DEPOK (eNBe Indonesia) – Sejumlah “hoaks” ditebarkan segelintir publik Flores diaspora terkait rencana pembangunan tambang gamping dan pabrik semen di Manggarai Timur (Matim). Lokasi tambang gamping seluas 505 ha terletak di Lengko Lolok, sedang pabrik semen seluas 130 ha berada di Luwuk. Keduanya berada di Desa Satar Punda, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Matim bagian utara. Letaknya di tepi Pantai Utara Flores.

Bupati Manggarai Timur dan anggota DPRD mendukung dua proyek terkait di atas, seirama dengan keinginan Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat. Namun, setelah bertemu Uskup Ruteng Mgr Siprianus Hormat, Pr, Viktor menyatakan mempertimbangkan kembali, dan tidak ingin masyarakat terpecah karena tambang. Apakah ini sinyal bahwa proyek ini akan dibatalkan?

Hal yang juga menarik, “hoaks” pun mewarnai polemik, terutama dari kelompok anti, yang menolak dua proyek tersebut di atas. Apakah hoaks bisa turut andil menggagalkan? Di balik ini semua, publik Flores diharapkan tidak mudah menjadi korban hoaks, karena hoaks tidak mendidik, tidak mencerahkan, justru membunuh karakter generasi Flores sendiri.

Mesti diakui bahwa 154 warga atau 95% masyarakat terdampak menerima kehadiran pabrik semen berikut tambang batu gamping di Satar Punda. Hanya 9 warga yang menolak, yaitu 2 di Lengko Lolok dan 7 di Luwuk. Jadi ada informasi bahwa masyarakat menolak adalah hoaks. Faktanya, penguasaan lahan oleh warga yang mendukung sekitar 93%.

Lahan untuk lokasi tambang dan pabrik semen adalah tanah kritis, ditumbuhi lamtoro dan jambu mente yang ditanam penduduk. Sawah hanya sekitar 6 ha lebih di Luwuk teretak di dekat laut dengan intrusi air laut tinggi. Rakyat hidup dengan menjual kayu lamtoro untuk kayu bakar. Maka pihak-pihak yang mengatakan lahan tersebut adalah tanah subur–dengan pepohonan berbagai jenis yang rimbun, sawah ratusan hektare dengan produktivitas tinggi–adalah hoaks.

Ada yang mengklaim, tambang batu gamping akan menenggelamkan Flores, lebih dari sejuta penduduk meninggal, air tanah hilang dan itu akan dialami hingga di Nagekeo. Ini jelas hoaks. Dampak terhadap lingkungan dapat dikendalikan. UU dan berbagai peraturan mengatur usaha tambang lewat AMDAL dan pemulihan lokasi tambang pasca-penambangan.

Luas tambang dan pabrik semen ini 635 ha atau hanya 0,2% dari luas Kabupaten Matim dan 1,8% luas Kecamatan Lamba Leda. Tidak mungkin Flores tenggelam. Air di permukaan tanah maupun di bawah tanah di Desa Satar Punda mengalir ke Laut Flores. Karena letaknya di tepi Laut Flores. Tidak mungkin air di Matim utara mengalir ke arah timur dan ke arah barat Flores.

Terkait isu kawasan bentangan alam karst (KBAK) di Desa Satarpunda, Matim, ada pihak yang mengklaim KBAK di Matim termasuk yang dilarang UU karena akan menghilangkan air tanah dan menghancurkan ekologis. Ini juga hoaks.

Belum ada kajian final dari tim geolog independen dan juga kajian dari Kementerian ESDM. Tapi, hasil penelitian sementara tim sebuah universitas menunjukkan, KBAK di Matim termasuk KBAK level satu. Sebaran batu gamping di permukaan dapat dikelola untuk memberikan manfaat ekonomis kepada masyarakat sekitar, bangsa dan negara. Yang diatur ketat pemeririntah adalah KBAK level dua, level tiga, dan terutama level empat.

Hoaks berikut, ada pihak mengklaim sudah ada kajian ahli geologi terhadap KBAK di Matim. Hasil kajian itu menunjukkan, wilayah KBAK di Matim dilarang untuk ditambang. Faktanya, belum ada kajian geolog independen terhadap KBAK di Matim. Tim AMDAL yang dipercayakan perusahaan tambang masih sedang membuat penelitian.

Sebagian kelompok mengatakan proyek tambang batu gamping dan pabrik semen di Matim sama sekali tidak ada dampak ekonomis. Sebaliknya, tambang gamping dan pabrik semen hanya membawa kehancuran dan para pendukung semen adalah pendosa.

Faktanya, dengan investasi sekitar Rp 7 triliun, tambang gamping dan pabrik semen ini memberikan manfaat besar kepada masyarakat sekitar, bangsa, dan negara.

  • Perusahan menyerap 400 tenaga kerja. Dari jumlah itu, 280 atau 70% adalah warga lokal, terutama sekitar tambang.
  • Pabrik semen Matim akan memenuhi kebutuhan semen NTT yang saat ini 1,2 juta ton per tahun dan Semen Kupang hanya mampu produksi 300.000-350.00 setahun.
  • Pabrik semen berkontribusi terhadap APBD Matim dan pajak negara.
  • Menggerakkan ekonomi sekitar lewat pembelian bahan pangan.
  • Dibangunnya sebuah pelabuhan laut dengan kapasitas labuh 100.000 gwt.
  • Dibangunnya pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) 2x 50 MW

Maka, tidak benar warga Lengko Lolok dan Luwuk akan menjadi orang miskin, sekadar menjadi kuli turun-temurun. Faktanya, warga rela menjual tanah karena yakin mendapatkan taraf hidup lebih baik. Ganti rugi rumah, kebun, dan ladang (beberapa keluarga memiliki sawah) yang mereka terima, minimal Rp400 juta. Ada yang menerima hingga miliaran rupiah.

Dana yang mereka terima sudah termasuk rumah di perumahan baru yang dibangun perusahaan, lengkap dengan listrik dan air untuk orang Lengko Lolok. Sedangkan orang Luwuk diberikan dana rehab rumah sebesar Rp30 juta dengan fasilitas listrik. Mereka yang memiliki dana lebih membeli tanah di Ruteng untuk membangun rumah kost, dan yang lainnya membeli sawah di desa dan kecamatan tetangga, serta mempunyai dana yang cukup untuk membiayai pendidikan anak mereka. Rakyat terdampak mengetahui persis kondisi riilnya dan masa depan yang baik untuk mereka dan anak cucunya.