by

Jelamu Ardu Marius, kandidat kuat Dirjen Bimas Katolik

-Profil-154 views

DEPOK (eNBe Indonesia) – Hubungan gereja dan negara terus bertumbuh positif karena negara memberi peluang berkembangnya gereja melalui berbagai program pemberdayaan yang difasilitasi Direktorat Bimas Katolik di Kementerian Agama RI.

Jelamu Ardu Marius

Jelamu Ardu Marius, saat ini Kepala Biro Humas dan Protokol Setda NTT, mengatakan melalui proses kemitraan, pemerintah dan institusi gereja Katolik terus bergandengan tangan memberi pelayanan terbaik kepada umat Katolik, yang juga warga bangsa.

“Perhatian negara terhadap lembaga-lembaga pendidikan Katolik nyata dan perlu ditingkatkan. Ini tugas utama Bimas Katolik untuk lebih intens memberi asistensi bagi lembaga pendidikan agama Katolik, selain memberi asistensi bagi umat Katolik,” ujar Marius kepada Redaksi eNBe Indonesia siang ini.

Marius, jika dipilih Presiden menjadi Dirjen Bimas, akan fokus mendorong eksistensi Bimas Katolik di negeri ini juga dunia karena sebagai wakil negara, Bimas Katolik harus memperjuangkan hak hidup umat katolik sebagai anak bangsa, berikut melestarikan keanekaragaman dan toleransi.

“Ini harus menjadi spirit seluruh tata kelola Bimas Katolik, karena hak dan kewajiban umat yang adalah rakyat dijamin oleh UU dan ideologi Pancasila. Dalam tupoksi bimbingan masyarakat, Bimas Katolik tentu membangun kerja sama yang kuat dengan hirarki gereja, lembaga pendidikan (katolik & non katolik),” jelas Marius.

Namun, lanjut Marius, Bimas Katolik mesti juga memberi penekanan pada pemberdayaan umat di bidang sosial dan ekonomi, karena gereja Katolik harus mulai melangkah jauh dari ritualisme-oriented (aspek spiritualitas).

Marius mengapresiasi negara yang sudah memberi perhatian bagi sekolah-sekolah swasta Katolik, tapi dia menginginkan perhatian tersebut masih perlu ditingkatkan. “Negara pantas memberi perhatian bagi sekolah swasta Katolik karena jauh sebelum kemerdekaan peranan pendidikan swasta Katolik sangat besar, ikut mencerdaskan dan mendidik anak-anak bangsa. Sekolah swasta Katolik di Indonesia sangat unggul karena memiliki kekuatan sendiri,” demikian ujar Marius.

Negara dan pemerintah telah mengaloksi dana BOS bagi sekolah swasta, tetapi siswa masih terbeban dengan biaya pembangunan gedung sekolah. Marius berharap pemerintah juga memberi perhatian pada aspek sarana dan prasarana pendidikan (gedung), agar sekolah tidak lagi memungut uang pembangunan dari siswa.

Marius juga ingin kerja sama antara keuskupan diperkuat karena kiblat umat Katolik adalah Vatikan. “Dan Bimas Katolik sebagai wakil negara bisa jadi mediator membangun kerja sama dengan para misionaris di luar negeri dan keuskupan luar negeri karena misionaris turut berperan dalam mempromosikan Indonesia sebagai negara yang toleran, bersatu dalam keberagaman,” ujar Marius yang menguasai lima bahasa asing itu.

Proses seleksi Dirjen Bimas Katolik sudah berjalan sejak Maret 2020. Tiga nama akan diserahkan kepada Presiden Joko “Jokowi” Widodo untuk dipilih sebagai Dirjen. Proses seleksi kali ini dilakukan secara terbuka, pertama dalam sejarah. Tidak lagi penunjukkan, tapi berdasarkan pada kapasitas dan kemampuan.

Untuk diketahui mayoritas umat Katolik berada di wilayah propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Kandidat lain seperti Ignasius Ik (Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Kalimantan Barat), Adrianus Meliala, Agustinus Wisnu Dewantara (dosen Sekolah Kateketik Madiun), Suparman (Eselon II pada Kementerian Kemaritiman), dan Yohanes Bayu Samoedro (dosen pada sebuah sekolah tinggi).

Profil: Jelamu Ardu Marius

Lahir : Manggarai 15 Agustus 1963
Istri : Jeanne D Arombua (5 anak)
Jabatan :

– Kepala Biro Humas dan Protokol Sekretariat Daerah Provinsi NTT (2019-sekarang)
– Penjabat Bupati Manggarai (2015-2016)
– Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT (2015-2018)
– Kepala Biro Ekonomi Sekretariat Daerah Provinsi NTT (2014-2015)

Pendidikan:

SD (Sekolah Katolik 1 Cancar) 1976
SLTP (Seminari Pius XII Kisol) 1980
SLTA (Seminari Pius XII Kisol) 1983
Diploma
S1 (Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero) 1989
S2 (Jurusan Sosiologi Universitas Indonesia) 1999
S3 (Jurusan Penyuluhan Pembangunan Institut Pertanian Bogor) 2007

Comment

News Feed