DEPOK (eNBe Indonesia) – Mgr Paskalis Bruno Syukur, OFM, uskup untuk wilayah Keuskupan Bogor, Jawa Barat, meneguhkan umat Katolik untuk tidak putus asa menghadapi situasi sulit saat ini, tetapi menyadari bahwa Kasih Setia Tuhan tetap hadir dan Dia tidak akan meninggalkan manusia dalam situasi apapun.

“Seperti yang ditampakkan pada dua orang muridNya dalam perjalanan ke Emaus (Luk 24:13-35), Yesus membukakan pikiran, hati muridNya, membangkitkan harapan mereka, bahwa Yesus sungguh telah bangkit,” ujar Uskup Paskalis dalam kotbah hari ini di Gereja Sukasari Bogor.

Dua murid Yesus memutuskan kembali ke Emaus dan meninggalkan Petrus dan murid Yesus yang lain di kota Yerusalem karena kecewa dan putus asa bahwa Yesus yang semula menjadi tumpuan cita-cita duniawi mereka telah ditangkap, disesah, dan disalibkan di Yerusalem.

Uskup Paskalis menggambarkan sesungguhnya dua murid Yesus itu lamban dan tidak memahami seluruh peristiwa Yesus, lalu mencoba melepas kemuraman hati mereka dengan meninggalkan Yerusalem. “Perjalanan ke Emaus semakin membuat hati mereka sedih, pikiran suntuk, pupus harapan. Di titik inilah kasih setia Tuhan terlaksana. Karena kasihnya, Yesus sendiri mendekati mereka dan berjalan bersama.”

Yesus membangkitkan kembali memori indah dua muridNya dengan mengambil roti, mengucap berkat, memecah-memecahkan roti itu dan memberikannya kepada mereka. Dua murid itu pun berkobar-kobar hatinya, bangkit dari rasa duka, menjadi gembira karena Yesus sungguh hadir bersama mereka.

“Yesus membuat muridnya menjadi manusia yang mampu beradaptasi, memahami dan menerima situasi baru dan tantangan baru sebagai murid Yesus. Mereka siap menghadapi gelombang kehidupan, apapun modelnya mereka tetap percaya Yesus telah bangkit,” ujar Uskup Paskalis.

Selama masa pandemi covid-19 ini, Uskup Paskalis, mendapat bermacam-macam pesan dari umat. Ada yang menulis bahwa hidup ini adalah perjuangan, adalah tantangan. Maka hadapilah. Ada juga yang mengatakan setelah melihat banyak orang meninggal terutama karena covid-19, hidup di dunia ini bukanlah tujuan melainkan sebuah perjalanan. Nikmatilah perjalanan itu. Tetapi ada gelombang-gelombang turun naik yang membuat kita menyadari bahwa hidup ini adalah sebuah perjalanan.

Ada motivator berpendapat, lebih menukik sanubari kita serta menyadarkan kita, bahwa manusia itu diberi rahmat dari Tuhan agar mampu menyesuaikan diri. Manusia mempunyai kemampuan beradaptasi dan pandai mencari jalan keluar dari setiap situasi sulit. Kalau sekarang gajimu tidak lagi Rp2 juta karena covid-19 tapi hanya Rp1 juta maka bangunlah hidupmu atas dasar gaji Rp1 juta itu. Pengusaha showroom misalnya mungkin biasa dengan pendapatan per hari Rp20 juta, tetapi karena covid-19 ini mungkin hanya Rp5 juta. Ya, beradaptasi lah. Manusia yang lamban beradaptasi dengan situasi hidup yang baru akan kecewa, putus asa, hilang harapan.

“Kasih setia Tuhan itu tidak akan luntur oleh situasi apapun, oleh perkara apapun. Dia berjalan bersama kita. Yesus Kristus itu tetaplah sama, dulu, hari ini dan akan datang. Maka kasihilah Yesus yang sama itu. memang kita tidak dapat melihat dengan kacamata jasmaniah kita. Dia membuka budi, pikiran, dan hati kita di saat pandemi ini yang sudah menjungkirbalikan semua perencanaan dan perhitungan kita,” ujar Uskup Paskalis.

Uskup Paskalis melanjutkan, Tuhan membuka pikiran manusia untuk menyadari rahmat yang diberikan oleh Allah kepada setiap orang, yakni rahmat untuk mampu beradaptasi demi membangun hidup sendiri dan bersama orang lain dengan suka cita, saling menolong, saling menerima, saling menghargai.

“Kita bukan robot yang hidupnya sudah diprogramkan secara kaku. Istimewanya, manusia itu lebih daripada robot. Maka janganlah menjadi manusia robot. Dalam hidup bersama keluarga, suami atau istri (pasutri) yang tidak bisa beradaptasi dengan pasangannya pasti bubar, atau setidak-tidaknya hidup bersama seperti neraka,” pungkas Uskup Paskalis.