DEPOK (eNBe Indonesia) – Gereja Katolik di Flores terus menghadapi gangguan kemanusiaan terutama hadirnya proyek-proyek tambang, juga pariwisata. Industri semen bersamaan dengan penambangan batu gamping di Manggarai Timur pun ditolak Gereja.

Pariwisata di Flores juga menyentil kehidupan umat Katolik, seperti terjadi di Pantai Pede, Manggarai. Gereja ingin Flores mengutamakan pariwisata religi (rohani), alam, dan budaya yang dikembangkan, bukan resort-resort pinggir pantai yang glamour.

Publik Flores seringkali gaduh terhadap proyek tambang di Manggarai misalnya, dan eksistensi kelompok yang anti dan pro sama-sama kuat, maka dilema dan konflik tambang di Flores masih tetap ada hingga hari ini. Gereja tak mampu mengintervensi kebijakan pemerintah daerah, dan pemerintah bersekongkol dengan anggota dewan (DPRD) memberi ijin usaha pertambangan kepada investor. Faktanya, kehadiran tambang di Manggarai telah merusak alam, juga gagal memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat di area pertambangan (lingkar tambang).

Romo Alsis Goa OFM, dari JPIC OFM, mengatakan berdasarkan hasil riset, investasi pertambangan di Flores dan NTT pada umumnya tidak menambah kesejahteraan masyarakat atau meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) pemerintah daerah kabupaten dan propinsi.

“Dari beberapa riset yang kami lakukan sejak 2015 untuk Flores, yang kami ketemukan apa yang disebut sebagai kegetiran masyarakat lingkar tambang. Ada potensi kerakusan bidang pertambangan, berhadapan dengan terutama yang merampok, merampas unit-unit produksi, unit kelola masyarakat,” ujarnya dalam diskusi daring (google Meet) Alsemat Institute pada Sabtu (16/5).

Romo Alsis menambahkan saat ini Gereja Katolik merayakan 5 tahun Laudato Si, dan Paus Fransiskus sendiri mengajak hendaknya manusia mencari bentuk pembangunan yang berkelanjutan dan integral. Pembangunan wajib hukumnya, membangun solidaritas antar generasi dan solidaritas intra generasi.

Sementara Romo Hieronimus Y.D Rupa mengingatkan bahwa Paus Fransiskus memberi perhatian pada ekologi, dan umat manusia harus memperlakukan ekologi sebagai rumah sendiri. “Dunia ini adalah pewahyuan Allah, suci (sakramen). Jadi peduli pada ekologi adalah bagian dari beriman. Alam itu jejak dari Allah, keindahan alam berarti keindahan Allah, sebaliknya jika alam dirusakkan maka Allah tidak berkenan. Virus covid-19 ini adalah bukti hipotesis bahwa kita tidak harmonis dengan lingkungan,” ujarnya.

Ignatius Jou Iryanto, tokoh NTT di Jakarta yang bekerja di sektor pertambangan batu bara, menilai aparat pemerintah daerah di Flores kurang mengerti prosedur tambang, maka sebagian besar kegiatan penambangan merugikan masyarakat dan merusak lingkungan.

“Ijin tambang yang diberikan pemda tidak memperhatikan prosedur yang benar, terutama uji kelayakan (feasibility study), rencana rehabilitasi, tutup tambang dan reklamasi, apalagi amdal yang memperhatikan aspek dampak lingkungan dan sosial,” ujarnya.

Tobbyas Djaji, tokoh NTT di Jakarta yang juga bekerja di sektor minyak dan gas, mengatakan perusahaan pertambangan di Flores umumnya tidak menerapkan prinsip compliance (kepatuhan) pada UU dan peraturan, juga code of conduct, business ethics, dan corporate values, maka operasional tambang di Flores memberi risiko besar bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.

“Barangkali tambang bukan prioritas untuk Flores, jika pariwisata menjadi prime mover pembangunan ekonomi,” ujar Primus Dorimulu, toko media nasional asal NTT. Primus berharap pemda Manggarai Timur tidak lagi memberi ijin usaha pertambangan kepada investor yang jelas sudah cacat atau buruk performance dari proyek-proyek tambang sebelumnya.

Terkait proyek pabrik semen di Manggarai Timur, Marselinus Ado Wawo, tokoh NTT di Jakarta, mengatakan pemda Manggarai Timur wajib mengkaji ulang proyek tersebut jika masih ditolak sebagian masyarakat. Sementara pemda, Gubernur NTT, diberitakan sangat mendukung proyek pabrik semen di Manggarai Timur.

“Secara urgensi tidak banget karena kita oversupply. Mengapa tidak diperluas saja Semen Kupang. Pikiran besar bahwa pariwisata menjadi prime mover ekonomi kita itu akan terganggu. Kita punya pilihan strategis dan mesti ambil sikap yang terintegrasi,” ujar Iryanto.

Primus juga memandang ke depan Flores dan NTT tentu membutuhkan semen, hanya saja pabrik semen harus dibangun berdasarkan hasil kajian yang bagus, dilaksanakan sesuai aturan, efisien karena lebih murah, dan jangan dibangun di lahan yang subur. “Tapi kalau sekarang oversupply (semen), jangan dulu dibangun.”

Ketua Ikatan Alumni Seminari Mataloko (Alsemat), Emmanuel Billy, mengatakan Alsemat Institute akan secara produktif turut mengkaji persoalan tambang dan pembangunan di Flores, untuk menghasilkan rekomendasi positif bagi stakeholder (pemangku kepentingan) di Flores pada umumnya.