Menteri Pendidikan Nadiem Makarim sedang duduk di kursi panas selama ini. Banyak yang menginginkan posisinya, sementara yang lain berharap dia diganti. Dua organisasi Muslim terbesar di negeri ini, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, akhir-akhir ini mengkritik program pelatihan guru Nadiem yang dikenal sebagai Program Organisasi Penggerak (POP). PAN, sebuah partai politik yang berafiliasi dengan Muhammadiyah, bahkan menyerukan agar Nadiem dipecat.

Program POP adalah bagian dari inisiatif ‘kebebasan untuk belajar’ (Freedom to Learn) Nadiem. Ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas guru dengan melibatkan masyarakat dan organisasi. Kementerian telah memilih 156 dari 4.464 organisasi yang terdaftar. Diantaranya adalah Tanoto Foundation (organisasi filantropi yang didirikan oleh taipan kehutanan Sukanto Tanoto) dan Putera Sampoerna Foundation (PSF, organisasi filantropi yang terhubung dengan raksasa rokok PT HM Sampoerna).

Keputusan Nadiem untuk melibatkan dua yayasan tersebut membuat marah beberapa organisasi besar di negri seperti NU, Muhammadiyah, dan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Mereka mempertanyakan transparansi proses pemilihan program POP. Mereka berpendapat bahwa organisasi yang terhubung dengan kelompok bisnis utama seperti Tanoto Foundation dan Putera Sampoerna Foundation tidak boleh berpartisipasi dalam program dan mendapatkan dukungan dari APBN. Mereka menyarankan bahwa kementerian harus merealokasi anggaran program POP untuk membantu siswa dan guru miskin, terutama di daerah pedesaan yang terkena pandemi COVID-19, untuk menyediakan infrastruktur yang lebih baik. NU, Muhammadiyah, dan PGRI bahkan menarik diri dari program tersebut sebagai unjuk rasa. Kepala Eksekutif PAN Saleh Partanonan Daulay bahkan mendesak Presiden Joko “Jokowi” Widodo untuk memecat Nadiem.

Kontroversi seputar program Nadiem, kami tidak terkejut dengan kritik keras dari organisasi tersebut. Nadiem telah dikritik sejak hari pertama dia berkantor. Kami juga tidak terkejut dengan manuver PAN untuk menyerukan pemecatan Nadiem.

PAN ingin bergabung dengan koalisi Jokowi yang berkuasa. Pandemi COVID-19 dan pembicaraan tentang perombakan kabinet lainnya telah memberinya kesempatan. Beberapa pemimpin kunci PAN mengatakan bahwa mereka memiliki empat calon menteri untuk diusulkan kepada Presiden. Banyak yang percaya bahwa PAN membidik kementerian kesehatan dan kementerian pendidikan karena kedua portofolio ini secara tradisional adalah milik Muhammadiyah.

Pertanyaannya sekarang adalah apakah Nadiem bisa selamat? Nadiem bukan wakil partai politik, tetapi ia memiliki koneksi politik yang kuat dengan tokoh-tokoh berpengaruh di lingkaran dalam Presiden. Dia adalah putra Nono Anwar Makrim, seorang pengacara terkenal. Nono menikahi Atika, yang merupakan saudara perempuan Maher Algadri. Maher, yang merupakan salah satu pendiri Grup Kongsi Delapan atau Grup Kodel, dikenal sebagai salah satu teman terdekat Ketua Partai Gerindra Prabowo Subianto, yang kini menjabat menteri pertahanan. Kodel Group sendiri adalah kelompok bisnis yang didirikan dan dikendalikan oleh tokoh-tokoh terkenal di negara ini yang memiliki koneksi politik yang baik dengan partai-partai politik besar seperti Golkar dan Partai Nasdem Surya Paloh. Golkar, Nasdem, dan Gerindra adalah anggota koalisi Jokowi yang berkuasa.

Paman Nadiem, Zacky Anwar Makarim, adalah pensiunan jenderal. Zacky dikenal dekat dengan Jenderal (Purn) Wiranto, yang adalah mantan menteri koordinator politik, hukum & keamanan di bawah masa jabatan pertama Jokowi dan pendiri Partai Hanura. Zacky adalah teman sekelas mantan Komandan Jenderal Militer (purnawirawan) Endriartono Sutarto, Letnan Jenderal (purnawirawan) Djamari Chaniago, Mayjen (purnawirawan) Kivlan Zen, Letnan Jenderal (purnawirawan) Suaidi Marasabessy (Partai Demokrat), dan mantan Wakil Kepala Polisi Jenderal. Jenderal (Purn) Adang Daradjatun (PKS) di Akademi Militer (Akmil) kelas 1971.

Nadiem juga pendiri Gojek, di mana Pandu Patria Sjahrir menjabat sebagai komisaris. Pandu adalah keponakan Jenderal (Purn.) Luhut Binsar Pandjaitan, yang sekarang menjadi menteri koordinator maritim & investasi. Luhut secara luas diyakini sebagai tokoh paling berpengaruh di dalam Partai Golkar dan tangan kanan Presiden Jokowi.

Masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa Nadiem akan kehilangan pekerjaannya jika perombakan kabinet terjadi. Ada juga laporan bahwa Nadiem telah bergabung dengan partai yang berkuasa, PDIP, dan tampaknya Presiden menyukainya. (yosefardi.com)