan dan dibangun dari rumah kita.

Bagaimana sebuah keluarga membentuk kekhasan dirinya? Dari lingkungannya. Pendidikannya, agamanya, masyarakat geheselscahftnya, masyarakat sekitar rumahnya, KUB tempat mereka membangun religiusitas, Gereja tempat mereka membangun persekutuan diri dengan Tuhan.

Ketika anak-anak kita belum mampu membentuk karakteristiknya di seminari, mereka belum sungguh jujur mengakui perbuatan, mereka belum berani mengambil beban tanggung jawab atas perbuatannya, mereka belum mampu mengendalikan gelora jiwa mudanya, dorongan emosi liarnya yang membuat mereka melakukan sesuatu diluar batas kewajaran seturut pemahaman ‘orang-orang dewasa’;
🌶️Mengapa kita cepat sekali menghujat dan mengadili Seminari?
🌶️Mengapa kita begitu gampang menjadi hakim kebaikan?
🌶️Mengapa kita begitu lancang menunjuk jari dan menvonis?

🍓Dimana peran keluarga sebagai tempat awal sebuah pendidikan dibangun?
🍓Dimana peran KUB tempat mereka membangun religiusitasnya yang spiritual?
🍓Dimana peran gereja yang menyekutukan mereka ke dalam pelukan mesrah Yesus yang maha pengampun dan maha cinta?

Kita lancang.
Kita sungguh lancang.
Kita terlalu lancang.
Menuduh Seminari menjadi biang semua kesalahan anak-anak kita.
Mengadili Seminari karena kegagalan kita menghasilkan bibit unggul dalam keluarga kita.

Ferdinand Tönnies, sosiolog Jerman, membagi tipe sosiologisnya atas komunitas dan masyarakat, Gemenischaft und Gesellschaft, bukan agar Gemeinschaft, keluarga, melepas tanggung jawab atas gagalnya peran mereka, bukan agar Gemenischaft, keluarga, menjadi hakim ketika bibit mereka gagal tumbuh mekar di lahan subur Seminari.

🏒Maka mestinya ‘kebelummampuan’ anak-anak kita membuang emosi liar khas remaja dalam menghadapi tekanan psikologis mereka membuat kita dan Seminari, Gemenischaft und Gesellschaft, membuka diri, membangun komunikasi yang lebih beradab.
🏒Maka mestinya kebelumberanian anak-anak kita mengakui perbuatannya membuat kita, Gemenischaft und Gesellschaft, saling membahu menemukan jalan keluarnya.
🏒Maka mestinya kebelumdapatan anak-anak kita memikul tanggung jawab yang lebih besar karena keterbatasan ilmu, wawasan, dan kedewasaan mereka mengokohkan kita, Gemenischaft und Gesellschaft agar lebih padu memperkuat dua peran sekaligus keluarga dan Seminari.

Seminari gagal karena sebagai keluarga, orang tua, komunitas, kita gagal menjadikan rumah kita, keluarga kita, komunitas kita, KUB kita, Gereja kita, sebagai Seminarium awal anak-anak kita dididik, dibentuk, dipoles menjadi lebih etis, bermoral, dan beradab.

(Tulisan ini adalah sebuah refleksi tentang keluarga, Seminari, dan kasus yang viral di media sosial terkait kenakalan siswa Seminari Menengah Bunda Segala Bangsa/BSB Maumere, Flores)

*) Penulis adalah Alumnus Seminari Todabelu Mataloko, Flores