DEPOK (eNBe Indonesia) – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat menyentuh level negatif (kontraksi) atau tumbuh minus 0,4% tahun ini karena dampak kuat dari pandemi COVID-19. Dalam skenario optimis, menteri mengatakan ekonomi dapat tumbuh sebesar 2,3% tahun ini, jauh lebih rendah dari target pemerintah sebesar Rp5,3%.

Sri Mulyani mengatakan konsumsi rumah tangga diperkirakan tumbuh 1,6-3,2%, investasi mengalami pertumbuhan negatif dari ekspektasi pertumbuhan awal 6%, dan ekspor pun akan kontraksi karena impor meningkat.

Bank Dunia (WB) juga memperkirakan ekonomi Indonesia akan tumbuh 2,1% tahun ini, jauh di bawah proyeksi bank sentral Indonesia (BI) di 4,2-4,6%. Dikatakan ekspor akan menyusut 2% dan impor menyusut 7%. Pada tahun 2019, ekspor Indonesia turun 0,87%, dan impor turun 7,69%. Investasi diproyeksikan stagnan (tidak ada pertumbuhan). Konsumsi swasta diperkirakan akan tumbuh 1,5%, jauh di bawah pertumbuhan 5,2% tahun lalu. Tetapi belanja pemerintah diproyeksikan akan tumbuh 5% tahun ini, dibandingkan dengan pertumbuhan 3,3% tahun lalu, karena stimulus fiskal ditujukan untuk mengatasi dampak pandemi COVID-19.

WB juga mencatat bahwa coronavirus yang memicu guncangan ekonomi di China kini telah menyebabkan guncangan global. Negara berkembang di Asia Timur dan Pasifik, pulih dari perang dagang tapi harus berjuang hadapi COVID-19, dan sekarang pun bisa hadapi guncangan dan resesi finansial global.

Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan di wilayah Asia Timur dan Pasifik sedang berkembang melambat, tumbuh 2,1% atau tumbuh negatif (kontraksi) 0,5%, dibanding perkiraan 5,8% pada 2019. Pertumbuhan di China diproyeksikan menurun menjadi 2,3% tahun 2020, dari 6,1% pada tahun 2019. Berhentinya pandemi Covid-19 akan memungkinkan pemulihan berkelanjutan di China, meskipun risiko terhadap tekanan pasar keuangan global akan tetap tinggi.

WB pun meluncurkan bantuan sebesar US$ 14 miliar untuk memperkuat penanggulangan COVID-19 di negara-negara berkembang. IFC menyediakan US$ 8 miliar untuk membantu perusahaan swasta yang terkena dampak pandemi. IBRD dan IDA menyediakan US$ 6 miliar untuk kesehatan. Karena negara-negara membutuhkan dukungan yang lebih luas, WB akan menggelontor hingga US$ 160 miliar selama 15 bulan untuk melindungi kaum miskin, mendukung bisnis, dan membantu pemulihan ekonomi.