Laporan Rofin Selawolo & Rovina Aleksandry

NAGEKEO – (eNBe Indonesia) – Yayasan Summarecon Peduli, diwakili oleh Marselinus Ado Wawo, tokoh NTT di Jakarta yang juga Adviser PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), salah satu pengembang properti terbesar di negri ini, mengirim bantuan alat kesehatan juga alat pelindung pribadi (APD) untuk RSD Aeramo Nagekeo, pasca terbakarnya dua ruang farmasi rumah sakit pada 9 Mei lalu.

Bantuan Yayasan Summarecon Peduli meliputi kacamata faceshield, Masker N95 untuk dokter, APD, sarung tangan, masker untuk perawat, dan masker untuk keluarga. “Bantuan untuk kami banyak sekali, termasuk dari Pak Marsel (Yayasan Summarecon Peduli), selama bulan Mei ini,” ujar Direktur RSD Aeramo, drg. Reni Wahyuningsi, kepada Redaksi eNBe Indonesia hari ini.

drg. Reni Wahyuningsi

Reni mengatakan RSD Aeramo menerima bantuan dari Dinkes Propinsi NTT dan Dinkes Kabupaten, berupa obat-obatan, APD dan alat rapid test. Bantuan juga datang dari Papua, Jawa, juga Kemenkes RI. Pihak-pihak yang telah menyumbang seperti;

                     

Polda NTT mendapat bantuan 2.320 APD dari Yayasan Budha Tzu Chi Indonesia di Kupang. APD terdiri dari 400 buah sarung tangan, 800 buah sepatu bot, dan 800 buah safety goggles.

Sementara Pemkab Manggarai menutup akses keluar masuk kendaraan dan orang dari wilayah tetangga, termasuk kabupaten Manggarai Barat dan Manggarai Timur, untuk mencegah penyebaran virus corona (covid-19). Penutupan dilakukan pada Kamis pekan lalu (14/5).

Pemprov NTT kini tengah mengkaji bantuan bagi mahasiswa asal NTT yang menyelesaikan kuliah dan tugas belajar di luar wilayah NTT. Pasalnya, kini pemerintah di beberapa daerah memberlakukan larangan migrasi dan mudik sehingga ada mahasiswa asal NTT yang terjebak dan tidak dapat melakukan mudik dalam kondisi pandemi covid-19 ini. Hal tersebut terjadi misalnya di wilayah Bali dan Jawa yang kini berstatus zona merah covid-19. Pemprov NTT telah menyiapkan dana melalui mekanisme jaring pengaman sosial (JPS).

Di Jakarta, tim GARDA NTT bersama tokoh senior NTT membagikan sembako bagi mahasiswa. Ketua GARDA NTT Wilfridus Yons Ebit mengatakan bantuan sembako untuk mahasiswa NTT di Jakarta merupakan bentuk gerakan kemanusiaan dan dukungan beberapa tokoh NTT di Jakarta dan GARDA NTT bagi mahasiswa di tengah kesulitan akibat pandemi virus corona.

Per hari ini, jumlah kasus positif covid di NTT bertambah menjadi 68, dimana 6 telah sembuh dan satu meninggal dunia. Kabupaten Sikka melaporkan 26 kasus, disusul Manggarai Barat 12, Kota Kupang 8, Sumba Timur 7, Rote Ndao 2, TTS 2, Manggarai 1, Nagekeo 1, Ende 1, dan Florim 1.

Secara nasional, jumlah penambahan kasus terkonfirmasi positif COVID-19 per hari ini pukul 12.00 WIB bertambah 496 orang sehingga totalnya menjadi 18.010. Sedangkan pasien sembuh menjadi 4.324 setelah ada penambahan 195 orang dan kasus meninggal menjadi 1.191 dengan penambahan 43 orang.

Presiden Joko “Jokowi” Widodo menegaskan bahwa hingga saat ini pemerintah tidak mengeluarkan kebijakan pelonggaran terhadap pembatasan sosial berskala besar. Adapun yang sedang dikaji oleh pemerintah saat ini ialah mengenai skenario beberapa tahap yang nantinya akan diputuskan apabila telah ditentukan periode terbaik bagi masyarakat untuk kembali produktif namun tetap aman dari Covid-19. Penentuan tersebut tentunya harus didasari pada data-data dan fakta di lapangan.

Dalam beberapa minggu ke depan, pemerintah masih tetap berfokus pada upaya pengendalian Covid-19 melalui larangan mudik dan mengendalikan arus balik. Maka itu, Kepala Negara menginstruksikan Kapolri yang dibantu oleh Panglima TNI untuk memastikan upaya tersebut dapat berjalan efektif di lapangan.

Untuk pengendalian Covid-19 di tingkat daerah, Presiden Jokowi juga meminta menteri terkait dan para kepala daerah untuk memperkuat gugus tugas penanganan di tingkat RT, RW, dan desa. Bali diketahui menjadi salah satu daerah yang melakukan penanganan optimal di tingkat desa dengan desa adatnya yang memiliki kearifan lokal yang dinilai bisa membuat masyarakat untuk merasa terikat dan membatasi pergerakan di tengah pandemi.