DEPOK (eNBe Indonesia) – Harga minyak di pasar berjangka anjlok 30% pagi ini menyusul keputusan Arab Saudi untuk meningkatkan produksi minyak mentah dan memangkas harga US$6-8 per barel pada April ini. Keputusan itu dibuat setelah OPEC dengan Rusia gagal sepakat untuk memangkas produksi di tengah penurunan permintaan karena wabah Coronavirus. Jadi, wabah pada dasarnya memicu perang minyak.

Minyak mentah Brent jatuh sebanyak 31% menjadi US$31,02 per barel di perdagangan Asia pagi ini sebelum stabil di US$34,3 (turun 24,6%). Minyak mentah WTI juga anjlok 26% menjadi US$30,8 per barel, level terendah sejak awal 2004.

Ini adalah kabar baik bagi importir seperti Indonesia dan negara-negara di Asia Timur Laut (Cina, Jepang, dan Korea Selatan). Namun, ini membuat hidup semakin sulit bagi negara-negara Timur Tengah, termasuk Arab Saudi dan Iran. Perang harga akan menekan harga saham Aramco, yang sudah merosot di bawah harga IPO mereka (32 riyal) pada hari Minggu (30,85 riyal).

Saham perusahaan minyak dan gas di Asia turun tajam Senin pagi. Santos Ltd, misalnya, jatuh 27% di Sydney, sementara Woodside Petroleum merosot 18%. CNOOC Ltd juga turun hampir 20% di Hong Kong, sementara PetroChina turun hanya 2,5% di Shenzhen. Di Jakarta, Medco Energy anjlok 10% pada menit-menit pembukaan perdagangan, sementara PGAS turun 7,4%.

Bahkan tanpa perang harga yang dipicu oleh Saudi, prospek permintaan minyak semakin memburuk karena Coronavirus telah menyebar di lebih dari 100 negara di hampir semua benua dan memaksa lebih banyak pembatasan dan pembatalan perjalanan. Kegiatan bisnis di Cina, Korea Selatan, dan Jepang mungkin secara bertahap membaik, tetapi ada kekhawatiran di negara yang lain.

Ketika COVID-19 muncul di Cina pada bulan Januari, banyak yang membayangkan sesuatu seperti apa yang terjadi ketika SARS melanda Cina dan Hong Kong pada tahun 2003, yaitu gangguan jangka pendek terhadap pertumbuhan ekonomi China, yang menyebabkan sebagian besar perekonomian global tidak terdampak. Namun virus baru telah menyebar jauh lebih cepat dan lebih luas dari yang diperkirakan. Antara November 2002 dan awal Agustus 2003, SARS menginfeksi 7.400 orang di 32 negara dan teritori dan membunuh 916. Sebaliknya, COVID-19 telah menginfeksi lebih dari 105.000 orang dan membunuh lebih dari 3.600 di lebih dari 100 negara. Dan korban bertambah.

Jmlah kasus baru di luar China melonjak 100 kali lipatk. Pagi ini, Cina melaporkan hanya 40 kasus baru dan 22 kematian, sementara gabungan kasus baru dari Italia dan Iran sudah di atas 2.000 dengan jumlah kematian 182. Jumlah kasus baru di AS telah dua kali lipat dalam 48 jam terakhir dengan 21 kematian.

Digerakkan oleh beberapa ekonomi utama, termasuk Amerika Serikat dan Australia, yang memotong suku bunga dan komitment dana untuk memerangi epidemi (Cina, Eropa, Australia) telah mengurangi kekhawatiran. Tapi rantai pasokan telah lumpuh di seluruh dunia bahkan jika wabah mereda di Asia Timur Laut, pusat manufaktur dunia.

Jadi, kita sekarang berada di tengah-tengah Perang Minyak, konflik Rusia-Turki di Suriah, kompetisi Saudi-Iran di Timur Tengah, AS-Iran, Cina-Iran, hubungan Iran-Rusia, masalah pengungsi di Eropa, dan pemilu AS.

Minyak murah merupakan tantangan bagi eksportir gas alam seperti Indonesia. Hal ini juga menimbulkan pertanyaan tentang kebijakan di Indonesia, terutama proyek biodiesel dan batubara cair. Dan sementara batubara telah relatif terlindung dari volatilitas minyak dalam beberapa bulan terakhir, harga minyak yang secara substansial rendah pada akhirnya dapat merugikan komoditas. (yosefardi.com)