DEPOK (eNBe Indonesia) – Indonesia mencatat 1.681 infeksi baru dan 71 kematian pada hari Minggu (12 Juli). Itu berarti Indonesia semakin dekat untuk melaporkan lebih banyak infeksi daripada Cina. Total terinfeksi di Cina mencapai 85.522, sementara Indonesia mencatat 75.699 terinfeksi. Berita bagus, sebagian besar kasus baru diklasifikasikan dengan gejala ringan yang tidak perlu dirawat di rumah sakit. Dengan demikian, sistem rumah sakit tidak kewalahan dengan tingkat hunian tempat tidur kurang dari 60%.

Dengan total kematian 3.606, Indonesia melaporkan tingkat kematian 4,8%, masih di antara yang tertinggi, tetapi bergerak mendekati rata-rata dunia. Tingkat pemulihan juga naik menjadi 47%, juga lebih dekat dengan rata-rata dunia. Beberapa provinsi melaporkan tingkat pemulihan yang lebih tinggi, termasuk ibu kota Jakarta (63,4%) dan Bali (64,3%). Provinsi Sulawesi Tengah melaporkan pemulihan yang lebih tinggi lagi sebesar 86%, sementara Kalimantan Timur mencapai 71,4%.

Namun, provinsi-provinsi berpenduduk padat di Jawa Timur (pusat episentrum saat ini), Jawa Tengah, dan Jawa Barat tetap waspada karena tingkat pemulihan yang lebih rendah dan tingkat infeksi yang tinggi pada saat yang sama. Kapasitas pengujian nasional telah meningkat hingga di atas 20.000 tes/hari, tetapi perlu ditingkatkan hingga 30.000 tes/hari.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan Jakarta mencatat tiga kali rekor baru tertinggi jumlah terinfeksi dalam satu minggu terakhir, tertinggi pada Minggu (12 Juli) dengan 404 kasus baru. Memang jumlah tes PCR meningkat tiga kali dari standar WHO karena Jakarta menerapkan active case finding.

Selama PSBB transisi (4 Juni-12 Juli), tercatat 6748 kasus baru karena akif dilakukan tracing, dengan positive rate dibawa 5%. Tapi pada Minggu kemarin, angka positive rate melonjak menjadi 10.5%. “Ini peringatan serius agar kita lebih waspada dan disiplin. Jika kondisi ini berlangsung terus, kita bisa kembali ke situasi sebelum ini,” tegas Anies.

Anies mengatakan kluster terbanyak terinfeksi adalah rumah sakit (45%), komunitas (38%), pasar (6,8%), pekerja migran (5,8%), dan perkantoran (sisanya). “Ingat, sekitar 66% adalah OTG (orang tanpa gejalah). Harus ekstra hati-hati. Di tempat transportasi umum, pasar, harus tetap jaga jarak aman 1 meter, pakai masker kapan dan di mana pun, cuci tangan dengan sabun. Ruang tempat berkegiatan tidak boleh lebih dari 50% kapasitas, dan jangan ragu ingatkan/tegur bila ada yang tidak lakukan protokol kesehatan.”

Kepala Gugus Tugas COVID-19, Doni Monardo mengatakan pada hari Kamis (9 Juli) bahwa pemerintah akan kembali memberlakukan pembatasan sosial bersekala besar (PSBB) setelah negara itu mencatat kenaikan kasus untuk hari kedua berturut-turut.

Indonesia melaporkan penambahan kasus harian tertinggi pada Kamis, dengan 2.657 kasus baru. Indonesia tidak pernah melaporkan lebih dari 2.000 kasus dalam sehari sebelumnya. Pada hari sebelumnya ada 1.853 kasus baru tercatat. Pada Minggu (12 Juli) sebanyak 1.681 kasus baru, Sabtu (11/7) 1.671 kasus baru, dan Jumat (10/7) 1.611 kasus baru.

Doni menjelaskan ketika Indonesia bersiap untuk membuka kembali perekonomian secara bertahap, pemerintah telah mengumumkan bahwa daerah-daerah tersebut harus memenuhi dua syarat utama untuk dapat melonggarkan PSBB dan mulai memasuki apa yang disebut “normal baru”.

Daerah tersebut harus mempertahankan nol kasus COVID-19 atau telah mencatat penurunan yang signifikan dalam jumlah yang terinfeksi dan membuka kembali perekonomian di bawah protokol kesehatan yang ketat, tambahnya.

Namun, kebijakan tersebut akan sangat dinamis dan berbalik dengan cepat, jika daerah tidak dapat mempertahankan dan menekan kasus COVID-19 dengan benar. Jika itu tidak terjadi, Pemerintah akan mencabut pelonggaran dan memberlakukan kembali PSBB di wilayah tersebut.

“Begitu ada kasus melonjak, secara otomatis diperketat, dibatasi lagi. Presiden mengatakan ada pelonggaran tetapi segera dikunci jika kasus naik, itu segera diperketat lagi. Ini adalah model kepemimpinan, manajemen krisis yang harus diterapkan oleh pemimimpin di daerah,” katanya.

Menanggapi lonjakan kasus baru, Presiden Joko Widodo, di sela-sela kunjungannya ke Kalimantan Tengah pada hari Kamis, mengatakan negara itu kembali dalam posisi “lampu merah”. Karena itu, ia memerintahkan para menteri dan semua pemerintah daerah untuk waspada dengan situasi ini dan segera mengambil tindakan.