by

Proyek Pesawat R80, tidak lagi beli pesawat ATR dari luar

-Iptek-114 views

DEPOK (eNBe Indonesia) – Mantan Presiden RI B.J. Habibie telah mengembangkan pesawat terbang regional turboprop R80, proyek pesawat kebanggaan nasional yang didukung penuh oleh pemerintah pusat. Pemerintah sendiri melalui PT Dirgantara Indonesia (PTDI) mengembangkan pesawat terbang N245, mengikuti konsep pesawat terbang CN235, rancangan Habibie. Pesawat turboprop R80, diproduksi oleh PT Regio Aviasi Industri (RAI) milik Habibie, diproyeksi menggeser pesawat ATR yang dibeli dari luar negeri.

“Jika kita sendiri memproduksi pesawat R80 maka akan memberikan dampak positif dan manfaat strategis bagi perekonomian nasional, daripada kita harus membelinya dari luar negeri,” ujar Justin Djogo,MA.,MBA., Direktur Komunikasi PT Regio Aviasi Industri (RAI) dalam siaran pers hari ini.

Tahun 2017, kata Justin, R80 resmi masuk dalam proyek strategis nasional (PSN) karena memenuhi kriteria strategis. “Penguasan teknologi dan industri dirgantara adalah hal strategis bagi negara dan bangsa. Pengembangan industri dirgantara bernilai strategis ekonomi yang sangat besar. Selain itu, nilai strategis yang diberikan oleh industri dirgantara nasional adalah memberdayakan dan mengembangkan SDM.”

Dalam pidato Bung Karno saat Hari ulang tahun Penerbangan Nasional, 9 April 1962, Sang Proklamator menekankan bahwa persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia akan lebih diperkuat oleh komunikasi darat, laut dan udara yang terjalin dengan baik.

Begitu pentingnya industri dirgantara nasional, Bung Karno meminta agar dibuatkan Patung Pancoran sebagai monumen Patung Dirgantara. Patung yang menggambarkan manusia angkasa yang penuh semangat. Artinya, keberanian bangsa Indonesia menjelajah angkasa.

Justin Djogo,MA.,MBA

Gayung bersambut, di masa Orde Baru, pemerintah pun memasukan industri dirgantara nasional sebagai Industri Strategis, dan ketika masuk di Era Reformasi setelah persoalan politik terkait pengalihan kekuasaan mereda, maka di jaman pemerintahan SBY, industri dirgantara nasional meningkat menjadi Strategi Industri Pertahanan. Dan saat periode pertama pemerintahan Jokowi (2014-2019), industri dirgantara nasional masuk dalam PSN, yakni termasuk R80.

R80 dimaksudkan untuk dapat mengisi pasar domestik dan regional menggantikan pesawat asing, melakukan regenerasi kemampuan teknologi bangsa, yang terhenti karena surutnya PTDI di tahun 2000an dan menjadi salah satu ujung tombak pertumbuhan ekonomi. R80 mengisi amanah yang diberikan dalam UU No.1 Penerbangan 2009 dan RIPIN 2015.

Namun, seperti diketahui, pada hari Jumat, 29 Mei 2020 lalu, pemerintah memutuskan menghapus dua proyek pengembangan pesawat, yakni R80 dan N245, dari daftar proyek strategis nasional (PSN).

Justin menandaskan PSN memberikan pesan bahwa pemerintah mendukung rencana bisnis pengembangan R80, walau dengan catatan, yakni pendanaan tanpa APBN, tidak ada jaminan dari pemerintah, pendanaan diupayakan melalui PINA (Pembiayaan non APBN). Selama fase design konsep, kata Justin, R80 sepenuhnya dibiayai oleh alm. Bapak BJ Habibie dan pemegang saham RAI lainnya.

Selama hadir dalam PSN, lanjut Justin, Bappenas/ PINA (Pembiayaan Investasi Non APBN) memberikan dukungan untuk fasilitasi kepada calon investor. Kemenlu RI yang memberikan dukungan economic diplomacy.

BKPM yang memberikan kemudahan dalam mengurus perijinan. Kemenristek memberikan dukungan program PPTI di bidang pengujian aerodinamika. Dan, BP Batam memberikan dukungan lokasi Aerospace Park.

“Kami juga berterimakasih kepada masyarakat yang telah mendukung melalui jalur crowd funding dengan menggunakan plat form kitabisa.com. Donasi masyarakat dalam jumlah berapapun sangat berarti, mendukung dan menunjukan semangat rakyat terhadap proyek R80,” pungkas Justin.

Comment

News Feed