by

YPF Flores Refleksikan Kemerdekaan RI Melalui Kemah Wisata Ekologi

Laporan Ubaldus Geli

RIUNG (eNBe Indonesia) – Begini cara keluarga besar Yayasan Puge Figo (YPF), Flores, merayakan HUT kemerdekaan RI tahun KE 75. Mereka merefleksikan spirit kemerdekaan di alam terbuka, sekaligus sebagai bentuk ajakan kepada semua pihak untuk kembali mencintai alam, karena alam memberi hidup.

Cara ini juga untuk mengingatkan kembali siapa saja, bahwa pandemi covid 19 yang mengglobal ini merupakan peringatan kepada manusia atas kerusakan ekologi yang kian parah. Alam mulai murka. Jika ekologi dimerdekakan, maka kehidupan manusia juga akan merdeka (sejahtera).

Dalam spirit itu, 15 karyawan YPF membawa keluarga masing-masing melakukan kegiatan ‘Kemah Wisata Ekologi” yang berlangsung selama tiga hari, dari 13 – 15 Agustus 2020 di ‘Wae Nepong Beach’ kawasan wisata Torong Padang, Riung Kabupaten Ngada.

Kemah wisata ekologi adalah kiat kecil YPF untuk kampanye cinta alam dan terus menanam pohon serta merawatnya. Ini karena YPF adalah sebuah yayasan yang bergerak dalam bidang ekologi yang fokus pada konservasi alam, reboisasi lahan kritis, pemberdayaan mayarakat dan literasi ekologi. Dengan semangat kemerdekaan, YPF membawa pesan kemerdekaan ekologi demi kebaikan manusia. Bagaimana kegiatan ini berlangsung?

Berikut laporannya

Menuju kawasan wisata Torong Padang, perjalanan tak sampai sejam, dari ibu kota Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada – menuju teluk Damu. Melintas di Mbarungkeli, melewati jalan aspal mulus di utara pulau Flores, berkelok di perbukitan Watu Zape, hingga Watu Mitong yang terkenal eksotik karena lengkungan jalan berkelok di lereng bukit bagai dipahat, sembari menikmati pulau kecil di Teluk Damu yang didekap permukaan laut yang tenang.

Tiba tikungan agak tajam setelah kampung Damu, kendaraan berhenti – tracking menuju ‘Wae Nepong Beach’ dimulai. Di situ dua papan petunjuk seperti sedang menanti pengunjung dan menunjuk ke arah mana perjalanan akan dituju. Seorang pemandu kawasan wisata ‘Torong Padang’ pun siap memandu perjalanan.

Papan petunjuk memberi gambaran tentang kawasan ini dengan tiga atraksi wisata, yakni: wisata tracking, wisata berburu adat, menyaksikan atraksi ‘Mbou’—Komodo cantik khas Riung, Ngada, hingga tiba di ‘Wae Nepong Beach’ dengan atraksi kemah wisata ekologi.

Kamis (13/8) sekitar Pkl.16.00 wita kaki-kaki besar dan kecil bergerak melewati lembah bukit dan lereng. Memasuki hamparan savana dan rimbunan pohon. Dalam waktu sekitar satu jam dan tiga puluh menit, kegiatan tracking tiba di kawasan agak datar. Matahari sudah terbenam begitu menjejakan kaki di ‘Wae Nepong Beach’. Perjalanan kira-kira 5 km jauh. Udara terasa hangat dan menyegarkan. Kemah, penerangan dan berbagai keperluan yang dimobilisasi lewat jalur laut dibereskan.

Kemah Wisata Ekologi juga diikuti pembina YPF Nao Remon, Ketua YPF Emanuel Djomba dan Sekretaris YPF Richard Hardisono. Dalam arahannya Pembina YPF, Nao Remon mengajak keluarga besar YPF untuk tetap semangat dalam kampanye ekologi melalui visi dan misi YPF. Kegiatan kemah selain untuk rekreasi dimaksudkan untuk membangun semangat dan persaudaraan dalam mengemban misi ekologi. Untuk anak-anak kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran dan pengetahuan berekologi.

Sementara Ketua YPF Emanuel Djomba mengajak agar apirit kemerdekaan RI harus tergambar dalam sikap dan tindakan mencinyai alam. Merawat ekologi yang merdeka dari penindasan manusia yang berperilaku merusak. Pandemi covid 19 harus menjadi pengingat bahwa satu hal dari banyak hal yang bermasalah adalah ekologi. “Saat ini kita harus berdamai dengan pencipta, sesama, alam dan dengam diri sendiri,” kata Emanuel.

Tujuan dari Kemah Wisata Ekologi YPF tergambar dalam keseluruhan rangkaian kegiatan, antara lain: membersihkan sampah di ‘Wae Nepong Beach’, kontes gadis sampah, kegiatan menanam pohon, dan menabur biji-bijian sepanjang perjalanan tracking.

Selain kegiatan tersebut, Keluarga YPF juga dipandu sejumlah permainan yang bertujuan merekatkan persaudaraan dan membangun tim kerja, melalui sesi team building yang dipandu salah seorang karyawan, Ary Pelut.

Kata Ary, kegiatan team building bertujuan membangun pribadi yang positif, tangguh, proaktif, kreatif, dan percaya diri. Membangun tim yang solid, komunikasi efektif, membangun strategi yang baik, kecepatan dan ketepatan serta kekompakan tim sehingga tercipta kebiasaan positif. Semua dirangkai dalam fun games.

Kontes Gadis Sampah

Salah satu kegiatan kreativitas untuk menumbuhkan kesadaran ekologis adalah ketika dua kelompok berkreasi dalam lomba merancang gaun untuk kontes gadis sampah dengan durasi waktu 5 menit.

Lalu dua gadis sampah dari dua kelompok memeragakan gerak lenggok di cake walk, yang tentu saja di atas hamparan pasir putih diring musik.

Kelompok yang dipimpin pembina YPF Nao Remon melalui tampilan gadis sampahnya menjelaskan, tema busana yang direncang dari sampah itu. Gadis sampah yang mengenakan busana dari kertas koran dan daun itu selain dilengkapi mahkota juga mengenakan masker.

Kata Nao Remon: “Ini gadis sampah kami. Dia harus dikengkapi masker karena sampah Masih berserakan dimana mana. Dan sekarang ini juga sedang pandemi covid.”

Kelompok kedua, yang dipimpin Ketua YPF Emanuel Djomba juga tak mau kalah. Gadis sampah mereka mengenakan gaun daur ulang yang dikerjakan dengan sangat cepat sebagaimana ultimatum pemandu kegiatan. Gaun dengam bahan dasar kertas koran, daun dan biji pohon juga dilengkapi mahkota dan kipas, namun tanpa masker.

Kata Emanuel Djomba: “Ini gadis sampah kami. Dia tidak pake masker. Karena, hal ini menjadi cita-cita kita bersama bahwa bumi ini harus bebas (merdeka) dari sampah.”

Kemah Wisata Ekologi YPF berakhir Sabtu (15/8), dan kembali dengan menelusuri jalur tracking yang
sama.

Comment

News Feed