Oleh   :   Frans Dorelagu

Dunia sepertinya telah diusik ketentramannya, sehingga menimbulkan berbagai spekulasi terhadap eksistensi kehidupan, dan bagaimana kelanjutan hidup untuk masa kini dan masa depan. Hal ini wajar direnung karena manusia sebagai makluk yang berakal budi (homo sapiens) yang selalu memikirkan akan masa depan manusia dan dunia tempat berpijak. Manusia sebagai ciptaan yang teristimewa dari semua makluk ciptaan akan menjadi sentrum dari segala siklus kehidupan di bumi. Oleh karena masa depan bumi sangat tergantung dari desain, arah, gerakan dan perilaku manusia itu sendiri, maka manusia selalu ditempatkan pada tataran yang paling mulia dan bijaksana. Aklak manusia baik bumi akan menjadi baik sebaliknya aklak mansia tidak baik maka bumi akan mengalami guncangan dan bahkan kehancuran.

Di awal paragraf saya sebutkan, bahwa dunia sepertinya diusik ketentramannya. Kehadiran Corona (Covid 19) yang berawal dari Propinsi Wuhan China dan telah meluas ke berbagai belahan dunia telah merenggut ribuan jiwa dan telah terinfeksi ratusan ribu umat manusia. Peristiwa ini adalah sebuah bencana kemanusiaan yang membutuhkan perhatian serius kita. Virus dengan daya pandemi (penyebaran) dan serangan yang begitu cepat dan masif menyebabkan banyak korban berjatuhan. Apalagi ketika daya tahan (resistensi) tubuh seseorang dalam kondisi lemah akan memudahkan terinfeksi virus.

Berbagai upaya konkrit yang telah dilakukan oleh pemerintah di masing masing negara dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menunjukan sebuah respon serius terhadap ancaman Virus Corona (Covid 19). Dorongan kerjasama antar negara melalui pertukaran informasi, transfer data kesehatan, pengiriman tenaga ahli medis, obat obatan, sarana kesehatan, dan bahkan kebijakan untuk sementara tidak saling berkunjung ke negara-negara lain menjadi sistim kerjasama yang solid untuk memerangi penyebaran virus corona yang kian masif. Kita berharap upaya konkrit pemerintah dan kerjasama negara-negara di dunia tetap menjadi prioritas utama, sehingga harapan kita akan bangsa yang aman dari polusi corona virus yang menakutkan ini segera pulih kembali.

Covid 19 adalah salah satu jenis virus yang menjadi bagian dari keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit yang terjadi pada hewan dan manusia. Manusia yang terjangkit virus tersebut menunjukan tanda-tanda penyakit infeksi saluran pernapasan mulai dari flu, hingga yang lebih serius seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Corona virus jenis baru yang ditemukan di Wuhan China pada Desember 2019 dan diberi nama Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-Cov 2) sehingga penyakit ini disebut dengan Coronavirus Disease-2019 (COVID 19). Virus ini diberi nama oleh Dirjen WHO Tedros Adhanom Gebreyesus di Genewa Swiss pada Selasa 11 Peberuari 2020. COVID-19 (CO = corona VI = virus D = disease dan 19 =2019).

Tedros menjelaskan bahwa nama tersebut dipilih untuk menghindari stigmatisasi  sebagaimana panduan penamaan virus yang dikeluarkan WHO pada tahun 2015. Nama virus itu tidak merujuk pada letak geografis, hewan, individu atau kelompok orang. Sebelumnya WHO telah memberikan nama sementara untuk virus corona jenis ini dengan sebutan 2019-nCoV. Sedangkan China menyebut dengan Novel Coronavirus Pheumonia (NCP).

Kegelisahan Manusia 

Keinginan untuk hidup nyaman merupakan harapan bagi semua manusia. Karena dalam keadaan aman manusia dapat melakukan segala aktivitas dan rutinitas sehari-hari tanpa yang menghalangi. Segala sesuatu yang berkaitan dengan kebutuhan hidup manusia, baik moril maupun materil seperti kebutuhan ekonomi, pendidikan, kesehatan, keagamaan dan lain-lain dapat terpenuhi dengan baik. Namun banjiran informasi virus corona belakangan ini yang terus marak menyebabkan kegaduhan, kecemasan dan ketakutan di masyarakat. Berita dan informasi pengisolasian atau penguncian wilayah (lockdown) menyebabkan masyarakat menjadi semakin tertekan secara psikis karena kuatir akan kesulitan akses ekonomi terutama bagi kaum kelas menengah bawah yang menyandarkan kehidupan mereka pada sektor jasa padat karya. Mandeknya aktivitas bisnis dan perdagangan akan menyebabkan penurunan pendapatan dan daya beli masyarakat yang rendah, sehingga sulit untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari hari yang sangat mendesak.

Lockdown juga memotivasi masyarakat kelas menengah atas untuk berbondong- bondong memborong segala kebutuhan pokok sebagai persediaan (stock) selama masa karantina. Hal ini menyebabkan harga barang kebutuhan pokok melambung dari biasanya. Kenaikan harga barang tidak menjadi masalah bagi kaum capital yang memiliki stok finansial yang tebal, lalu bagaimana dengan kaum jelata (proletar) yang miskin, tidak memiliki uang untuk berbelanja. Mereka adalah kaum kecil yang tertindas oleh kebijakan dan isu-isu global. Mereka tidak memiliki kecukupan finansial dan kemapanan ekonomi, kemudian didera larangan untuk tidak beraktivitas, atau dengan isu-isu yang membuat mereka menjadi sangat skeptis untuk keluar rumah karena disana sini teridentifikasi sebagai zona merah membara. Keadaan ini menimbulkan sikap impresif dan kegelisahan di tengah masyarakat. Dari hari ke hari kehidupan mereka semakin takut dan mencekam.

Ada slogan “Stay at home and help us please” disiplin tinggal di rumah adalah membantu sesama. Dalam konteks mewujudkan kesehatan dengan tidak mendekat diri dalam ruang komunitas, pergaulan dan interaksi sosial dapat dipahami, namun dalam konteks psikologi ekonomi (economic psycologic) bagaimana mereka dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, sedangkan mereka hanya mengandalkan dari pekerjaan serabutan. Ini suatu kondidi sosial yang sangat berbeda dengan kelas menengah atas yang memiliki pekerjaan dan sumber daya ekonomi yang mapan. Ini adalah problem kebangsaan. Realitas ketimpangan sosial yang ada diperparah lagi dengan permasalahan global yang membuat kondisi masyarakat semakin terguncang. Belum lagi stagnasi bisnis dan kolepsnya industri pariwisata yang menyebabkan pengurangan karyawan dimana-mana. Fenomena ini menciptakan tingkat pengangguran dan ini adalah ancaman terhadap stabilitas negara.

Alangkah baik kalau kita menghadapi wabah virus corona dengan kedewasaan berpikir arif dan bersikap bijaksana. Berpikirlah sebelum memberi pernyataan, apakah akan menjadi dampak psykologis publik dari pernyataan yang dipublikasi. Kendatipun pernyataan itu aktual tetapi kita harus tetap mempertimbangkan aspek psykologis publik, karena itu sikap bijak yang akan memberikan efek baik bagi masyarakat. Pemikiran manusia (human construction) akan memberi dampak baik dan buruk tergantung dari kearifannya, sehingga hasil pemikiran kita menjadi informasi yang baik dan tidak tersesat (heretics)

Tingkat sosial atau strata sosial ekonomi, pendidikan dan mata pencarian masyarakat satu dengan yang lain berbeda-beda. Ini yang menyebabkan individu yang satu berbeda dengan individu yang lain. Aspek ini harus menjadi kajian sosial kita, sehingga kita menjadi lebih intuitif dan responsif dengn lingkungan dimana kita berada. Kadang niat kita tulus dan mulia untuk berbagi informasi agar semua mengetahui, namun dibalik ketulusan kita tentu ada dampak baik dan tidak baiknya. Hal ini menuntut kepekaan kita untuk lebih logis melihat dan menyimak problem sosial terutama wabah virus corana yang melanda dunia dan Indonesia, terutama sebaran aneka informasi di tempat tinggal kita masing masing agar tidak menimbulkan kegelisahan dan kecemasan masyarakat. Kita mestinya menangkal virus dengan pendekatan informasi yang persuasif, edukatif dan konstruktif.

Manusia dan Paradigma

Berbagai peristiwa yang melanda dunia, baik itu isu lingkungan, teroris, trafficking, illegal fishing, black market, pelanggaran ZEE, trans nasional dan yang saat ini sedang menyita perhatian dunia adalah COVID -19. Virus ini menjadi momok yang menakutkan dunia. Masyarakat internasional setidaknya mulai sadar bahwa efek fenomenalogi epistemik tidak mestinya bermanfaat baik bagi manusia. Kemajuan ilmu pengatahuan dan teknologi ketika tidak arif memanfaatkannya, maka akan berdampak buruk bagi kehidupan umat manusia. Berbagai informasi bahwa Covid -19 merupakan kegagalan rekayasa biologis dan rekayasa senjata biologis yang akhirnya berdampak kepada pembentukan sel kimiawi baru yang sangat mematikan makluk hidup. Ada juga sumber covid -19 adalah virus yang berasal dari makanan, hewan, unggas dan ikan. Namun semua sumber informasi tersebut masih membutuhkan kajian ilmiah dan penelitian serius agar dapat menjawab berbagai spekulasi yang berkembang di masyarakat.

Berbagai persoalan yang melanda dunia dewasa ini, secara tidak langsung telah membentuk sebuah paradigma atau cara pandang masyarakat terhadap tatanan dunia saat ini. Dunia yang tentram merupakan harapan bagi semua makluk hidup di bumi. Alam semesta harus dirawat seperti layaknya membangun rumah besar yang membutuhkan sentuhan arsitektur agar terlihat artistik, romantik dan higienis. Agar dunia terhindar dari malapetaka yang mengoyak kehidupan manusia, maka dunia harus disentuh dengan pemikiran arif dan berperilaku bijak dari umat manusia. Itulah hukum sebab akibat (causality), segala sesuatu yang terjadi tentu ada penyebabnya. Oleh karena itu manusia membutuhkan sebuah paradigma baru untuk melihat dunia secara komprehensif dan holistik dari berbagai sudut pandang. Bagaimana menata dunia kedapan yang begitu kompleks. Semua membutuhkan keterlibatan dari semua aspek dan disiplin keilmuan yang saling terkait, serta sikap jujur terbuka dan adil terhadap dunia dan realitasnya. Karena hanya dengan prinsip kejujuran, terbuka dan adil kita dapat membangun tatanan dunia yang harmonis serta memiliki masa depan yang cemerlang.

Prinsip hegemoni dan superioritas negara-negara adidaya dan kapitalis yang ingin mendominasi dunia, mestinya diinstropeksi. Pengembangan Alat Utama Sistim Senjata (Alutsista) dan perlombaan berbagai jenis senjata nuklir, kimia dan biologis yang sangat dikuatirkan harus segera dihentikan. Efek pengembangan senjata kimia dan senjata biologis  tentu berdampak kepada penciptaan virus baru yang mengancam eksistensi kehidupan manusia. Oleh karena itu untuk membangun dunia yang aman damai, maka dunia harus segera bebas dari berbagai efek rekayasa teknologi yang mengancam keberadaanya. Dunia yang bebas dari berbagai ancaman adalah dunia yang membutuhkan sebuah paradigma baru dalam berpikir dan bertindak secara adil dan bijaksana serta terhindar dari dominasi penalaran kerdil.

Iman Yang Menyelamatkan  

Covid -19 terkesan sangat menakutkan, sehingga orang yang beriman pun menjadi cemas dibuatnya. Corona memiliki daya kuasa yang melampau kuasa Sang Pencipta semesta alam. Seolah olah semesta ini dikuasai Corona dan mendegradasi kuasa Sang Pencipta semesta. Hal tersebut tidak dipungkiri, sebab telah terjadi degradasi yang luar biasa dengan iman umat. Corona telah mengikis iman setiap manusia, sehingga terjadi pergeseran nalar manusia untuk meyakini korona sebagai ancaman yang membahayakan ketimbang Tuhan sebagai Sang Penyelamat. Rumah rumah ibadah tidak diperbolehan untuk ibadah, boleh beribadah dengan fasilitas live streaming. Tercipta jarak antara Tuhan dan manusia. Tuhan disana, kami disini. Sementara dalam perayaan ibadah ada tahap sakral (konsekrasio) yang harus dijalani secara hikmad dan penuh iman, karena di sini tahap peleburan iman dan penyerahan diri dari dosa-dosa manusia.

Secemas ini kah kita? Sedasyat apapun peristiwa yang melanda dunia, bagi kita makluk beriman yakin dan percaya bahwa dalam kuasa Tuhan segala sesuatu akan berlalu. Kita tidak akan musnah di luar kuasa Penciptaan, kita hanya akan musnah oleh Sang Pencipta sendiri melalui kematian yang damai, kematian yang dikehendaki oleh Allah sendiri. Bangunlah iman dan takwa kepada Sang Pencipta, karena iman kita yang akan menyelamatkan kita. Karena hanya bagi orang beriman yang tidak akan pernah ragu dan kuatir dalam hidup. Karena kita percaya bahwa Tuhan selalu berserta kita dalam suka dan duka dalam susah dan senang dan dalam situasi apapun. #lawancoronadengankekuataniman.

*) Penulis adalah pemerhati sosial dan budaya, tinggal di Jakarta