Oleh Yulius Riba*)

DEPOK (eNBe Indonesia) – Dalam serangkaian panjang riwayat perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia, tercatat bahwa Ir. Soekarno, yang kemudian terpilih sebagai presiden RI pertama, pernah diasingkan ke Ende. Bung Karno tiba di Ende pada tanggal 14 Januari 1934 setelah menempuh perjalanan selama 8 hari dengan kapal laut. Bersama beliau ada istrinya Inggit Garnasih, ibu Amsi (mertuanya), dan anak angkatnya, Ratna Djuami. Mereka menetap di rumah tahanan yang terletak di Kampung Ambugaga, Ende.

Yulius Riba

Bung Karno diasingkan di Ende sekitar 5 tahun, dari 1934 sampai dengan 1939. Di tempat pengasingan inilah, di sebuah taman yang berjarak sekitar 700 meter dari kediamannya, beliau menenggelamkan diri dalam permenungan yang mendalam soal realitas kebinekaan, fakta-fakta pluralisme dalam persahabatannya dengan para pastor Katolik di Ende dan pergaulan sosial dengan masyarakat.

Beliau bergelut dengan ide-ide kebangsaan yang terus menggelora dan melalui kontemplasi yang mendalam beliau menemukan nilai-nilai dasar kemanusian, ketuhanan, dan kebangsaan. Dari 3 keutamaan inilah lahirlah sila-sila Pancasila.

Dalam orasinya tanggal 1 Juni 1945 dalam sidang Dokuritsu Junbi Cosakai atau Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan ( BPUPK), pertama kali Bung Karno memproklamirkan gagasan atau konsep Pancasila sebagai dasar negara Indonesia. Oleh mantan Ketua BPUPKI Dr Radjiman Wedyodiningrat dalam kata pengantar buku yang berisi pidato Soekaeno kemudian dibukukan oleh BPUPK, disebutkan sebagai hari “Lahirnya Pancasila”.

Ide soal nilai-nilai Pancasila, dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia ini, sejatinya muncul di kota terpencil, Ende, Flores, NTT. Fakta ini tentu bukanlah sebuah kebetulan jikalau secara jujur kita cermati realitas kebangsaan kita hari ini bahwa NTT menjadi ibu toleransi di negeri yang kita cintai ini. Dari rahim Flores nilai-nilai kemanusiaan manusia diagungkan, ketuhanan Sang Ilahi dimuliakan, dan kebanggaan sebagai kebangsaan dilambungkan.

Inilah tentu menjadi sebuah kebanggaan historis. Tetapi kebanggaan yang artificial seperti ini telah membuat kita lengah. Tiba-tiba kita dikejutkan dengan penangkapan sepasang suami istri, pentolan Organisasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di Kupang oleh Brigade Meo dan aparat kepolisian dari Polsek Maulafa.

Suryadi dan istrinya yang kos di Jalan Air Lobang 3, Kelurahan Sikmana, diamankan pada Sabtu, 30/5/2020.  Suryadi membayarkan Rp. 20,000.00 (dua puluh ribu rupiah) kepada para peloper koran di Jl. El Tari Kupang pada Sabtu, 29-05-2020 agar para peloper koran bersedia menyelipkan selebaran paham Khilafah dalam lipatan koran yang dijual.

Jika kita mencermati secara sungguh video yang beredar, sesungguhnya penangkapan pasangan suami istri ini hanyalah puncak dari gunung es penyebaran Khilafah di NTT. Warga NTT yang ‘terkenal’ toleran tampak terlalu dininabobokan oleh stigma palsu ibu toleransi. Kita terlalu lelap terbuai slogan semu. Kita menjadi permisif dan tidak mawas pada aksi-aksi seperti ini.

Maka ketika Pancasila yang disarikan dari nilai-nilai hasil meditasi-kontemplasi Bung Karno di Ende, Flores, NTT harus mati dan terkubur karena aksi para pejuang Khilafah di NTT maka ini akan menjadi pukulan yang paling menyakitkan bagi kita semua.

Bisa jadi di NTT Pancasila lahir, di NTT juga Pancasila dikuburkan. Jika kita berkehendak agar Pancasila tetap kokoh mendasari kehidupan berbangsa dan bernegara maka hanya ada satu dan satu-satunya pilihan yakni bangkit dan memberangus paham dan aksi yang pada akhirnya merong-rong Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, termasuk paham Khilafah yang secara resmi oleh negara dilarang sama seperti paham komunisme.

“Flores mungkin terpencil tetapi sekali-kali bukanlah yang terkecil”.

Selamat Hari Lahir Pancasila
01 Juni 2020

*) Penulis adalah tokoh intelektual NTT, tinggal di Surabaya