DEPOK (eNBe Indonesia) – Christina Aryani, anggota Komisi I DPR-RI, dari Partai Golkar, bersama Aris Kurniawan Djakimo, pejabat di Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo), menggelar kegiatan literasi terkait pandemi corona (covid-19) melalui seminar web atau internet (online), live di youtube channel Webinar Bakti, dengan 95 peserta menggunakan aplikasi ZOOM selama 2 jam pada Jumat (8/5). Seminar dengan topik ‘Merajut Nusantara’ dan sub topik ‘Internet & Perlidungan Diri’ diarahkan oleh moderator Zhifa.

Menurut Datareportal.com, penggunaan internet di masa pandemi global sejak Januari 2020 meningkat. Untuk Indonesia, jumlah pengguna internet mencapai 174,4 juta atau 64% dari total jumlah penduduk Indonesia (272,1 juta).

Khusus di masa pandemi, peran internet tentu sangat penting karena memberi perlindungan diri bagi pengguna, menjadi sumber informasi untuk covid-19, sarana meeting (rapat) online, pelatihan online (kartu pra kerja), belajar online, belanja online, kegiatan sosial dan keagamaan online, juga untuk memantau kesehatan secara online.

Christina Aryani

“Kami di Komisi I DPR RI sudah melakukan rapat secara virtual selama ini, bersama mitra dari pemerintah. Dan Komisi I telah merekomendasikan pemerintah dalam hal ini Kementerian Kominfo untuk tingkatkan layanan telekomunikasi dan internet di wilayah tertinggal dan terluar,” ujar Christina. “Di wilayah terdepan, seperti Jakarta, Komisi I mengajukan penyediaan internet gratis atau subsidi biaya internet.”

Christina juga membeberkan risiko dari penggunaan internet, yang menjadi sumber hoaks (berita bohong) selama masa pandemi corona, juga kebocoran data pribadi seperti dialami platform Tokopedia. Tercatat 554 hoax selama covid-19 yang tersebar di 1.209 platform.

“Kita harus jadi agen informasi dan bantu pencegahan hoaks tersebar luas. Waspada juga pada phishing, metode penipuan untuk curi informasi penting dalam akun seseorang dengan modus tawaran hadiah atau undian online,” pinta Christina.

Komisi I DPR RI, lanjut Christina, sedang membahas draft bersama Kominfo terkait Undang-undang perlindungan data pribadi. Kasus seperti Tokopedia akan ditangani dengan menggunakan UU ITE dan PP 71/2019.

Aris Kurniawan Djakimo

Sementara Aris Kurniawan Djakimo menggambarkan betapa informasi internet di masa pandemi corona bagaikan tsunami karena membawa sampah informasi dan sampah peradaban. “Hoaks sudah jadi industri, ada capital (pemilik dana) yang bermain di sini, ada bandar atau bohir. Hoaks muncul saat kontestasi politik, juga untuk timbulkan kepanikan warga akibat pandemi,” ujarnya.

Karena itu, Aris menghimbau, pengguna internet lebih sabar dan bijaksana dalam merespon hoaks. Sebelum menyebarluaskan sebuah informasi, pengguna internet harus mencaritahu kebenaran, manfaat, kepentingan, juga urgensitas.

“Karakter netizen indonesia luar biasa berwarna. Berita provokatif dan sensasional itu kadar hoaksnya tinggi. Selemah-lemahnya iman, budayakan googling untuk cek kebenaran. Harus sabar, be open minded, selalu adaptif, optimis dan lakukan hal produktif to The New Normal.

Peppy Wuda

Peppy Wuda, kru Redaksi eNBe Indonesia (enbeindonesia.com), berharap Kementerian Kominfo bekerja sama dengan media lokal terutama di wilayah tanpa akses internet untuk mendukung kegiatan literasi pandemi corona dan pendidikan.

“Masyarakat di daerah selama pandemi ini terbatas informasi. Sistim pendidikan daring di kota besar tidak bisa diterapkan di daerah. Bagaimana peran media lokal untuk kerja sama membantu sistim pembelajaran di daerah terpencil?” Aris mengakui jika guru, dosen, siswa telah menurunkan ekspektasi selama pandemi corona ini karena teknologi butuh waktu untuk diadaptasi.