DEPOK (eNBe Indonesia) – Indonesia melaporkan 1.942 infeksi baru pada Rabu (12 Agustus), tetapi pasien sembuh bertambah 2.088 orang, sementara 79 orang meninggal. Kasus aktif menurun 225 kasus, mengurangi tekanan dalam sistem rumah sakit. Tingkat pemulihan meningkat menjadi 65,7%, di atas rata-rata dunia.

Ibu kota Jakarta yang terpukul paling parah melaporkan tingkat pemulihan 64,3%, meningkat dari minggu lalu. Sedangkan Jawa Timur sebagai provinsi terbesar kedua mencatat angka pemulihan sebesar 72,9%, sedangkan pulau Bali sebesar 87%. Pemerintah harus lebih memperhatikan Kalimantan Selatan, tempat operasi pertambangan dan perkebunan besar, karena tingkat pemulihannya hanya 61%. Sumatera Utara, provinsi terpadat di Pulau Sumatera, juga perlu mendapat perhatian khusus karena angka pemulihannya masih sekitar 41%.

Kami sangat prihatin dengan ketidakmampuan negara untuk melakukan tes lebih dari 30.000 tes per hari seperti yang diminta oleh Presiden Joko ‘Jokowi’ Widodo meskipun kapasitas laboratorium nasional sudah jauh di atas angka tersebut. Lab GSI dari Indika Foundation dan jaringannya, misalnya, baru saja beroperasi secara komersial dengan kapasitas desain 5.000 tes per hari.

Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal Andhika Perkasa, Rabu, mengklaim pembangunan laboratorium PCR di 35 dari 68 RS TNI Angkatan Darat hampir selesai. Dia juga memerintahkan komandan militer regional untuk mempercepat pengembangan laboratorium PCR di 20 rumah sakit lain dalam beberapa minggu mendatang.

Sementara itu, Provinsi Sulawesi Selatan telah menambah satu Lab PCR kemarin, yang akan meningkatkan kapasitas pengujian di provinsi tersebut, yang saat ini berada di urutan keempat di belakang Jakarta, Jawa Timur, dan Jawa Tengah dalam total infeksi. Identifikasi pasien yang lebih cepat akan meningkatkan tingkat pemulihan di provinsi tersebut dari 69,8% saat ini.

Bagaimana dengan ekonomi?

Nah, pemulihan sebagian besar komoditas, kecuali batubara termal, akan mendukung perekonomian, termasuk kesinambungan fiskal di kuartal ketiga dan seterusnya. Ditambah dengan rupiah yang relatif lebih lemah (Rp14.777/USD), posisi APBN seharusnya lebih baik dibandingkan beberapa bulan lalu.

Industri manufaktur, yang menyumbang 20% ​​dari PDB, telah menunjukkan pemulihan yang stabil dalam tiga bulan terakhir. Indeks Manajer Pembelian (PMI) diperkirakan melampaui 50 pada kuartal ini. PMI bulan lalu adalah 46,9, meningkat secara signifikan dari 39,1 di bulan Juni. Pemulihan tersebut diharapkan akan tercermin pada data ekspor bulan Juli yang akan dirilis dalam beberapa hari mendatang.

Guna menghidupkan kembali UKM, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan rencana pemerintah untuk meluncurkan dua program baru. Pertama, bantuan tunai langsung sebesar Rp2,4 juta untuk 12 juta UKM dengan total anggaran Rp30 triliun (sekitar US$ 2 miliar). Kedua, pinjaman modal kerja Rp2 juta per UKM.

Industri pariwisata dalam negeri berangsur pulih. Bandara Internasional Ngurah Rai di Bali, misalnya, melaporkan 80.586 penumpang masuk bulan lalu, melonjak dari kurang dari 20.000 di bulan Juni. Sedangkan Bandara Internasional Lombok di Nusa Tenggara Barat mencatatkan 49.861 penumpang inbound, melonjak 188% dari 17.314 penumpang hanya di bulan Juni.

Pemerintah berencana untuk mempercepat pengeluaran atau belanja di paruh kedua, termasuk dana desa, yang seharusnya mendukung daerah pedesaan. Pada semester pertama, pemerintah hanya membelanjakan Rp1.000 triliun dari total anggaran (Rp2.700 triliun, termasuk untuk program Pemulihan Ekonomi Nasional), sedangkan dana desa hanya 27% yang telah diserap. Pengeluaran sisa (Rp1.700 triliun) adalah kunci untuk menghindari resesi ekonomi. (yosefardi.com)