Laporan Ubaldus Geli

NGADA (eNBe Indonesia) – Bupati Ngada Drs Paulus Soliwoa tidak tegas dan berani mencopot jabatan Wilhelmus Petrus Bate dan Silvester Tewe, padahal kedua birokrat ini tersangkut kasus suap mantan bupati Ngada Marianus Sae. Wilhelmus menjabat kepala badan keuangan kabupaten Ngada dan Silvester menjabat kepala dinas pekerjaan umum dan perumahan rakyat (PUPR) kabupaten Ngada.

Bupati Ngada Drs Paulus Soliwoa dilantik pada tanggal 7 April 2019 guna melanjutkan sisa masa jabatan Bupati Ngada sebelumnya, Marianus Sae, yang tersangkut masalah hukum. “Dalam fakta-fakta hukum kasus suap Marianus Sae, Wilhemus dan Silvester terbukti melakukan perbuatan tercela yang nyata-nyata sangat mencederai aturan tentang larangan sebagai pegawai negeri sipil (PNS),” kata Meridian Dewanta Dado, SH, koordinator tim pembela demokrasi Indonesia (TPDI) wilayah NTT, kepada Redaksi eNBe Indonesia hari ini.

Marianus Sae, terjaring dalam operasi tangkap tangan (OTT) KPK pada 11 Februari 2018 terkait kasus penerimaan fee dari sejumlah proyek di lingkungan Pemkab Ngada, divonis penjara 8 tahun, sedangkan Wilhelmus Iwan Ulumbu selaku pemberi suap divonis 2,6 tahun penjara.

Meridian Dewanta Dado, SH

Berdasarkan fakta-fakta hukum, tegas Meridian, Wilhelmus Petrus Bate yang menjabat sebagai kepala badan keuangan kabupaten Ngada sejak tahun 2011 telah memberikan uang kepada Marianus Sae selaku Bupati Ngada saat itu senilai Rp875 juta sebagai bentuk tanda terima kasih atas pengangkatan dirinya menjadi kepala badan keuangan kabupaten Ngada.

Pemberian uang oleh Wilhelmus Petrus Bate senilai Rp 875 juta atas permintaan Marianus Sae itu, jelas Meridian, dilakukan melalui setoran tunai secara bertahap ke rekening BNI atas nama Wilhelmus Iwan Ulumbu dimana ATM BNI atas nama Wilhelmus Iwan Ulumbu tersebut telah dikuasai oleh Marianus Sae sejak tahun 2011 sampai terjaring dalam OTT oleh KPK. Setoran tunai secara bertahap ke rekening BNI atas nama Wilhelmus Iwan Ulumbu itu dilakukan oleh para anak buah Wilhelmus Petrus Bate seperti Ngetu Petrus, Antonius Jemarus, dan Petrus K Nono.

Meridian, yang juga advokat PERADI ini, mengatakan Silvester Tewe yang menjabat selaku kepala dinas PUPR kabupaten Ngada sejak tahun 2011 mengakui pernah menerima uang sebesar Rp40juta dari Wilhelmus Iwan Ulumbu, dimana fee senilai Rp40 juta tersebut merupakan bagian dari fee yang berkaitan dengan perolehan sejumlah proyek di lingkungan Pemkab Ngada oleh Wilhelmus Iwan Ulumbu.

Selain patut disidik lebih lanjut oleh KPK-RI, maka pola tingkah dan perilaku Wilhelmus Petrus Bate yang memberikan uang kepada Marianus Sae adalah menyalahi ketentuan Pasal 4 angka (7) PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 53 TAHUN 2010 TENTANG DISIPLIN PEGAWAI NEGERI SIPIL yang berbunyi: “Setiap PNS dilarang memberi atau menyanggupi akan memberi sesuatu kepada siapapun baik secara langsung atau tidak langsung dan dengan dalih apapun untuk diangkat dalam jabatan”.

Sementara itu perilaku Silvester Tewe yang mengakui pernah menerima uang sebesar Rp40 juta dari Wilhelmus Iwan Ulumbu adalah menyalahi ketentuan Pasal 4 angka (8) PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 53 TAHUN 2010 TENTANG DISIPLIN PEGAWAI NEGERI SIPIL yang berbunyi: “Setiap PNS dilarang menerima hadiah atau suatu pemberian apa saja dari siapapun juga yang berhubungan dengan jabatan dan/atau pekerjaannya”.

Berkaitan dengan pelanggaran-pelanggaran atas larangan selaku PNS, maka Pasal 13 PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 53 TAHUN 2010 TENTANG DISIPLIN PEGAWAI NEGERI SIPIL menegaskan ikhwal hukuman disiplin berat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (4).

Demi penyelenggaraan pemerintahan daerah yang sesuai dengan asas-asas umum pemerintahan yang baik (AUPB) yang menjunjung tinggi norma kesusilaan, kepatutan, dan norma hukum maka Bupati Ngada Drs Paulus Soliwoa seharusnya sudah mencopot atau membebas-tugaskan Wilhelmus Petrus Bate dan Silvester Tewe dari jabatannya masing-masing, tandas Meridian.

“Bila Bupati Ngada Drs Paulus Soliwoa sampai detik ini tetap membiarkan keberadaan figur-figur berperilaku korup di instansi yang dipimpinnya, maka dia telah mengesampingkan penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan bebas dari praktek korupsi, kolusi dan nepotisme, serta perbuatan tercela lainnya,” ujarnya.

Akibat pembiaran keberadaan figur-figur berperilaku korup oleh Bupati Ngada Drs Paulus Soliwoa dalam instansi pemerintahan Kabupaten Ngada, lanjut Meridian, justru menimbulkan rangkaian perilaku-perilaku korup baru lainnya di Kabupaten Ngada, terbukti dengan telah ditetapkannya Silvester Tewe selaku tersangka oleh Kejaksaan Negeri Bajawa dalam dugaan tindak pidana korupsi kegiatan peningkatan jalan Dorarapu-Dhoki Matawae, kecamatan Golewa Barat tahun anggaran 2018 dengan nilai kontrak Rp3,43 miliar.