Laporan Rovina Aleksandry

KUPANG (eNBe Indonesia) – Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat menginginkan dunia pendidikan di NTT bankit, maka pihaknya mulai merestorasi, memulihkan, mengembalikan esensi pendidikan di NTT, bukan hanya tahu (just know) tapi harus mengerti (understand).

Laiskodat menandaskan, seperti dikutip Pos Kupang (17/8), mengembalikan kebangkitan pendidikan di NTT hanya bisa dilakukan dengan cara berpikir secara ekstrem. “Kuncinya ada pada kepala daerah, memimpin dengan otak, hati, dan kekuatan,” ujarnya.

Seperti diketahui Pemprov NTT akan menerapkan diferensiasi kurikulum , diproyeksikan untuk pendidikan dasar dan menengah. Pendekatan ini diyakini dapat meningkatkan kualitas peserta didik, tidak hanya dari sisi mengerti secara konseptual, tetapi lebih pada pemahaman yang mendalam.

Desain baru tersebut akan mengkonkritkan diferensiasi pada penguatan tiga mata pelajaran yakni Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris (untuk pariwisata), dan Matematika (mengasah logika).

Laiskodat menegaskan dirinya tidak akan beristirahat sampai persoalan di NTT, khususnya pendidikan dan kemiskinan, bisa teratasi. “Pulau Sumba dan Timor itu menyumbang orang miskin dan bodoh di NTT. Jadi dua pulau ini diurus dengan baik. Paling miskin itu Sumba Tengah,” ujarnya.

Pasrah

Terkait pendidikan di NTT, terutama selama masa pandemi covid-19, Pemprov NTT tampak pasrah karena gagal merespon kebutuhan pendidikan saat ini. Pemprov NTT tidak agresif mendukung kegiatan sekolah online (virtual) akibat terbatasnya fasilitas internet dan handphone.

Di banyak tempat di NTT, guru-guru pun sering terkendala dengan laptop (sering error) akibatnya kegitan mengajar tidak bisa dilakukan. Kegiatan sekolah akhirnya menjadi beban orangtua.

Sementara itu kondisi lembaga pendidikan yang memaksakan para siswa dan guru melakukan proses belajar mengajar di gedung atau gubuk reyot menjadi tantangan terhadap gagasan merdeka belajar ala Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Anwar Makarim.

Kabar teranyar terkait kondisi demikian adalah gedung sekolah dasar inpres (SDI) Bitu, Lamba Leda, Manggarai Timur. Kondisi ini hanyalah salah satu dari sekian banyak kondisi sekolah di wilayah Provinsi NTT.

Di tengah kondisi seperti ini, gagasan merdeka belajar ala Nadiem ditantang secara signifikan. Sebab ketika Nadiem memikirkan tentang revolusi mental dan metode belajar mengajar, pelbagai sekolah di nusantara khususnya NTT masih berkutat dengan kerinduan akan gedung sekolah yang memadai.