DEPOK (eNBe Indonesia) – Kasintus Proklamasi Ebu Tho (Maxi Ebu Tho) meninggal dunia pada Sabtu (11/7) di rumah sakit Prof. WZ Yohanes Kupang setelah dirawat selama 2 bulan akibat menderita kanker usus. Almarhum meninggal pada usia 65 tahun, meninggalkan istri tercinta dan tiga anak. Anak Yosi tinggal di Jakarta, anak Hanes di Yogyakarta, dan anak bungsu di Kupang. Almarhum lahir pada 17 Agustus 1955, putra dari Feliks Feto, mantan Camat Nangaroro, Nagekeo, Flores.

Maxi Ebu Tho

Beberapa tahun sebelumnya, almarhum pernah dioperasi di RS St Carolus Jakarta, dan diwajibkan periksa rutin. Sayang, saat penyakit kambuh bulan lalu, almarhum tidak bisa ke Jakarta akibat penerapan PSBB virus corona (covid-19).

Selama operasi di Kupang, keluarga besar tidak mendapat informasi karena sengaja dirahasiakan, selain tidak merepotkan tetapi juga menghindari kemungkinan penyebaran virus corona. “Kami sangat kaget karena tidak pernah tahu almarum sakit. Selama ini almarhum selalu hadir di acara keluarga Nagekeo di Kupang, dan beliau sangat dekat dengan anak-anak muda, mahasiswa,” ujar Maximus Mango, salah satu birokrat di Kupang kepada Redaksi eNBe Indonesia hari ini.

Esthon L. Foenay, mantan gubernur NTT, turut berduka harus kehilangan tokoh penting di NTT. ” Selamat jalan Sang Perintis pembentukan Gerindra di NTT, diberi mandat utk pembentukan DPC Ngada, Nagekeo, Ende dan Sikka th 2008. Perjuanganmu selalu menjadi catatan di salah satu bab buku Perjuangan Gerindra NTT. Teriring doa kami,” tulis Esthon di WA Group, termasuk WA Group ‘Forum Satu Flores’ yang diprakarsai mantan ketua DPRD NTT Anwar Puageno.

“Selamat jalan Bapak Maxi! Kami sekeluarga, Pemda dan Masyarakat Nagekeo menghaturkan turut berbelasungkawa yang sedalam-dalamnya atas kepergian bapak Maxi Ebu Tho ke pangkuan Bapa di Surga. Tuhan Yesus, Bunda Maria terimalah saudara kami ini dalam perjamuanMu yang abadi dan anugerahkanlah Roh Penghiburan bagi keluarga yang ditinggalkan. Tuhan memberkati,” ujar Marianus Waja, wakil bupati Nagekeo dan Pembina Partai Gerindra Nagekeo.

Yeremias Pande Gany, tokoh Nagekeo di Kupang yang juga kader terbaik Gerindra NTT, menggambarkan betapa bersahaja sosok bapak Maxi Ebu Tho. “Bp Maksi Ebu Tho, boleh di katakan maestro politik untuk kalangan politisi NTT.  Seni berdiplomasi tanpa melukai lawan tetap jadi ciri khasnya.”

Yeremias,  kader Gerindra NTT lulusan terbaik pelatihan kader nasional di Hambalang Bogor Tahun 2010 ini, menandaskan bahwa Maxi Ebu Tho selalu melihat politik dalam skala nasional untuk acuan politik lokal. “Dalam Komunikasi politik sampai pada tingkat desa atau ranting selalu santun, selalu memberi motivasi kepada pemuda sebagai kader,” ujarnye kepada Redaksi eNBe Indonesia.

Maxi Ebu Tho pernah menjabat Ketua Fraksi Gerindra dan wakil ketua DPRD NTT period 2009-2014 dan ketua Komisi I periode 2014-2019. Sebelumnya Maxi adalah dosen fisipol di Universitas Timor Timur di Dili tahun 1993-1999. Dia juga konsultan LSM Yayasan Bina Desa di Timor Timur (sebelum pisah dari NKRI). Maxi adalah alumni SMA Syuradikara Ende-Flores dan Ilmu Administrasi Negara (IAN) di UNKRIS JAKARTA, pernah belajar di Universitas Krisnadwipayana (UNKRIS) Jakarta.

Selamat jalan om Maxi Ebu Tho! Terima kasih untuk pengabdianmu bagi rakyat NTT selama lebih dari 10 tahun. Publik NTT tentu sangat kehilanganmu, namun tetap bangga karena engkau selalu gigih memperjuangkan aspirasi rakyat. Sudah cukup banyak aspirasi rakyat yang engkau perjuangkan dan direalisasikan.