Oleh Hans Obor

DEPOK (eNBe Indonesia) – Pengalaman tragis saya alami di tengah malam kala masih kelas 3 SD di Bajo-Mundemi, kecamatan Nangaroro, kabupaten Nagekeo, Flores, propinsi NTT. Saya disiksa begitu kejam oleh ayahku yang adalah guru, karena tak bisa baca. Ayah rupanya malu anaknya tidak bisa baca padahal sudah kelas 3 SD. Mama hanya bercucuran air mata saat saya disiksa berlutut, dikebas dengan kayu di badanku hingga kayu hancur, dan saya pun shock dan tak bisa nangis lihat betapa bringasnya ayahku. sekarang, saat saya menulis ini, saya menangis..karena ayahku telah tiada. saya tak bisa dendam pada ayah meski pengalaman pahit itu masih terpatri kuat di memoriku.

Hanya mama yang tahu peristiwa ini, karena kakakku Neldis sudah tidur, begitu juga adik-adikku (Mus- Mikel-Merlin). Saya bisa mengeja A, B, C .. tapi sulit mengeja huruf itu jika berpasangan. Contoh, B + U = BU, K + U = KU, ketika ditanya ayah, BU + KU = ? di sini saya tak bisa jawab, saya tidak bisa mengeja pasangan kata itu sebagai BUKU.. semakin saya dibentak, semakin gelap otak saya .. aduh situasi tengah malam itu benar-benar mencekam jiwaku. Saya pun pasrah menerima tamparan, kebasan kayu, cubitan keras di kuping .. pokoknya tubuhku yang mungil itu memerah.

Mama sulit atasi suaminya, kecuali sesekali mendesah “Pak Guru tuga si (cukup sudah)”. Mama justru lebih paham dengan pertumbuhan saya sejak lahir, anak keduanya. Anak yang kurang dapat kasih sayang dari banyak orang, anak yang tidak bisa bicara (bisu) hingga usia 6 tahun. Tapi ayahku memilih tak mau tahu bahkan justru ekstrim. Dalam tekanan hebat itu, otakku seperti terbuka, dinding-dinding yang menutupi otakku yang kerdil berpikir itu sungguh-sungguh rubuh. Bisa jadi tekanan psikis hebat yang saya alami berakibat positif pada respon otak kanan dan otak kiriku. Masuk kelas 4 SD yang mulai lebih percaya diri di kelas. Lalu kelas 5 ayahku pindah ke SDN Ndenasangi.

Di Ndenasangi saya sukses juara kelas, lanjut juara di kelas 6. Angkatan saya pun (1983) sukses menoreh 100% lulus, pertama dalam sejarah untuk SDN Ndenasangi, dan sayapun meraih nilai EBTA murni (NEM) tertinggi se-kecamatan Nangaroro. Masuk SMP di Batarende Wolosambi, saya pegang juara kelas dan juara umum selama 3 tahun di sana. Lalu saya masuk Seminari Mataloko (1987). Tamat Seminari tinggal satu tahun di luar (berkebun di kampung), lalu ke IKIP PGRI Malang (1992). Di Malang saya kuliah sambil kerja, bertahan hidup meski orangtua (ortu) tidak kirim uang selama 9 bulan (nekat makan nasi pakai garam selama itu).

Pengalaman dan perjalanan pendidikanku ini, kemudian menjadi bermakna setidaknya bagiku. Pendidikan itu sungguh jadi jaminan untuk sukses. Tapi tetap saja ada yang tidak sukses meski memperoleh pendidikan. Seorang anak yang sekolah mesti punya kemauan belajar, tahan banting (survive) dengan kondisi paling tidak menyenangkan, hidup dalam lingkungan yang memberi banyak kemungkinan untuk eksplorasi pengetahuan.

Bagi orangtua, jangan gelisah atau putus asa jika anak-anak belum tunjukkan prestasi sejak dini, di SD misalnya, mungkin karena pertumbuhan otak sedikit lamban. Begitupun anak-anak autis, butuh kesabaran mendidik dan membentuk mereka. Anak autis, menurut para ahli, sebagian besar akibat ketidakseimbangan pertumbuhan otak. Jika mereka dididik secara tepat justru bisa jadi anak yang sangat jenius, atau punya bakat tertentu dan sangat menonjol.

Bagi guru dan pendidik, cukup ingat saja pesan bapak pendidikan nasional kita dulu, Ki Hajar Dewantara yaitu:

  • Ing ngarsa sung tulodo (di depan, seorang pendidik harus memberi teldan atau contoh tindakan yang baik)
  • Ing Madya Mangun Karsa (di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide)
  • Tut Wuri Handayani (dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan)

SELAMAT HARI PENDIDIKAN NASIONAL (HARDIKNAS) !!