DEPOK (eNBe Indonesia) – Pemimpin Gereja Katolik Roma mengabaikan permintaan Pemerintah Pusat untuk menunda pentabisan uskup baru Keuskupan Ruteng, Nusa Tenggara Timur (NTT). Lebih dari seribu orang menghadiri acara itu. Meskipun belum ada kasus COVID-19 yang dikonfirmasi (penyakit yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2) di NTT, upacara pentabisan uskup dipandang berisiko.

Kepala Satuan Tugas untuk Percepatan Penanganan COVID-19, Letjen TNI Doni Monardo, mengirim surat kepada Gereja Katolik Roma untuk meminta penundaan misa pentabisan dimaksud. Namun misa tetap digelar. Belum ada penjelasan resmi dari Kardinal Ignatius Suharyo, tetapi banyak yang telah mengkritik Gereja.

Dunia tahu bahwa COVID-19 meledak di Korea Selatan karena Gereja Shincheonji Yesus mengabaikan perintah penangguhan acara keagamaan itu. Pertemuan keagamaan juga menyebabkan penyebaran COVID-19 di Singapura dan Malaysia. Indonesia mengalami kegelisahan Rabu malam (18 Maret), ketika ada laporan bahwa kelompok Tabligh, yang anggotanya secara tidak sengaja menyebarkan COVID-19 di Malaysia, siap untuk menggelar acara dengan lebih dari 3000 peserta di Gowa, Sulawesi Selatan. Untungnya, acara itu dibatalkan setelah pemerintah mengendalikan situasi. Sayangnya, pemerintah tidak berhasil di Ruteng.

Tidak mungkin acara keagamaan akan ditangguhkan di Indonesia tanpa permintaan dari Pemerintah. Meskipun sebagian orang mungkin tidak setuju ditangguhkan, tapi fakta sains jelas, bahwa ada pembawa asimtomatik dari SARS-CoV-2, dan SARS-CoV-2 adalah virus yang sangat menular.

Beberapa orang mungkin percaya bahwa COVID-19 tidak berbahaya seperti batuk pilek, atau Ebola. Tetapi membandingkan penyakit sedemikian rupa tidak hanya sembrono, tetapi juga bodoh. Bahaya dengan SARS-CoV-2 adalah kemampuannya untuk menyebar dengan cepat, membawa banyak orang ke rumah sakit, sehingga membanjiri sistem perawatan kesehatan. Ini adalah skenario yang kami lihat di Wuhan, dan itulah yang terjadi di Italia hari ini. Korban tewas terus meningkat. Sampai kita secara drastis membatasi mobilitas manusia, kita akan terus melihat lebih banyak kematian dilaporkan. (yosefardi.com)