DEPOK (eNBe Indonesia) – Indonesia berharap ekonomi yang lebih baik tahun ini berkat serangkaian reformasi dan penyelesaian beberapa proyek infrastruktur. Tekanan eksternal, bagaimanapun, muncul dimulai sejak Januari dengan ketegangan AS-Iran, diikuti oleh wabah Coronavirus. Indonesia memang mencatat 1,27 juta turis asing yang datang ke Indonesia pada Januari, meningkat 5,85% dibanding bulan yang sama tahun lalu, tetapi pembatasan perjalanan dan penerbangan akibat virus corona akan mengganggu prospek pariwisata tahun ini.

Akan semakin sulit untuk mencapai target kunjungan turis asing sejumlah 17 juta per tahun. Dunia awalnya tampak meremehkan wabah itu, tetapi sementara kasus-kasus di Cina, episentrum Coronavirus Covid-19, terus menurun dalam beberapa hari terakhir, kasus-kasus di luar China justru meroket. Hari ini, misalnya, Cina melaporkan hanya 125 kasus baru, sementara total kasus baru di luar China mencapai 1.029 dengan lebih banyak kasus dilaporkan di Italia, Jerman, AS, Prancis, dan Iran. Indonesia melaporkan dua kasus pertamanya kemarin (2/3), yang memicu kecemasan di masyarakat.

Sementara kasus wabah di Cina membaik, tapi masih terlalu dini untuk membuat penilaian keseluruhan terhadap situasi akibat wabah di Korea Selatan, Eropa (Italia, Prancis, dan Jerman), Timur Tengah (Iran, dan kemungkinan Irak), tiga dari negara terpadat di dunia (India, AS, dan Indonesia), dan Afrika (di mana dilaporkan kasus di bawah 10).

Korea Selatan masih berisiko dengan 600 kasus baru yang dilaporkan hari ini dengan total 4812 kasus. Bagi Indonesia, Korea Selatan adalah mitra dagang utama, sumber investasi, dan wisatawan, posisi kedua setelah Cina. Setidaknya ada dua investasi besar yang terkait dengan Korea Selatan: Pabrik petrokimia senilai US$ 3,5 miliar di Banten dan fasilitas manufaktur mobil senilai US$ 700 juta dari Hyundai di Jawa Barat.

Jepang, mitra dagang utama Indonesia lainnya, telah menunjukkan kontraksi 6,3% pada kuartal keempat tahun 2019. Wabah Coronavirus memperkuat kemerosotan ekonomi, yang dapat merusak prospek investasi baru Jepang dan proyek ekspansi di Indonesia. Industri pariwisata Jepang terpukul karena Cina dan Korea Selatan, yang menyumbang hampir setengah dari 32 juta pengunjung negara itu tahun lalu, telah berhenti berwisata ke Jepang.

Karena situasi eksternal tidak bersahabat, pemerintah memiliki pilihan terbatas daripada mengandalkan kekuatan domestik untuk memacu pertumbuhan atau setidaknya untuk mencegah koreksi yang lebih dalam. Menanggapi potensi penerimaan pajak yang lebih rendah dari yang diharapkan, pemerintah mungkin memilih untuk memperluas defisit anggaran menjadi 2,5% PDB, memberikan ruang untuk stimulus fiskal. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa stimulus fiskal akan diberikan kepada industri padat karya, yang dapat mencakup bahan baku / fasilitas impor pendukung. Mari kita lihat dari sana … (yosefardi.com)