Laporan Rovina Alexandry

KUPANG (eNBe Indonesia) – Gugus tugas percepatan penanganan covid-19 provinsi NTT bersama manajemen RSUD Prof WZ Johannes Kupang mengisolasi 17 perawat setelah seorang perawat dinyatakan positif corona berdasarkan hasil test swab. Kasus ini bermula ada pasien positif corona di salah satu ruang rawat dan 17 paramedis bertugas di ruang tersebut, tulis Pos Kupang Senin (18/5).

Di Lewoleba, seorang pasien yang dirawat dikabarkan kabur dari RSUD Lewoleba pada Minggu (17/5), setelah dinyatakan reaktif berdasarkan hasil rapid test.  Namun hasil test swab dinyatakan negatif. Dari Bali, sedikitnya 772 tenaga kerja asal Sumba Timur mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK), sebagai dampak dari pandemi covid-19.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTT, Dominikus Minggu Mere, di Kupang Selasa (19/5) mengatakan pasien positif covid-19 bertambah 5 orang sehinga jumlahnya menjadi 76 kasus. Tiga pasien positif berasal dari Kota Kupang (tansmisi lokal) dan 2 di Ende, terpapar dari klaster Magetan.

Sebelumnya di Kabupaten Ende terdapat empat pasien positif COVID-19 dari klaster Gowa, Sulawesi Selatan. Kabupaten Sikka masih mencatat 26 kasus positif, Manggarai Barat 12 kasus, Sumba Timur 7, Rote Ndao 2, TTS 2, Flores Timur 1, Nagekeo 1, dan Manggarai 1.

Sementara secara nasional, per hari ini, jumlah pasien sembuh bertambah 143 menjadi 4.467 sementara kasus meninggal bertambah 30 menjadi 1.221. Jumlah positif terinfeksi bertambah 486 menjadi 18.496.

Presiden Joko “Jokowi” Widodo menegaskan niat Pemerintah untuk secara bertahap kembali ke kehidupan normal, meskipun pandemi COVID-19 belum berakhir. Presiden mengingatkan orang-orang akan pentingnya disiplin dalam mengikuti protokol kesehatan dan menjaga jarak sosial ketika beradaptasi dengan normal baru.

Jokowi mengatakan, pemerintah sedang merumuskan skenario untuk kembali ke kehidupan normal. Jokowi, bagaimanapun, mengatakan bahwa pemerintah belum memutuskan kapan akan melanjutkan skenario. Jokowi mengatakan bahwa, ketika pengembalian bertahap siap, sebuah restoran, misalnya, dapat mulai dibuka kembali dengan setengah kapasitas sambil memastikan bahwa kursi dan meja diatur lebih jauh dari biasanya.

Seseorang tidak dapat menyalahkan Jokowi karena berniat untuk melonggarkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Pembatasan itu mahal karena tingginya tingkat ketidakpastian yang ditimbulkannya, dan ketidakpastian membuat ekonomi terpuruk. Ini bisa menciptakan masalah serius lainnya seperti pengangguran, kelaparan, dan banyak lagi.

Pengembangan vaksin untuk COVID-19 akan membutuhkan waktu. Beberapa mengatakan bahwa vaksin tidak akan siap sampai 2021, tetapi tidak mungkin untuk menunggu selama itu. Orang-orang membutuhkan makanan, logistik, pekerjaan, dan banyak lagi. Tidak semuanya dapat dilakukan secara virtual, dan tidak semua memiliki tabungan. Mereka yang memiliki tidak akan dapat menghabiskannya jika tidak ada makanan untuk dibeli.

Jokowi juga mengingatkan orang-orang akan pentingnya menjaga disiplin. Ini memang tantangan terbesar di Indonesia. Belum lagi kompleksitas sistem politik dan hubungan antara pemerintah pusat dan daerah yang telah membuat segalanya lebih sulit.

Beradaptasi dengan kondisi normal yang baru tidak akan mudah. Pertanyaannya adalah apakah Jokowi dapat meyakinkan orang-orang bahwa itu adalah hal yang benar untuk dilakukan mengingat bahwa ada orang-orang yang terus-menerus menentang cara mitigasi pandemi ini.

Pertanyaan lain yang relevan adalah apakah dia dapat memastikan bahwa pemerintah daerah, terutama mereka yang cenderung berkonfrontasi dengannya selama ini, akan bekerja sama dan mendukung keputusannya. Kerja sama dan partisipasi masyarakat dan pemerintah daerah penting untuk menegakkan disiplin dalam mengikuti protokol kesehatan begitu perekonomian dibuka kembali.