Laporan Jhonatan Raga

NAGEKEO (eNBe Indonesia) – Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat menegaskan pihaknya (pemerintah provinsi) dan pemerintah kabupaten/kota bekerja keras memerangi kemiskinan di NTT, juga meningkatkan mutu pendidikan. Dalam kunjungannya di Nagekeo pada Sabtu (27/6), Laiskodat menandaskan bahwa tugas pemimpin adalah membawa kesejahteraan, maka pemimpin harus memiliki visi ke depan, bukan pemimpin yang follower.

NTT adalah provinsi ketiga termiskin di Indonesia. Laiskodat menandaskan kemiskinan di NTT lebih disebabkan oleh kemalasan dan kebodohan. Maka pemimpin harus berpikir out of the box agar bisa memberi diagnosa yang tepat bagi orang miskin.

“Harus keluar dari cara-cara lama dan mulai mencoba cara-cara baru. Ini isu memalukan, bodoh, lapar, stunting, kemiskinan. Ini penderitaan luar biasa, propinsi ini,” ujar Laiskodat dalam sambutannya di Riung.

“Mari bangun kembali cara berpikir kita. Beban besar saya di sini. Jadi gubernur, saya sungguh-sungguh melihat mengapa angka kemiskinan tidak bergeser. Kita kerja serius di situ. Jika tidak mampu, kita intervensi, negara intervensi. Target saya 2027, kemiskinan sudah di 6-8%.” Saat ini tingkat kemiskinan NTT mencapai 20.62%, dan jumlah penderita stunting mencapai 30,80%.

Laiskodat juga mengatakan pemerintah provinsi NTT akan lebih serius melakukan penelitian, menyiapkan anggaran khusus tahun 2022 untuk membangun laboratorium besar, meneliti pertanian, peternakan, kesehatan, dan produk lanjutan. “Dengan penelitian kita bisa menjadi lebih hebat. Anak-anak dididik untuk bisa menjadi peneliti yang hebat.”

Sementara itu Laiskodat mengatakan Nagekeo adalah kabupaten yang memang layak menjadi kabupaten baru, diharapkan bisa menjadi kabupaten yang hebat ke depan. Dalam bidang ekonomi, harap Laiskodat, Nagekeo bisa menjadi sentra produksi coklat, sayur, juga kelor.

Di bidang pendidikan, Laiskodat, mendahului Menteri Pendidikan & Kebudayaan, mengarahkan agar pendidikan di NTT lebih fokus pada 3 mata pelajaran penting di tingkat SD, yakni bahasa Inggris, bahasa Indonesia, dan Matematika. “Mata pelajaran yang ada hapus semua,” ujarnya. Di SMP, ditambah mata pelajaran Fisika. Laiskodat mengharapkan 1-2 sekolah di NTT menjadi sekolah percontohan.

Chris Wai Mona

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim telah mengundang sejumlah organisasi guru untuk pada medio November 2019 membahas masalah pendidikan tanah air. Benar, muncul wacana mengubah kurikulum. Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia Muhammad Ramli Rahim mengajukan Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris, serta pendidikan karakter berbasis agama dan Pancasila menjadi mata pelajaran (mapel) utama di SD. Karena itu, mapel bahasa Inggris dihapus untuk SMP dan SMA. Sebab, sudah dituntaskan di SD.

Pembelajaran bahasa Inggris yang dimaksud Nadiem, lanjut Ramli, lebih fokus mengajarkan percakapan. Bukan tata bahasa. Kemudian, untuk SMP tidak boleh lebih dari lima mapel yang diajarkan kepada siswa. Sedangkan di SMA, maksimal enam mapel tanpa penjurusan. Bagi siswa yang ingin fokus pada keahlian tertentu dipersilakan memilih SMK.

Chris Wai Mona, pemerhati pendidikan asal NTT di Jakarta, yang juga alumni Universitas Indonesia, mengatakan Gubernur Laiskodat tidak etis mendahului Mendikbud terkait pengurangan mapel dalam kurikulum baru yang sedang dirancang. “Yang harus jadi perhatian dan diantisipasi adalah implikasi dari kurikulum baru bagi para guru, jika benar mapel dikurangi, hanya fokus pada 3-4 saja,” ujarnya. Banyak guru yang akan kehilangan pekerjaan.

Sumber eNBe Indonesia di Jakarta mengatakan, Laiskodat bisa dipromosikan menjadi menteri, jika Menteri Komunikasi dan Informasi Jhonny G Plate masuk radar resuffle cabinet oleh Jokowi. Jhonny dan Laiskodat adalah elit di Partai Nasdem.