DEPOK (eNBe Indonesia) – Semua orang menolak sampah jika bertebaran di mana-mana, tetapi tidak semua orang sepakat jika plastik itu juga sampah. Maklum, manusia sudah sangat bergantung pada kebutuhan akan plastik.

Gereja Katolik juga memberi perhatian serius pada sampah, karena sampah itu mecemari, merusak, menghancurkan kehidupan dan bumi, bertentangan dengan kesempurnaan bumi dan kehidupan yang dianugerahkan Allah kepada manusia.

Kesukupan Bogor, Jawa Barat, pun mendorong umatnya berkiprah menyelamatkan bumi dari sampah plastik, sebagai bentuk pendalaman iman dalam Aksi Puasa Pembangunan (APP) 2020.

Dasar Biblisnya adalah Kitab Yeremia (Yer 18:1-7) yang menyadarkan umat bahwa Allah ingin mempertontonkan pekerjaan-Nya yang baik kepada manusia. Allah tidak menciptakan limbah maupun daur ulang. Semua dibentuk hingga sempurna sebelum dianugerahkan kepada manusia.

Seperti tukang priuk yang membuat bejana dari tanah liat lalu menghancurkannya dan mengerjakan kembali menjadi bejana yang lain, Allah tegas berfirman bahwa Bangsa Israel akan dibinasakan jika mereka tidak bertobat dan memperbaiki tingkah laku dan perbuatan jahat, yang mengikuti kedegilan hati.

Tetapi fakta di dalam kehidupan manusia moderen ini, manusia menggunakan kecerdasannya untuk menciptakan teknologi, termasuk produk plastik untuk kebutuhan hidup manusia. Sudah sulit sekali memisahkan penggunaan plastik dengan kehidupan sehari-hari, meski sadar bahwa plastik adalah sampah yang tidak bisa diurai atau didaur ulang. Jika dibakar pun, ada zat berbahaya dari plastik yang akan membunuh manusia.

Ironisnya, gerakan anti plastik mulai masif dicanangkan termasuk swalayan-swalayan, muncul banyak pengusaha yang mengembangkan toko plastik karena tergiur keuntungan. Segmen konsumen yang memilih menggunakan plastik tetap ada. Selain tahan lama, plastik, juga dinilai murah.

Ririn Habsari, pemandu pendalaman iman bagi umat di Paroki Herkulanus Depok, mengakui bahwa tidak semua anti pada sampah plastik, tetapi umat tetap bisa menggunakan produk plastik secara bijaksana untuk mengurangi dampak dari limbah plastik bagi kehidupan manusia dan alam.

Ririn mengajak agar umat mulai mengurangi produk plastik, yang kurang dibutuhkan apalagi memberi dampak sampah luar biasa. Jika memang masih menggunakan produk plastik karena sangat dibutuhkan, gunakan produk itu secara bijak termasuk mengurangi (reduce) atau memilih produk berbahan plastik yang bisa didaur ulang (re-cycle) dan re-use.