by

Pater Dr. Hubertus Muda SVD, Pemantik Spirit ‘Misi di Lima Benua’ (4)

-Profil-108 views

Tulisan serial ini adalah refleksi pribadi seorang murid untuk gurunya Pater Dr. Hubertus Muda SVD, yang pada 25 Juni 2020 ini memperingati 42 tahun Imamat. Selamat membaca!

Oleh Maxi Ali Perajaka*)

Semenjak Mei 1994, saya beralih dari ladang misi SVD lalu masuk ke ladang ‘misi baru’, yaitu dunia jurnalistik pasar uang dan pasar modal, di ibu kota, Jakarta. Misi baru ini bertaut dengan ‘konten dan konteks’ yang samasekali berbeda dari ‘konten dan konteks misi’ yang pernah saya geluti sebagai anggota SVD sebelumnya. Konten misi baru yakni data dan informasi tentang aktivitas pasar uang dan pasar modal. Konteksnya ialah komunitas pasar uang dan pasar modal yang terdiri dari perusaahaan publik, para pemegang saham (shareholders), para pihak yang berkepentingan dengan pasar modal (stakeholders), dan warga komunitas investor.

Maxi Ali Perajaka

Dengan begitu, ‘misi’ berarti menulis/mewartakan berita pasar uang dan pasar modal secara ‘benar’ menurut prinsip kejujuran (transparency) keadilan (fairness), akuntabilitas (accountability), independensi (independency) dan tanggung jawab sosial (social responsibility), sehingga para pihak di lingkungan pasar uang dan pasar modal meraih benefit yang sewajarnya. Jadi, kalau pada ‘misi lama’ saya berkutat dengan pewartaan dan kesaksian langsung tentang pribadi dan sabda Yesus Kristus, maka pada ‘misi baru’ saya lebih berkutat dengan lima nilai good corporate governance (GCG). Saya percaya, nilai-nilai tersebut merupakan perejawantahan dari hukum cinta kasih yang dipromosikan oleh Yesus Kristus melalui Kitab Injil dan ajaran GerejaNya.

Karya misi jurnalisme mendapat dukungan dan perhatian serius dari pemimpin tertinggi gereja Katolik. Dalam pesannya untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia tahun 2018 yang jatuh pada 13 Mei, Paus Fransiskus mengatakan bahwa dalam dunia komunikasi yang berkembang sangat cepat, setiap jurnalis memiliki tanggung jawab untuk memerangi kesalahan informasi dan informasi yang melenceng dari kebenaran, serta memperlakukan jurnalisme sebagai misi yang berorientasi pada pemuliaan martabat manusia.

“Di dunia saat ini, [karya jurnalis], dalam arti apa pun, bukan hanya pekerjaan; [tetapi] ini adalah misi,” tulis Paus dalam pesannya yang dirilis pada 24 Januari 2018 lalu. “Di tengah hiruk-pikuk kesibukan mencari nafkah, para jurnalis harus ingat bahwa jantung informasi bukanlah kecepatan yang dilaporkan atau sejauh mana efeknya untuk para audiensnya, tetapi pada kebaikan umat manusia. Memberi informasi [yang benar] untuk orang lain berarti membentuk orang lain; membangun kehidupan orang-orang, Oleh karena itu, memastikan akurasi informasi dan melindungi martabat nara sumber merupakan sarana nyata untuk mempromosikan kebaikan, menghasilkan kepercayaan, dan membuka jalan menuju kemajuan peradaban, persekutuan dan perdamaian dunia.”

Paus Fransiskus pun menegaskan, pada zaman postmodern ini di mana begitu banyak orang merasa alergi terhadap gereja, mewartakan pesan Injil pada waktu yang kurang tepat dan dengan cara yang salah, dapat menimbulkan lebih banyak efek buruk, daripada efek baiknya. Jadi, penting untuk diingat bahwa pesan utama Injil adalah cinta. Oleh karena itu tantangan utama bagi jurnalis Katolik ialah mengetahui bagaimana pesan itu dapat diterjemahkan ke dalam bahasa jurnalistik postmodern. Dalam banyak kasus, ini mungkin mengharuskan jurnalis Katolik untuk menggunakan bahasa Katolik yang lebih universal – menautkan ceritanya pada konsep-konsep dasar seperti kebenaran, kebaikan, keindahan, dan keadilan.

Tugas para jurnalis Katolik, tidak hanya menarik para audiensnya untuk mengarahkan hatinya kepada Tuhan, tetapi juga membantu mereka untuk masuk ke dalam inti imannya sendiri, dan memberi makna pada pengalaman hidup menurut nilai-nilai Injili. Bagi jurnalis Katolik sejati, benih kebenaran ibarat mutiara yang mahal harganya. Oleh karena itu, ia harus mampu membungkus benih kebenaran dalam setiap cerita yang ditulisnya.

Bermisi melalui jurnalisme sejalan dengan pesan Paus Paulus VI dalam ensikliknya Evangelli Nutiandi, bahwa “Gereja ada untuk menginjili (dunia)”. Paus Fransiskus memang sepemikiran dengan pendahulunya, Paus Paulus VI. Namun Paus Fransiskus memilih untuk menyamarkan ajaran sosial Gereja yang mendalam dan kompleks dengan bahasa sehari-hari yang membumi. Makanya, berkenaan dengan misi melalui jurnalisme, Paus Fransikus mengajukan pertanyaan menantang sebagai berikut: “Apakah jurnalis Katolik harus menyamarkan iman mereka, seperti seorang nelayan menyembunyikan mata kailnya dengan umpan? Apakah jurnalis Katolik harus memodifikasi iman mereka sehingga menyatu dengan budaya media masa kini? Ya, boleh! Tetapi ingat, mereka tidak boleh menyamarkan/memodifikasi terlalu banyak sehingga mengubah pokok iman mereka. Penyamaran iman secara terbatas bisa saja dilakukan. Sebab Yesus sendiri mengatakan, “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati” (Matius 10:16).

Paus Fransiskus pun menyatakan, misi melalui jurnalisme yang diemban orang-orang Katolik melalui media publikasi Katolik itu ibarat ‘setengah pertempuran’ karena tidak mampu menjangkau semua orang. ‘Setengah pertempuran’ berikutnya terjadi melalui para jurnalis Katolik yang berkarya di media publikasi umum. “Saya memperkirakan ‘medan pertempuran’ kita akan lebih luas, kalau kita mempertimbangkan kehadiran media baru seperti media sosial, saluran video online, podcast, dan jenis media baru lagi yang akan ada di masa depan. Jadi, sebagai warga gereja Katolik, kita harus terus bekerja keras untuk mendapatkan pijakan yang kuat di kancah media massa, terutama di kancah media baru. Inilah wilayah misi baru di mana Gereja Katolik harus mulai menjelajahi dan memijakkan kakinya secara seriu pada beberapa tahun ke depan.”

Rumah induk Ledalero, dan Pater Hubert secara pribadi boleh saja berbangga, karena dalam beberapa dekade terakhir, tak sedikit dari alumni Ledalero yang menekuni profesi sebagai jurnalis, baik di media lokal, media nasional maupun media internasional. Kita berharap, mereka semua setia menjalai karya ‘misi’ itu sesuai dengan spirit yang dihembuskan oleh ibu Gereja sendiri. (Bersambung)

*) Penulis adalah alumnus STFK Ledalero/Seminari Tinggi St. Paulus, Ledalero (1984-1992, Pendiri Cornelisen Institute

Comment

News Feed