DEPOK (eNBe Indonesia) – Harga minyak dunia untuk pertama kalinya berubah negatif (-US$11.7600 per barrel) pada Senin (20/4) karena pandemi covid-19 menghapus permintaan untuk bahan bakar. Konsumsi minyak global telah turun 30% di tengah pembatasan sosial (tinggal di rumah) dan penutupan bisnis karena wabah coronavirus.

Awal bulan ini, Organisasi Perusahaan Ekspor Minyak Bumi dan sekutunya (OPEC +) bersepakat untuk memangkas produksi global sekitar 10%. Tapi, kebijakan itu tidak membantu kepercayaan pasar terhadap masa depan pasar minyak.

Kekhawatiran terus meningkat juga akibat fasilitas penyimpanan di Amerika Serikat (AS) akan kehabisan kapasitas. Pengumuman Saudi Aramco pada hari Jumat, bahwa mereka akan menyediakan bagi pelanggan dengan 8,5 juta barel per hari (bpd) mulai 1 Mei juga tidak mendukung pasar minyak.

Pekan lalu, Administrasi Informasi Energi (EIA) AS telah menurunkan perkiraan 2020 untuk harga WTI menjadi US$29,34 per barel, turun 23% dibandingkan perkiraan Maret. EIA juga memangkas perkiraan harga minyak mentah Brent hampir 24% menjadi US$33,04 untuk tahun 2020. EIA mengasumsikan bahwa penurunan tajam harga minyak mentah global, yang terjadi selama Maret 2020 sebagai akibat COVID-19, akan bertahan hingga kuartal.

Harga untuk bahan bakar bensin dan solar juga terkoreksi tajam, akibat pengurangan signifikan perjalanan perorangan, baik untuk perjalanan normal dan perjalanan liburan musim panas akan menurunkan harga bensin lebih dramatis daripada harga bahan bakar diesel.

Bagaimana Indonesia?

Pemerintah terus mencermati perkembangan global tersebut sekaligus mempertimbangkan kondisi energi di dalam negeri. “Terkait harga BBM, saat ini Pemerintah masih mencermati dan mengevaluasi terkait perkembangan harga minyak, termasuk rencana pemotongan produksi minyak OPEC+ mulai bulan depan,” ungkap Agung Pribadi, Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) di Jakarta, Senin (20/4).

“Pertimbangan lain yang dicermati bahwa kurs rupiah juga melemah dan konsumsi BBM jauh menurun, bahkan di beberapa kota seperti Jakarta penurunan hingga 50%. Pemerintah memonitor perkembangan ini yang mana sebelumnya telah 2 kali dilakukan penurunan harga BBM JBU (pertamax cs) pada awal tahun 2020. Saat ini harga BBM Indonesia masih merupakan salah satu yang termurah di Asia Tenggara dan beberapa negara di dunia lainnya,” tambahnya.

Selama ini Pemerintah mendukung penyediaan subsidi dan juga kompensasi harga BBM dengan jumlah yang kian meningkat yang disebabkan harga minyak yang tinggi dibandingkan harga jual BBM dalam negeri.